Home MEMOAR Menjadi Arena  (To Be)

Menjadi Arena  (To Be)

by lpm_arena

Oleh: Nurwafi Hamdan*

Di Arena atau siapapun kalau ingin total jangan hanya sekedar merasa memiliki (To Have), tetapi harus merasa atau bisa menjadi (To Be). Suatu nasehat mas Mun’im DZ kepada segenap crew Arena.

Lpmarena.com- Abang kita yang terkenal calm dan cool ini mengambil pemikiran  Erich Fromm  dari bukunya  To Have or To Be. Tentu saja dapat merasakan atau bisa  “To Be” kalau berproses di Arena tidak hanya sekedar ‘urip mampir ngombe’ alias sebentar (pakai banget), tetapi proses itu dilakukan minimal “enam semester”.

Saya sendiri, Nurwafi,  masuk di Arena segerombolan dengan Amirudin (Ty), Gus Nung (Adab), AS Burhan (Ty), Muhijab, Wasian (Ty), Solikin (Dakwah), Zaeni (Ty),  Ahmad Idzom/Sy (alm), Erlina (Ty), Novri (Sy).  Ketertarikan masuk Arena karena senangnya baca-baca apa saja khususon Majalah Tempo, Panji Masyarakat, Amanah, Harian Kompas, KR, SM dan lain-lain. 

Ketika Arena buka pendaftaran butuh reporter dan ilustrator peminatnya ternyata  sangat banyak. Ujian dilakukan melalui tes tertulis, wawancara dan praktek pembuatan laporan. Paling menarik ketika dapat soal  tugas lapangan buat liputan. 

Koordinator penguji liputan abang kita mas Lutfie Bisya. Abang kita yang asli Banyuwangi sangat disiplin dan tegas. Penampilannya selalu nyentrik bertopi ala Pak Tino Sidin (Pelukis) memberikan perintah dalam waktu 60 menit harus tersusun laporan hasil liputan dengan tema yang telah ditentukan. 

Saya sendiri pilih tema sosial dengan judul orang-orang pinggiran di Malioboro dan mewawancarai beberapa pengemis, anak jalanan,  PSK dan ‘bencong’ stasiun tugu. Deadline yang ditentukan 60 menit akhirnya tuntas walau masih ‘belepotan’ penyusunannya, maklum masih pakai ketik manual.  

Setelah diterima sebagai kru Arena diberi pembekalan tentang jurnalistik, seperti teknik dan praktek wawancara oleh Mas Mudzakir dan mbak Istifaiyah, teknik penulisan berita (mas Lutfie Bisya), pelayout an (Mas Mun’im DZ), Manajemen Usaha (Mas Nasih), Fotografi (mas Bambang S).

Kesebelas gerombolan angkatan saya ini ilustratornya dua orang si Solikin (Dakwah)  dan Ahmad Idzom (Syari’ah/alm) dan sisanya reporter semua. Pertama-tama menjadi kru Arena sangatlah mengasyikkan, banyak yang kita dapatkan, diawali dengan memiliki ID Card wartawan kampus, sehingga bisa kemana-mana dan bergengsi tentunya, juga setidaknya dapat makan gratis nasi padang. 

Momen penting selama di ARENA

Momen penting diawali dengan adanya kegiatan Harlah Arena. Penting karena kegiatan ini diramu berskala nasional. Langsung di komandani PU mas Imam Aziz. Kru baru dilibatkan secara total mensukseskan Harlah Arena. Saya sendiri dengan Solikin bertugas cari sponsor di Solo, Semarang sampai Kudus. Perusahaan-perusahaan besar  terutama perusahaan rokok kita masuki dengan proposal sponsorship. Hasilnya bagaimana? Luar biasa sambutannya, semua hanya mengucapkan terima kasih dan mohon maaf. 

Walaupun dengan pendanaan yang terbatas, kegiatan tetap disemarakkan berupa pertemuan aktivis pers tingkat nasional, seminar nasional, pameran dan pendidikan jurnalistik tingkat nasional. Narasumber tingkat nasional pun dihadirkan, ada STA, GM, Sidarta, Lukman Umar, Arif Budiman, Ariel Haryanto.

