Home MEMOAR Dialektika Kesaksian Melawan Amnesia

Dialektika Kesaksian Melawan Amnesia

by lpm_arena

Oleh: Abrari Alzael*

Lpmarena.com– Arena 1992, bukan sekedar nama dari sebuah UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) di Yogyakarta. Ia adalah miqat, tempat melabuhkan niat, terutama menyangkut ide, gagasan, dan pemberontakan atas realitas. Sebagian besar kru Arena saat itu, adalah SDM yang menolak tunduk dan menuntut tanggung jawab, terhadap Orde Baru. Selebihnya, kru yang hanya sekedar ingin tahu, menjadi bagian dari Arena, dan alam, menyeleksinya untuk betah, atau tidak betah.

Bagi yang betah, ia menikmati. Merasakan diri menjadi masyarakat tanpa kelas, dan anti kemapanan. Masa kuliah yang sejatinya, secara normal, 4 tahun, bagi kru Arena tidak selalu begitu. Karena mahasiswa yang kuliah di masa normal, mahasiswa hanya mendapatkan haknya saja, ijazah. Ia tidak mendapatkan nilai plus, sebagai mahasiswa yang memiliki wawasan kebangsaan dan religiusitas kecerdasannya dinilai tidak teruji sebagai warga republik yang peka sosial-intelektual.

Sebagai kru Arena saat itu, saya menjadi bagian yang tidak lulus tepat waktu (4 tahun). Saya memilih sebagai mahasiswa yang lulus pada waktu yang tepat (6,5 tahun). Saya selesai kuliah tak lama setelah Orde Baru tumbang (1998). Ini bukan dendam terhadap sejarah di mana Orde Baru berkontribusi terhadap pembredelan Majalah Arena–tempat saya bermetamorfosa, terutama menyangkut kebebasan, demokrasi, dan nalar-kritis. Namun, lulus pada derap dimana idealisme begitu bergemuruh, saat itu.


Setelah meninggalkan Jogja, meninggalkan kantor Arena, baru disadari, konstanta-keilmuan yang ditempa dari Fakultas Tarbiyah, tidak mendominasi di ruang keilmuan saya dari yang seharusnya menjadi pendidik; sebagai impact dari fabrikasi-institutif. Di institusi kehidupan, atmosfer dan semesta pikir ini didominasi jurnalistik, sastra, dan menulis. Maka di alam nyata, saya tetap menjadi jurnalis (Jawa Pos) sebagaimana kru di UKM ini, dulu. Saya memaknai hermeneutika  ini sebagai Arena-tul Mubarakah (selain barokah yang lain, tentu saja).

Kini, setelah lebih dari seperempat abad berlalu, ceritanya pasti berubah karena semuanya berubah di Tengah terminologi Arena yang tetap. Sebab, Arena adalah guidance, ingatan kolektif, untuk melawan lupa. Arena adalah cermin dengan banyak bayangan, kancah pemikiran alternatif sebagai logo dan tagline itu, mengadaptasi Descartes, atau Albert Camus, atau generasi mutakhir ; aku menulis maka aku ada, aku membaca maka aku ada, atau apapun itu. Poinnya, Arena adalah medan untuk berkumpul, menyebar, dan berproses, untuk menjadi, atau untuk tidak menjadi.

Di luar itu, Arena adalah etalase, serupa minimarket yang memiliki nilai lebih dari UKM yang lain. Bila UKM lain hanya bergelut pada disiplin yang ditapaki, Arena memuat semua itu. Bahkan, Jemaah Cinema Mahasiswa (JCM), UKM baru pada saat itu sebagian besar (untuk tidak menyebut seluruhnya), kru Arena lah yang mendirikannya. Maka, menjadi bagian dari Arena sejak masuk awal tentu ini kisah tersendiri. Namun, bila di Arena tidak mewarisi literasi, diskusi, dan bahkan tidak merepresentasi diri sebagai pribadi yang mumpuni, inilah yang disebut perkembangbiakan dalam asbak.

Kaitan dengan asbak, tempat puntung rokok, masih adakah? 

Sepatu laras serdadu, dulu saya pindahkan (untuk tidak menyebut mencuri) dari kantor menwa (resimen mahasiswa) IAIN (waktu itu), ke kantor Arena untuk dijadikan tempat sampah. Perbuatan saya ini butuh alasan, bukan hanya sekedar memindahkan barang dari satu tempat ke tempat yang lain. Tetapi pengambilan sepatu laras itu sebagai simbol perlawanan dan ketidaksukaan kepada rezim militer yang anti demokrasi. Sesimpel itu, bahwa segala tindak harus ber-base argument, begitu kata senior.

*Mantan Wapimred Majalah Arena 1992. Anggota Teater Eska 1993 dan JCM 1995. S2 psikologi UNTAG Surabaya kemudian S3 psikologi UM Malang, saat ini dosen psikologi Universitas Annuqayah Sumenep, Madura. | Foto Dokumentasi Pribadi