Tidak ada kejelasan informasi atas rencana pembangunan Co-Working Space di SC. Minimnya koordinasi menjadi bentuk pengabaian kebutuhan UKM.
Lpmarena.com—Gedung Student Center (SC) yang berisi ruangan-ruangan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Organisasi Mahasiswa (Ormawa) kini telah direvitalisasi. Revitalisasi dilakukan pada tahun 2024 dengan mengubah 25 ruangan Ormawa menjadi 7 ruangan Co-Working Space yang terletak di lantai dua dan tiga.
Jauh sebelumnya, kabar revitalisasi hanya terdengar sebagai desas-desus tanpa ada sosialisasi resmi. Alya Nabillah, anggota UKM Sanggar Nuun menyatakan bahwa dirinya mendengar pembangunan Co-Working hanya fokus di lantai tiga. Bahkan, akan ada ruangan yang diubah menjadi kafe. Sementara selama prosesnya, pembangunan Co-Working Space lebih banyak dari apa yang dia dengar.
“Nggak tahu kok tiba-tiba ruangannya banyak banget yang diubah jadi Co-Working,” ungkapnya saat diwawancarai ARENA.
Sementara itu Athoillah Al-Hikam, Ketua UKM JQH Al-Mizan menuturkan bahwa di awal pembongkaran sekat ruangan dilakukan tiba-tiba tanpa adanya pemberitahuan. Sosialisasi juga baru diadakan menjelang inagurasi mahasiswa baru, setelah pembangunan dijalankan dan hampir selesai.
“Jujur, nggak ada sosialisasi atau pemberitahuan. Tiba-tiba aja ada pembongkaran sekat ruangan. Dan kemarin baru dengar sosialisasi resminya di forum waktu mau inagurasi,” paparnya.
Lebih jauh, Hikam menjelaskan bahwa kebijakan yang berdampak langsung pada ruang aktivitas mahasiswa seharusnya menjadi keputusan bersama, bukan hanya sepihak. Keterlibatan perencanaan fasilitas di SC bukan sekadar formalitas belaka, tetapi hak mahasiswa harus diperhatikan dan dipertimbangkan.
“Semisal SC mau direnovasi besar-besaran, ya terbuka. Kan sejauh ini yang tau hanya pengurus,” jelasnya.
Nuraini Ahmad, Bidang Kemahasiswaan, menyatakan bahwa konsep Co-Working Space telah ada sejak tahun 2020 saat pandemi berlangsung. Menurutnya, mahasiswa tidak lagi membutuhkan ruangan karena kegiatan banyak dilakukan dalam jaringan (daring). Dengan begitu, ia merasa bahwa konsep Co-Working Space ini lebih cocok untuk digunakan di era mahasiswa hari ini.
“Saya sudah bilang dari sekitar tahun 2020 bahwa banyak ruangan yang tidak terpakai, mungkin konsepnya sudah harus berubah. Sekitar tahun 2023 Pak Rozaki melirik konsep Co-Working Space,” jelasnya.
Melansir dari situs resmi UIN Sunan Kalijaga, Abdur Rozaki, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama menyatakan bahwa pembangunan Co-Working Space diharapkan bisa menjadi tempat berdiskusi, beraktivitas, berkolaborasi, dan berkegiatan bersama dengan nyaman.
Suara di Balik Pembangunan Co-Working
Namun, di balik masifnya pembangunan Co-Working Space, Ahmad Zidan, anggota UKM Kalimasada, memaparkan dalam setiap pembangunan yang dilakukan kampus mestinya tidak hanya mementingkan dari aspek pembangunan fisik saja. Kebutuhan UKM juga harus diperhatikan. Ia menceritakan bahwa pada tahun 2022 Kalimasada dijanjikan untuk diberi prasarana oleh kampus, namun sampai saat ini belum diberikan.
“Waktu itu dijanjiin sama Pak Rozaki tapi pas ditagih ternyata dananya dialihkan buat pembangunan SC. Kalau argumennya digunakan untuk bersama oke fair, tapi ketika pembangunan itu tidak sesuai kita merasa dikhianati dong,” katanya.
Selain itu, lanjut Zidan, Kalimasada juga membutuhkan ruang untuk latihan. Hal itu karena mereka harus melakukan latihan di ruangan belakang gedung Multi Purpose (MP). Masalahnya, seringkali mereka harus menghentikan kegiatannya apabila gedung MP digunakan.
“Tempat latihan kita kan di MP yah. Nah hari yang ga boleh dipake biasanya Sabtu Minggu. Sedangkan kita juga ngejar pentas. Tapi orang-orang latihan di SC fair aja kan ya? Kita juga pengen diperlakukan seperti itu,” tegasnya.
Hikam juga merasakan hal serupa. Ia mengaku bahwa Al-Mizan membutuhkan ruang yang lebih memadai untuk bisa menampung kegiatan mereka. Dengan anggota yang mencapai 450 orang, ia berharap supaya ruang yang lebih luas bisa dialokasikan untuk UKM.
“Ini kan Al-Mizan istilahnya yang berprogres lah, ga pasif. Ya kalo kita minta pun hal yang wajar lah, karena kita berkembang,” ujarnya
Senafas dengan itu, Alya merasa bahwa pembangunan Co-Working Space mengabaikan kebutuhan beberapa UKM aktif yang kurang terfasilitasi karena minimnya ketersediaan ruangan. Pasalnya, ruangan tersebut lebih didesain untuk ruangan berdiskusi saja, padahal UKM tidak hanya bergeliat dalam bidang akademik.
