Oleh: Abd. Rahman Mawazi*
Lpmarena.com- Setelah satu semester menjadi mahasiswa di IAIN Sunan Kalijaga, saya mulai memantapkan diri untuk menguatkan kemampuan non-akademik melalui organisasi intra kampus saja. Rasanya agak capek dan kurang modal jikalau berada di organisasi ekstra. Maka, ketika itu aku belajar menulis opini di koran melalui beberapa teman. Syukur alhamdulillah tulisan itu dimuat di Jawa Pos pada rubrik Prokon, yang memang khusus untuk mahasiswa. Menariknya, honor tulisannya menyamai 70 persen dari kiriman bulanku. Dari sinilah semangat untuk belajar jurnalistik menguat.
Pada rekrutmen di awal tahun ajaran baru, ku mantapkan diri untuk mendaftar di Arena, yang kala itu stand pendaftarannya di antara pepohonan di depan kantor pos Menwa. Proses berlanjut, dari 70-an pendaftar, kemudian tersaring sekitar 20-an. Dan secara seleksi alam pula, yang aktif hanyalah 10 lebih sedikit. Termasuk yang kurang aktif itu adalah saya. Saya katakan kurang aktif karena jarang numpang tidur di kantor. Sedangkan teman-teman yang begitu aktif, mereka telah menjadikan kantor Arena sebagai rumahnya.
Kembali ke soal jurnalistik. Ini adalah pengalaman yang menarik. Seingat saya, awal liputan ketika magang ialah reportase tentang lapangan di depan masjid. Di lapangan itu ada tulisan “Dilarang bermain bola”, tetapi setiap sore selalu ada saja mahasiswa yang bermain di sana. Ketika hendak menuliskan hasil reportase itu, aku pun mengalami kebingungan. Di pikiran telah tertanam doktrin bahwa berita bukanlah opini. Sedangkan kebiasaanku menuliskan opini. Selain itu, berita pun harus ditulis berimbang. Nah, celakanya, ada rasa takut untuk mewawancarai pejabat berwenang di kampus. Inilah yang membuat reportase yang tak kunjung selesai.
Deadline terbit Bulletin Slilit, sudah semakin dekat. Dan laporan itu tidak terselesaikan dengan baik. Beberapa naskah harus ku perbaiki. Akhirnya, laporan itu baru terbit di edisi berikutnya.
Ada juga kisah lain yang masih terekam dalam memoriku. Kala itu, kampus sedang bersiap menjadi Universitas Islam Negeri (UIN). Dalam tahun-tahun itu juga, ada beberapa kali kenaikan SPP yang membuat mahasiswa berdemo. Saya tidak ingat pasti kapan tepatnya. Namun, kala itu saya kebagian tugas untuk meliput demonstrasi yang digelar teman-teman mahasiswa di depan kantor rektorat. Saya mengambil inisiatif berada di dalam dengan harapan lebih aman dan lebih mudah memantau.
Braakk…..
Kaca pintu rektorat pecah. Serpihan kaca terpenka ke berbagai penjuru. Dan beberapa serpihan itu mendekatiku. Dalam hati aku bergumam, “Syukurlah tidak ada yang mengenaiku.” Sedangkan di bagian lain, ada petugas yang terluka karena serpihan kaca itu. Menurutku, tidak terlalu parah.
Penyelesaian liputan tidak hanya sampai di sini. Ketika itu saya juga kebagian untuk wawancara dengan Wakil Rektor 3 Bidang Kemahasiswaan. Saya lupa nama lengkap beliau. Ia bernama belakang Lubis. Beberapa kali temu janji selalu gagal. Padahal naik ke kantor rektorat itu membutuhkan upaya sendiri. Dan akhirnya wawancaraku gagal. Aku menyerah.
Semua pelajaran tentang reportase dan menulis berita dari dua pengalaman itu memberikan kesan tersendiri bagi. Dua kisah itu pula yang sering teringat karena telah menjadi titik awal perjalannya dalam dunia jurnalistik.
Menularkan Semangat
Beberapa pengetahuan dan pengalaman selama berproses di Slilit Arena itu telah menjadi bekal berharga. Apalagi, diskusi-diskusi di Arena selalu asyik. Saya selalu merasa bersemangat setiap kali ada tamu dari wartawan professional singgah ke Arena. Walau lebih banyak mendengar, rasanya setiap diskusi dan perbincangan berasa “daging” semua. Saya dapat pengetahuan tentang penulisan dan jurnalistik sekaligus.
Di suatu waktu, tidak lama setelah buku Sembilan Elemen Jurnalisme terbit edisi bahasa Indonesia, sang penerjemah Andreas Harsono bersambang ke Arena. Di situlah pemahaman tentang idealisme jurnalis diperkuat sebab tantangan bagi jurnalis bukan hanya dari pemerintahan, tetapi juga dari dunia industri. Itu diskusi berat. Aku hanya lebih banyak melongok saja.
Walhasil, pengetahuan dan pengalaman itu kemudian saya kembangkan ke organisasi mahasiswa kedaerahan. Setidaknya ada satu majalah yang berhasil ku terbitkan bersama dengan mahasiswa asal Bawean (Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Bawean Yogyakarta) dan satu buletin yang diterbitkan di Himpunan Mahasiswa Riau Sunan Kalijaga (HIMARISKA).
Sedihnya, ada suatu waktu rencana liputan yang waktunya berdekatan. Ketika itu, teman-teman di Arena mengajak liputan ke luar kota, aku lupa namanya dan daerah tujuannya. Sedangkan di sisi lain, juga berencana untuk melakukan liputan ke daerah.
Di sinilah dilema pernah muncul. Tetapi saya tidak merasa rugi, sebab gaya “Kancah Pemikiran Alternatif” itu juga mewarnai dua media kedaerahan tadi. Itu semua adalah efek dari menularnya semangat pemikiran alternatif yang kritis. Bahkan, dari menularkan semangat Arena, beberapa orang kemudian turut bergabung di Arena.
_____
Usai menyandang gelar sarjana, aku memilih pulang ke Batam. Incaran pekerjaan yang kuharapkan adalah menjadi wartawan atau jurnalis. Informasi itu telah ku kumpulkan melalui internet dan bahkan sudah ada lamaran yang kulayangkan ke beberapa media di Batam. Dan setelah penantian hampir setengah tahun, akhirnya aku bergabung di Harian Tribun Batam.
Menjadi jurnalis itu adalah pilihanku. Tentu saja, dunia wartawan profesional tidak sama dengan pers mahasiswa. Setidaknya, dengan bekal dari Arena, aku lebih mudah menyesuaikan diri, walaupun rasa canggung di awal liputan ke lapangan masih sama seperti liputan awalku di lapangan hijau sisi utara masjid IAIN itu. Rasa takut menjumpai pejabat juga masih muncul. Serupa sekali dengan masa awal aku mengenal jurnalistik di Arena itu. Setidaknya, Arena telah memupuk pemaham jurnalistikku dan telah menguatkan kemampuan dalam dunia penulisan.
Kini, telah 50 Tahun Arena mewarnai kancah pemikiran alternatif. Telah banyak pula yang lahir dan besar darinya. Semoga terus melahirkan kader pemikir alternatif. Dirgahayu ARENA.
*Alumni Arena | Foto Arsip Arena