Harlah Arena juga ditandai dengan terbitnya Edisi Khusus yang di dalam terbitannya ada  kumpulan puisi “Antologi Puisi” para penyair kampus biru dan penyair Yogyakarta.  Yang lebih heboh lagi pada  edisi terbitan  khusus ini  karena tulisan Arif Budiman yang dilarang terbit pihak kampus, tetapi tetap diterbitkan dewan redaksi berupa gambar kecil Arif Budiman dan judulnya saja sedang materi naskah hanya sebuah blok hitam  tanda dengan tanda tanya besar.  

 Arena edisi harlah ini cukup berani menerbitkannya karena covernya berupa gambar gunungan wayang dan ada gambarnya Soeharto apa ya (agak lupa) yang cover ini karya illustrator Solikin. Harlah MBM (Majalah Bulanan Mahasiswa) Arena menjadikan Arena sebagai majalah yang disegani dan diperhitungkan sehingga RTLnya berupa terkonsolidasikannya jaringan Pers Mahasiswa/Kampus secara  nasional. Isu-isu nasional seperti kasus WKO, nipah, dan lain-lain menjadi perhatian serius.

Kegiatan peringatan Harlah ternyata secara internal Arena juga menjadi titik balik para senior terutama mas Imam Aziz, Bang Azkia, Mas Nasih, Mas Bambang, Mas Lutfie, Mas Mudzakir, Mas Mudiono Emka dan Mas Abu Bakar (diterima jadi wartawan Jawa Pos) pelan-pelan mulai meninggalkan Arena secara struktural.  Senior yang aktif secara struktural tinggal Mas Suaedi dan Mas Mun’im DZ. Akhirnya dibuka lagi pendaftaran crew Arena dan memunculkan generasinya Hairus Salim, Arif Hakim, Joko S, Ana F, Zaenudin, Muslih, Sastro Ngatawi, Miftahudin, Rusmiyati, Agus, Malikah S, M. Najib, dan Amar Ma’ruf.

Study Tour  kru Arena di Jakarta

Momen penting berikutnya yang perlu dicatat berupa kegiatan study tour ke Jakarta. Kalau sekarang kegiatan seperti tour ini akan melibatkan Biro Pariwisata, tetapi waktu itu cukup dibironi sendiri. Si  Wasian yang ke bagian kontak atau konfirmasi titik-titik lokasi yang akan dituju. Disepakati yang dituju, Harian Kompas, Kantor Berita Antara, Majalah Amanah, CSIS dan Wisata Dunia Fantasi (Dufan). 

Berangkat dari Yogyakarta dengan naik kereta api dan turun di Stasiun Gambir.  Ketika turun di Stasiun Gambir sambil menunggu  bus jemputan milik IAIN Ciputat untuk dibawa ke tempat penginapan di Wisma Sejahtera IAIN Ciputat,  terjadi peristiwa raibnya “seperangkat alat  badan” dalam satu tas milik Arif Hakim. Maklum semua crew ini benar-benar “wong ndeso” semua yang masih awam tentang Jakarta, kejamnya ibu tiri masih kejam ibu kota. Akhirnya crew Arena ramai-ramai menyumbangkan pakaiannya ke Si Arif Hakim. Ketika sampai di Wisma Sejahtera Arif saya antar ke mall di ciputat untuk beli pakaian. (Mungkin karena pengalaman ini Arif Hakim tidak berkenan menetap dan eksodus ke Jakarta). 

Di Harian Kompas diterima dengan sangat baik untuk diperlihatkan dapur Harian Kompas. Di Kantor berita Antara juga diterima sangat baik, bahkan ada salah satu alumnus IAIN Suka Yogyakarta yang bekerja di Antara. 

Tidak kalah penting ketika di Majalah Amanah. Jelas diterima sangat baik karena Pak Lukman  pendiri dan  pemiliknya alumnus Fak. Dakwah IAIN Suka Yogyakarta. Di majalah Amanah ini suasananya paling heboh karena diberikan “tausiyah” dr. Naek L Tobing pakar seksologi, penunggu gawang rubrik seksologi Majalah Amanah. Ceramah dr. Naek tidak  membosankan. Kehebohan terjadi  ketika ada forum tanya jawab karena justru pertanyaan muncul dari  crew perempuan Arena yang sampai menanyakan, “Apakah kalau perempuan mengulum sperma suaminya itu bisa menjadikan kuat dan awet muda?” tanya si fulanah crew Arena. 