“Sebetulnya ini tuh kan Student Center buat orang-orang untuk berkegiatan di luar akademik. Daripada menciptakan Co-Working Space kenapa tidak memfasilitasi UKM yang ada disitu,” katanya.
Menanggapi hal itu, Nur menyampaikan bahwa permasalahan ruangan UKM memang harus dipikirkan. Namun, menurutnya hal tersebut merupakan tugas bidang kemahasiswaan, bukan hanya menjadi tanggung jawabnya.
“Ya selentingan saya juga berpikir gimana caranya. Eska, Mapalaska, Cepedi, Sanggar Nuun, dan yang lainnya kan punya dinamika. Itu tugas bidang kemahasiswaan, bukan cuma saya doang,” katanya.
Minimnya Keterbukaan Informasi
Pada akhirnya, kehadiran Co-Working di SC tidak sepenuhnya ditolak oleh mahasiswa. Namun, seharusnya proses pembangunan bisa dilakukan dengan transparan. Pasalnya, selama ini tidak ada sosialisasi terkait pembangunan dan penggunaan Co-Working Space.
Alya menyatakan bahwa dirinya belum mengetahui secara pasti bagaimana agar bisa menggunakan Co-Working Space. Mulanya ia mengetahui bahwa harus mengajukan surat jika ingin menggunakan Co-Working Space. Namun seiring berjalannya waktu, harus melakukan reservasi sebelum menggunakan Co-Working Space.
“Dulu itu sedengar ku kalo komunitas mau pake harus izin surat, kalo individu kayaknya selama itu kosong boleh dipake. Aku ga tau kalo sekarang harus ada reservasi barcode,” ungkapnya.
Hal itu juga dirasakan oleh Hikam, ia sering menemui temannya yang tidak mengetahui bagaimana cara menggunakan Co-Working Space. Pasalnya, selain tidak ada sosialisasi resmi secara tatap muka dengan melibatkan seluruh mahasiswa, informasi penggunaan Co-Working Space juga tidak disebarluaskan melalui sosial media milik kampus.
“Kan sejauh ini yang tau pengurus, bahkan pengurus pun tanya, ‘make ini gimana ya kam?’,” katanya.
Nur menjelaskan proses sosialisasi Co-Working Space adalah dengan membiarkan informasi menyebar secara natural. Di satu sisi, ia ingin ruang ini digunakan secara luas, tetapi di sisi lain juga mereka tidak siap menghadapi potensi tingginya antusiasme mahasiswa yang berdatangan.
“Nanti tiba-tiba digeruduk orang seribu ya kita kewalahan, nanti gak sesuai ekspektasi. Mereka natural itu menurut saya lebih oke. Soalnya kapasitas kami juga terbatas,” ujarnya.
Kemudian Nur menyebutkan informasi kepada ARENA mengenai Co-Working Space yang juga telah disampaikan oleh Wakil Rektor dalam beberapa kesempatan, termasuk melalui berita di situs resmi UIN. Meskipun informasi tersebut tidak terus terang mengarahkan mahasiswa untuk memanfaatkan fasilitas tersebut.
“Itu yang menyampaikan Pak WR III di beberapa kesempatan, seperti di Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) dan Rapat Kerja (Raker). Meskipun enggak secara langsung ‘silakan pakai’,” jelasnya.
Selain pembangunan Co-Working Space, Hikam menyampaikan bahwa akan ada pembangunan kantin di SC lantai satu. Menurutnya, idealnya di SC disediakan kantin layaknya gedung-gedung fakultas. Dengan adanya kantin diharapkan dapat menarik mahasiswa untuk nongkrong dan berkunjung ke SC.
“Jadi kayak mahasiswa tertarik buat nongkrong disini. Sejauh ini kan SC sepi, apalagi posisinya jauh. Gak ada yang tau,” katanya.
Berbeda dengan Hikam, Zidan menyatakan bahwa rencana pembangunan kantin harus mempertimbangkan keberadaan Pedagang Kaki Lima (PKL) yang ada di kampus. Menurutnya, yang terpenting jika dibangun kantin adalah kampus tidak mengeluarkan kebijakan yang merugikan PKL.
“Sebenarnya butuh kantin, yang penting jangan menggunakan regulasi yang merugikan satu sama lain. Kita juga harus memberdayakan PKL,” jelasnya.
Hikam menyatakan bahwa rencana pembangunan kantin diinisiasi oleh WR III. Rencana tersebut disampaikan pada saat inagurasi mahasiswa baru. Namun, ia tidak mengetahui kapan kantin tersebut akan dibangun.
“Di awal inagurasi Pak Rozaki bilang ‘saya tuh kadang sedih lihat mahasiswa uin yang kasusnya pesen doang nongkrong doang ga beli, numpang wifi, besok di sc bawah itu akan saya buatin kafe khusus anak mahasiswa uin’. Tapi aku gatau eksekusinya kapan,” katanya.
Saat ditemui ARENA, Rozaki menolak untuk diwawancarai dan tidak memberikan tanggapan apapun terkait revitalisasi gedung SC.
“Saya ga mau diwawancara. Saya di belakang layar aja,” ujarnya.
Reporter Khirza Ashrof, Ridwan Maulana | Redaktur Niswatin Hilma | Ilustrator Iqbal Farraz (Magang)