Home MEMOAR Menjelang 50 Tahun LPM ARENA: Bangun Tidur, Mengingat Ingatanku

Menjelang 50 Tahun LPM ARENA: Bangun Tidur, Mengingat Ingatanku

by lpm_arena

Oleh: Maskur Hasan*

Lpmarena.com– Awalnya tidak ingin menulis, meskipun panitia acara di WhatsApp Grup “Alumni Arena” meminta para alumni untuk menulis tentang Memoar 50 Tahun Lpm Arena. Dan memang tidak menulis hingga tulisan ini ditulis, dan hanya saya upload di FB saya.

Hanya saja ketika tadi bangun tidur, tiba-tiba ingin mencari majalah yang pernah saya dan teman-teman terbitkan dengan berbagai “drama” yang menurut saya, waktu itu, biasa saja. Namun, jika saya renungkan kembali, dan saat ini, saya kok berpikir ini keren. Nah tadi, renungan yang muncul adalah

“Kok dulu pernah begitu ya”
“Kok dulu tulisan saya bisa detail ya”
Kok dulu juga bisa investigasi ya”
“Kok meskipun situasi begitu, tetap semangat ya”
Dan berbagai macam gumaman saya sendiri.

Saat saya menulis di sore hari ini, saya sudah bongkar-bongkar rak buku yang berdebu. Mencari slempitan berbagai majalah, bolak-balik mencari sampul warna kuning yang ada orennya. Ingatan saya warna seperti itu. Dan di sampul tersebut, bayangan saya ada karikatur keren dari hasil lomba yang diadakan oleh teman-teman Arena tingkat DIY waktu itu. Memang sengaja membuat lomba untuk sampul dan hadiahnya cukup lumayan karena dapat dana riset. 

Setelah membongkar dua baris rak, ketemulah majalah yang saya bayangkan. Sampul warna kuning dengan karikatur yang cukup detail memberikan arti dalam isi majalah. Seperti biasa, langsung ambil gawai, lembar demi lembar saya potret. Sambil saya baca tipis-tipis, saya potret lagi. 

Ingatan itu langsung bisa membayangkan bagaimana proses membuat dan menerbitkan majalah tersebut. Dan saat ini saya baru sadar jika karya tersebut luar biasa. Waktu itu, tim redaktur sudah membicarakan berbagai isu ekspansi pasar di DIY. Membongkar korupsi, meskipun bukan korupsi uang tetapi korupsi bongkaran kayu bangunan IAIN yang hamper semua dari kayu jati. Dan di proses investigasi inilah kami mendapatkan terror, intimidasi, dan situasi ala-ala dulu lah ya.

Ada juga salah satu kru, yang saat melakukan investigasi di salah satu supermarket, dengan tujuan membandingkan harga ditangkap oleh satpam dan diinterogasi. Itu sedikit cerita proses penggalian data untuk menerbitkan majalah kuning tersebut, yang diberi judul “Gurita Kapital di Yogyakarta”. Dan judul ini tentu jauh sebelum George Yunus Adicondro membuat buku yang booming berjudul “Gurita Cikeas” (ini intermezzo) agar tidak dikira jiplak.

Gempa. Lanjut atau tidak?

Situasi yang membuat batin saya tertekan adalah saat sudah proses penulisan berita, kemudian gempa terjadi 2006. Harapan untuk menulis dengan tuntas dan menerbitkan majalah, seakan hanya angan-angan saja. Dalam pikiran saya, “Ya sudahlah, berarti majalah tidak terbit”. 

Namun, tidak selang lama, pikiran untuk menerbitkan itu muncul kembali dan itu lebih kuat dibanding menyerah. Hal ini dikarenakan dua periode sebelumnya tidak menerbitkan majalah. Belum lagi para senior seakan meremehkan tim redaksi dengan pertanyaan “Apa Arena sekarang sudah nggak menerbitkan majalah?” Dan jujur, itu yang membuat terngiang-ngiang untuk menjawab bahwa Arena masih eksis. Dan beritanya cukup berkualitas.

Akhirnya, saya menemui teman-teman door to door untuk bertanya dan diskusi agar tetap lanjut dalam menggarap majalah. Saya masih ingat, pagi-pagi saya ke kosan Pemimpin Redaksi, Addi. 

“Di, ayo bawa komputernya ke kos saya. Kita tetap lanjut menulis dan menerbitkan majalah.”

Tanpa panjang lebar, kami akhirnya membawa perangkat yang masih tersisa untuk dibawa ke kos saya. Kos yang berukuran 3×3 meter di Ori II, Papringan. Tepatnya pinggir Sungai Gajahwong, menjadi sesak. Dan saya bilang, “Nanti teman-teman yang menulis akan dikasih makan”. Kata-kata ‘dikasih makan’ ini yang semangat. Mengingat anak kosan, pun dalam situasi setelah gempa. 

Berminggu-minggu, kos saya menjadi kantor kecil Arena. Tidur kruntelan seperti ikan pindang. Ditemani komputer, print, meja, kursi, kertas berserakan, dan perangkat lainnya. Proses ini kita jalani hingga majalah terbit. Itupun masih ada masalah. Terkait isu akan digugat karena telah membuat berita bohong. Tidak cover both side dan lain sebagainya. 

Dan yang sedih, saat launching majalah, Bapak Pembina tidak hadir karena tidak setuju dengan beberapa tulisan. Namun saya tegaskan, bahwa apapun yang terjadi tetap kita hadapi. Dan dalam hati saya, sudah bisa terbit saja alhamdulillah, lah kok ora di dukung. 

Namun, sebenarnya saya tadi juga mencari salah satu bulletin “SLiLiT” edisi khusus, yang diterbitkan oleh Lpm Arena. Bulletin edisi khusus ini luar biasa sejarahnya. Edisi yang menurut saya tidak ada dimanapun kecuali di Arena. Bayangkan, 16 halaman tidak ada isinya, putih polos, dan hanya pengantar redaksi saja. Kira-kira pengantar redaksi itu isinya begini, meskipun tidak mirip.

“Meskipun dalam kondisi tertekan, diserang oleh gerombolan tak bertanggung jawab, bahkan ada yang bawa senjata tajam. Namun kami tetap menerbitkan sebuah karya dan inilah karya kami. Lembaran putih ini sebagai bukti dan saksi sejarah bahwa kami tetap ada dan tidak bisa ditekan siapapun.” 

Kedai Kopi Kebun Makna, 14 Feb 2025, Pukul 17.33 

*Pemimpin Umum periode 2005-2006 sekarang menjadi Founder Kebun Makna dan Direktur Yayasan Kebun Makna | Foto Dokumentasi Arena