Ketika di Kantor CSIS juga  diterima dengan baik, bahkan langsung diterima punggawa pentingnya, Doktor Daud Yoesuf. Di CSIS diceramahi panjang lebar mantan Mendikbud tersebut, termasuk soal NKK/BKK yang  sering diprotes mahasiswa hasil kebijakannya. Doktor Daud Yusuf  juga menunjukkan bahwa dirinya seorang muslim yang tulen, sehingga menyebutkan tentang ayat-ayat Al-Qur’an. Yang lebih penting mantan Mendikbud itu memberikan ceramah tentang birrul walidain, dengan menulis buku berjudul IBU. Semua yang hadir  dihadiahi buku tersebut. Ketika pulang meninggalkan CSIS juga diberikan beberapa buku terbitan OBOR.  

Study Tour di Jakarta diakhiri dengan berwisata di Dufan (Dunia Fantasi). Di Dufan jelas  sangat bergembira ria karena sebagai ‘wong ndeso’ belum pernah ke Dufan yang berisi aneka ragam permainan. Kegiatan studi tour di Jakarta dimasukkan juga sebagai laporan khusus diterbitkan Arena berikutnya.

Wisma ARENA

Demi kekompakan dan konsolidasi sesama crew ARENA diputuskan untuk mencari wisma sebagai tempat singgah/kos bersama. Dipilihlah tempat di belakang Gedung Wanita dekat Perpustakaan Islam. Cukup seru di Wisma Arena karena di tempat  itu sering diadakan diskusi, bahkan Ariel Haryanto pernah hadir untuk diskusi.  Wisma ini sering didatangi intel, baik intel kampus (Menwa) maupun intel rezim. Ketika di Wisma ini pernah terjadi keprihatinan karena sepeda motor Astrea milik A.S. Burhan hilang ketika parkir di bawah Masjid Jami’ IAIN.

Ideologi ARENA

Menjadi Arena itu ideologis. Kebebasan, merdeka, kritis, keadilan, kemanusiaan dan keberanian itu ciri ideologinya. Kalau di Arena sudah To Be dan bukan To Have lagi, maka apapun bentuknya ideologi itu sudah merasuk dan akan mewarnai dimanapun berada. Ketika khatam di Arena menjadi politisi maka tentu politisi yang berideologi tersebut. Menjadi kyai atau gus, insya Allah Kyai/Gus/Ulama yang berideologi To Be. Menjadi pengusaha, menjadi pegawai atau apapun menjadinya sudah pasti akan berideologi Arena (kritis, adil, berani, merdeka).

Setidaknya berproses di Arena (to be) kalaulah tidak menghasilkan sesuatu yang besar, minimal ideologi Arena sudah tertancap dalam lubuk hatinya. Sebuah pengalaman tentang ideologi itu ketika menjadi PNS anyaran/baru, karena waktu terjadi reformasi dan Mbah Soeharto sudah diturunkan, tetapi gambarnya masih  tetap di kantor lalu kita tanyakan mengapa gambar Mbah Harto belum  diturunkan. Dengan sikap saya yang kritis itu mengakibatkan dipanggil pimpinan dan ditakut-takuti dikeluarkan dari PNS. 

Hikmah lain menjadi Arena berupa ilmu usaha karena jabatan tertinggi selama di Arena menjabat PU (Pemimpin Usaha bukan Pemimpin Umum). Berbekal pengalaman mengelola usaha  (waktu di Arena dapat sponsorship dari Mas Agung depan Kampus IAIN melalui Mas Fauzi senior PMII (angkatan Mas Suaedi) ilmu ini kita terapkan ketika bergumul dengan kehidupan nyata di masyarakat.

Harlah itu tentang masa lalu. Berkumpul-kumpul pun tentu tentang masa lalu. Diri yang ada sekarang tidak bisa dilepaskan dari mana dan dimana pernah melakukan sesuatu di masa lalu. Sudah pernah berinteraksi di masa lalu pasti ada hal-hal yang pernah tergores, wajarlah untuk saling memaafkan diantara kita. 

SELAMAT BERHARLAH ARENA YANG KE-50 (SETENGAH ABAD), SUKSES, SUKSES DAN SUKSES.

*Asli Salatiga sekarang di Sragen. Di Arena 1987-1991 berawal dari reporter sampai Pemimpin Usaha;Fakultas Syariah jurusan Peradilan Agama. Sekarang nyangkul buruh negoro. Dulu aktif juga di PMII mulai rayon syariah ampe komisariat lain dan aktif di Senat Mahasiswa  | Foto Arsip Arena