Home BERITA Diskusi 50 tahun Arena: Media Tertatih-tatih dan Pers Mahasiswa Bukan Humas Kampus

Diskusi 50 tahun Arena: Media Tertatih-tatih dan Pers Mahasiswa Bukan Humas Kampus

by lpm_arena

Lpmarena.com–Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Arena menggelar diskusi bertajuk “Pers Mahasiswa: Dulu, Kini, dan Nanti” pada Sabtu (15/02) di lantai 2 Gedung Convention Hall (CH) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Acara ini digelar dalam rangka memperingati ulang tahun LPM Arena yang ke-50 sejak berdirinya pada tahun 1975, juga sebagai upaya untuk menyadarkan generasi muda sekarang, terkhusus mahasiswa, tentang peran pers dalam menjaga kewarasan berpikir juga sebagai gerakan mahasiswa.

Masduki, Guru Besar Kajian Media dan Jurnalisme UII Yogyakarta, menjelaskan berbagai tantangan yang dihadapi oleh media saat ini. Ia menyoroti kesulitan media untuk eksis dalam menyajikan berita yang akurat dan bermutu di tengah-tengah banjir informasi. Menurutnya, informasi yang beredar di media sosial saat ini didasarkan pada algoritma sehingga berita yang dihasilkan tidak bermutu musabab sebuah berita pada akhirnya hanya mementingkan engagement yang berpatok pada klik, share, dan likes.

Senafas dengan Masduki, Januardi Husin, Ketua AJI Yogyakarta sekaligus sebagai penanggap, melihat tolak ukur kualitas berita di era digital sekarang ini hanya mementingkan atensi. Sebuah berita lebih dinilai dari seberapa banyak dilirik oleh pembaca daripada kedalaman dari berita itu sendiri. Kejadian tersebut menimpa media massa pasca pandemi yang pada waktu itu menghadapi problem bisnis dan industri. 

Perusahaan media massa, lanjutnya, harus memutar otak bagaimana untuk bertahan dalam kondisi krisis dunia. Dengan kondisi media massa yang tertatih-tatih saat ini, sehingga risikonya banyak efisiensi dilakukan yang sayangnya berimbas banyak dalam mempengaruhi kualitas berita.

Di lain sisi, menurutnya pemerintah tidak lagi menggunakan cara-cara kekerasan seperti pembredelan secara terbuka, atau ancaman yang ditujukan pada para petinggi media. Kondisi media saat ini dibatasi namun dengan cara yang halusi, melihat terdapat upaya-upaya rezim saat ini untuk memudarkan kepercayaan masyarakat terhadap produk-produk jurnalistik dengan narasi berita hoax, yang kemudian berdampak pada hak masyarakat untuk mendapatkan informasi bermutu menjadi sulit untuk tercapai..

“Kalau bicara berita itu pasti akan melalui skema-skema verifikasi kemudian melalui disiplin verifikasi dan konfirmasi yang ketat, tapi memang batas antara informasi dan berita hoaks itu memang semakin tipis hari ini,” ungkapnya.

Liku Pers Mahasiswa

Dalam konteks yang sedang terjadi pada pers mahasiswa, pria yang akrab disapa Juju tersebut melihat perguruan tinggi pun kurang memahami pentingnya pers sebagai salah satu pilar demokrasi dalam kampus. Itu berakibat pada kurangnya dukungan atas keberlangsungan pers mahasiswa sendiri.

Ia memberi contoh pada  yang terjadi pada kasus pembredelan pers mahasiswa yang terjadi di Stikosa-AWS Surabaya pada tahun 2023. Menurutnya hal tersebut adalah sebuah ironi. Kampus yang sepatutnya melahirkan wartawan, dan memiliki perspektif yang baik terhadap kebebasan pers justru melakukan upaya-upaya pemberantasan terhadap pers itu sendiri.

Aji Bintang Nusantara, penanggap yang lain, menambahkan bahwa terseok-seoknya wa bil khusus pers mahasiswa dalam aktivismenya adalah karena liberalisme pendidikan. Ia menengok setidaknya pertama, kampus semakin menjauhkan mahasiswa dengan kampusnya sendiri, misal dengan adanya program MBKM serta banyaknya kegiatan di luar kampus, dan kedua, biaya pendidikan yang kian melangit, yang pada akhirnya mau tidak mau mahasiswa dituntut untuk lulus cepat, berbeda dengan mahasiswa dulu yang dapat mengenyam pendidikan lebih dari empat tahun.

Selain itu, ia juga melihat pandemi begitu berdampak pada gerakan mahasiswa. Ia menceritakan dirinya sewaktu menghadiri forum yang mempertemukan ketua masing-masing LPM di PTKIN, bahwa di sana sewaktu hendak bikin gerakan bersama adalah sukar. Sedang ia melihat bahwa itu menjadi momen yang bagus untuk bersama menyuarakan masalah yang sedang terjadi.

“Nyatanya apa? Susah sekali untuk mengkonsolidasikan gerakan mahasiswa hari ini. Padahal mereka-mereka yang datang di situ adalah para pemimpin umum yang notabene harusnya lebih peka terhadap kondisi lokalnya masing-masing,” papar ketua Arena periode 2023-2024 tersebut.

Di tengah keadaan yang demikian gamang ditambah lemahnya perlindungan terhadap persma, Masduki melihat ada beberapa pers mahasiswa yang masih tetap berada di “jalan” yang sesuai—yang sewaktu media besar terjadi pembredelan, persma menjadi corong bagi gerakan—dan tidak melancungkan diri menjadi “humas kampus”.

Hal tersebut menjadi tantangan sekaligus harapan dari pers mahasiswa itu sendiri, yang dalam pemaparannya, ada upaya “pendisiplinan” terhadap pers mahasiswa di kampus-kampus, sehingga pers mahasiswa perlu menemukan juga menggunakan pola-pola baru dalam gerakannya.  

“Jadi sebenarnya itu kan dua ranah yang menyatu. Tidak ada pers mahasiswa kalau tidak ada gerakan mahasiswa. Sebaliknya begitu, tidak ada gerakan mahasiswa kalau tidak ada pers mahasiswa,” tegasnya.

Diskusi yang mengundang Hairus Salim, Masduki dan Titah AW sebagai narasumber serta Januardi Husin, Ach. Nurul Luthfi, juga Aji Bintang Nusantara, ini merupakan satu bagian acara milad LPM Arena selain pameran arsip, dan temu alumni Arena. Turut menampilkan pertunjukan musik dari Teater Eska, Sanggar Nuun, dan Selamat Sampai Tujuan.

Reporter Miftahul Khoir (magang) | Redaktur Selo Rasyd Suyudi