Home MEMOAR Arena, Rumah Kedua

Arena, Rumah Kedua

by lpm_arena

Oleh: Nur Budi Hariyanto*

Lpmarena.com– Saya masuk Arena pada tahun 1992. Satu-satunya Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang saya minati. Keinginan saat itu hanya dapat menulis, baik tulisan ilmiah maupun popular. Jika dapat menghasilkan karya tulis, sepertinya dapat menjadi orang yang meninggalkan jejak keilmuan.

Namun sayang, begitu masuk pengumuman sebagai salah satu calon kru Arena, majalah tersebut dibredel. Jadilah aktivitas diskusi, pelatihan jurnalistik, demonstrasi dan gerakan perlawanan terhadap kekuasaan menjadi rutinitas keseharian. Bahkan, hingga lepas dari Kampus Putih (dulu kampus IAIN didominasi warna putih).

Aktivitas di Arena, jelas lebih menyita waktu daripada proses perkuliahan. Padahal, ngapain coba? Ya, ngobrol saja.  Kadang, diselingi dengan rencana penerbitan. Rapat-rapat redaksi.  Rapat dimulai dari perencanaan, mencari dan mengusulkan isu-isu yang menarik. Hal itu, dilakukan berbarengan dengan rubrikasi yang akan ditampilkan. Jika disetujui, maka segera bikin outline pertanyaan dan penentuan narasumber yang akan dikejar untuk memberikan jawaban dan informasi  yang diperlukan. Hasil kerja selanjutnya, beberapa kali masih gagal untuk diterbitkan. 

Dalam kondisi masih dibredel, maka tetap belum bisa diterbitkan di majalah. Salah satu solusi yang dilakukan, menerbitkannya di bulletin SLiLiT. Dana yang diperlukan, berasal dari bantingan dan sumbangan. Jelas, ada iklan  di dalamnya. Terbitanya tanpa perijinan resmi kampus maupun kekuasaan.

Jadilah, perjuangan, aksi, dan pergerakan mahasiswa berkelindan dengan aktivitas penerbitan.  Jargonnya, aktivitas intelektual dan ilmiah tak bisa dipisahkan dengan perjuangan gerakan mahasiswa. Kajian ilmiah tak terpisah dengan kritisisme terhadap kebijakan kekuasaan dan advokasi masyarakat. Maka, di luar pertemuan-pertemuan mengenai aktivitas jurnalistik, disertai dengan pertemuan-pertemuan dengan aktivis gerakan, aksi demonstrasi maupun advokasi langsung di tengah masyarakat.    

Aktivitas ngobrol, yang kelihatannya hanya cengengesan  dan cewawakan itu, berisi mengenai berbagai hal yang secara substansial adalah isu-isu strategis kebijakan dan perilaku kekuasaan atau kajian ilmiah. Hanya, oleh teman-teman diramu dalam pembicaraan keseharian sambil guyon atau pemikiran yang out of the box. Bahasa yang digunakan, ya bahasa keseharian sambil cekakakan. Persepsinya banyak main-main saja. Namun, soal ngomong, diakui kelihaiannya. 

Berguguran di Tengah Perjuangan

Tak banyak tersisa dari setiap angkatan perekrutan calon kru baru.  Ketahanan dalam proses dan keseharian menjadi ujian untuk tetap bertahan. Aktif, setengah aktif, atau menghilang sama sekali. Bergantung masing-masing. Mau aktif diskusi sambil haha.. hihi.. tiap hari, atau menghilang sama sekali.

Di tengah ketidakpastian sebagai majalah berkala, – kala-kala terbit kala-kala tidak-,  maka ketahanan untuk berproses dan menjadikan Arena sebagai rumah kedua, tentu penuh dengan tantangan. Militansi, komitmen, dan kesetiaan terhadap perjuangan menjadi pegangan untuk terus berproses dengan kesediaan maupun dengan kegembiraan.

Sedari awal, komitmen untuk berproses menjadi calon kru Arena telah ditanyakan. Maka, jangan heran. Saat tes wawancara, salah satu pertanyaan yang muncul, apakah kamu sudah pacar? Pertanyaan ini pernah saya uji cobakan juga ke seorang calon kru baru saat perekrutan. Wajahnya begitu menegang, menahan kemarahan. Haha… Saat ini, orangnya sudah makmur. Terus mengembang ke samping dan menjadi pembesar kampus besar.  

Jika dipikir, apa coba hubunganya menjadi anggota UKM dengan punya pacar? Masak alasan komitmen waktu dan perhatian sampai diminta untuk mempertimbangkan soal kenikmatan membangun perasaan. Kejam! Haha…

Gara-gara hal seperti itulah, maka yang aktif jadi tidak berani menampakan kelakuan tersebut. Jika ada yang punya pun, berusaha menyembunyikan atau tidak terlalu menampakan secara terbuka. Apalagi, jika terjadi antar anggota. Jika ketahuan berduaan, langsung pura-pura nggak ada hubungan. 

Nah, karena terlalu banyak cekakakan dan cewawakan yang tak ada hubunganya dengan materi perkuliahan itulah, maka yang tahan cukup terbatas. Apalagi, jika keinginan awal hanya aktif di dunia jurnalistik dan nampang namanya di majalah. Perlahan, undur diri. 

Jika waktu senggang, entah di pertengahan semester atau libur tahunan, aktivitas di Arena tetap jalan. Bahkan, hampir nggak ada yang pulang kampung. Kecuali, pas libur lebaran saja. Arena adalah rumah keseharian. Jika  ingin membikin kopi atau teh, tinggal nyolokin water heater yang hampir karatan. Airnya, ambil dari wastafel di dalam ruangan. Warnanya, kuning kecoklatan.  Karat dan warnanya melekat erat di teko plastik tempat merebus air minum itu. 

Sore sampai malamnya, seringkali diisi dengan bermain kartu remi atau domino. Bermain 41, poker atau turf. Hukumannya, yang kalah harus jongkok. Dapat dibayangkan,  yang jongkok lama pasti pegal lututnya.

Pada setiap malam tahun baru, sehabis Maghrib atau Isya’ biasanya persiapan dengan membakar jagung. Selain itu, persiapan terompet yang dibeli di pinggir jalan. Tepat saat pergantian tahun baru, biasanya mahasiswa dan masyarakat bergabung berjalan-jalan di Jalan Raya Adisutjipto. 

Dahulu, untuk ke Jalan Raya Adisutjipto tersebut tinggal belok kiri dari jalan gerbang kampus yang menghadap ke timur. Tepat selebar tangga masjid yang langsung dapat diakses dari jalan. Di sebelah kiri arah pintu gerbang ada markas Resimen Mahasiswa (Menwa). Saat itu, Menwa seringkali menjadi bahan sarkasme atas militerisasi dan dwi fungsi ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) dalam kehidupan kenegaraan.

Cabut Jenggot Hingga Cethak-cethak 

Salah satu ingatan yang cukup membekas adalah kebiasaan beberapa teman-teman Arena saat itu. Perilaku yang menjadi ciri khas. Mudah diingat dan sering ditemui dalam keseharian.

Ada senior yang hampir tiap hari duduk di kursi ruang tamu Arena atau jongkok di selasar depan kantor menghadap ke taman. Entah sedang berimajinasi untuk membikin puisi atau menanti sang pujaan hati yang seringkali bermain. Yang pasti, dua koin seratusan rupiah selalu dalam genggaman. Seolah, permasalahan hidup dan negara selesai dengan kebiasaan cabut jenggot. Entah, di janggutnya ada jenggot atau tidak. 

Dengan rambut yang cenderung keriting, sosok ini begitu tenang dalam menghadapi permasalahan. Senyum selalu tersungging saat kemanjaan si manis dengan gigi sedikit gingsung menghampiri. 

Ada lagi, senior yang juga memiliki penggemar setia. Jika datang ke kantor redaksi, suara sepatunya selalu kedengaran. Cethak-cethak. Seperti terompah kayu yang sering digunakan di pesantren-pesantren. Makanya, komentar yang muncul, Si Cethak-cethak sudah datang. 

Sayangnya, yang dicari jarang sekali mau menemui. Sebaliknya, seringkali bersembunyi. Ngumpet.  Takut. Mau menolak, mungkin khawatir menyakiti hati. Mau menerima, memang nggak suka. Akhirnya, begitu pergi, tawa cekakakan yang meledak. Memang, kullu man alaiha fan. Seringkali diartikan, setiap orang memang memiliki fans, penggemar. Nah, penggemar ini bisa suka entah karena keseruan atau kesaruan dari senior ini. Sebab, senior ini memang terkenal dengan keseruan dan kesaruannya

Ada lagi yang sebenarnya membangun kasih sayang sesama kru Arena. Senior-junior.  Sosok ini memang cukup tampan. Wajar jika banyak penggemarnya. Hanya soal hati, kadangkala susah untuk membagi. Jika penggemar yang satu fakultas  datang, maka junior nya pura-pura tidak tahu dan diam diri di ruang belakang. Ketika di kost, sampai bersembunyi di belakang almari.

Dalam keseharian, tentu tidak selalu sehat terus. Ada seorang kru yang  terkena pusing-pusing dan mabuk tape. Saat berada di lapangan utara masjid, hampir pingsan. Selanjutnya, teman ini dibawa periksa ke dokter. Ketika ditanyakan terkena sakit apa, dokter menyebutnya sakit vertigo. 

Saat itu, istilah vertigo masih terasa asing dan langka. Ada teman yang mencari-cari tahu apa itu vertigo. Hasil temuanya menjadi bahan untuk meledek. Vertigo merujuk pada penyakit yang banyak ditemukan pada hewan ternak…

Sebenarnya, masih banyak kenangan dalam ingatan. Namun, cukup sekian untuk cerita kali ini. Salam semua untuk kawan-kawan, dim-dim…

*Pemimpin Umum MM Arena 1997-1998. Kini, aktif di Nahdlatul Aulia dan mengajarkan jalan mempersiapkan diri kembali ke asal mula penciptaan dan ke hadapan Sang Pencipta  | Foto Dokumentasi Pribadi