Oleh Budi Oza*
Ngomong ora mutu, Demo ora tau melu, Kuliah ora tau mlebu. Wes mulih wae!
(Bicara tidak berkualitas, Demonstrasi tidak pernah ikut, kuliah tidak pernah masuk. Ya sudah, pulang saja!)
Lpmarena.com– Begitu bunyi stiker yang ditempel di kaca lemari etalase Arena di ruang tamu. Selain itu ada lagi, “Penjara Tak Membuat Kami Jera” dan banyak lagi stiker yang cukup menggambarkan macam apa komunitas yang mendiami ruang di bawah tangga masjid Kampus IAIN Sunan Kalijaga ini (Arena hingga 2001 mendiami ruang berdampingan dengan SMI/DEMA, diapit UKM Kordiska satu koridor ke arah tempat wudhu putra).
Tak kalah menarik, dan tentu atraktif berbau provokatif adalah asbak (persisnya tempat sampah!) di atas meja ruang tamu yang waw! terbuat dari Sepatu lars serdadu. Teaterikal? Tentu saja. Bagiku yang punya ketertarikan ke seni instalasi ruang saat itu dan teater, ini menarik!
Saya sebagai mahasiswa baru, sudah punya ketertarikan pada dunia seni teater. Makanya, agak gamang saat mau memilih antara aktif di UKM teater atau jurnalistik. Namun saya memutuskan untuk memilih jurnalistik. Nanti ada sekelumit cerita mengenai ini, sebagai pengantar saja: dulu waktu sekolah menengah atas di lingkungan Ponpes Kyai Syarifuddin Lumajang, saya bersama teman-teman sempat membuat pentas teatrikal di akhir tahun. Awalnya ada perasaan gamang, masak sih mau bikin pentas teater? Tetapi berkat dorongan ketua Majelis Pembina Santri (MPS) yaitu Allahuyarham Romoyai Adnan Syarif (KH. Adnan Syarif Lc, M.Pd), saya tak hanya dapat lampu hijau, tetapi juga berhasil memainkan satu seri pantomime, duet dengan teman sekamar.
Kembali ke Arena. Latar belakang pilihan untuk aktif bergiat di UKM Arena saja, itu karena ada dorongan untuk terus belajar jurnalistik—bukan sekedar bisa ‘nulis’. Dulu semasa sekolah menengah atas, jurnalistik ini kukira sejenis “pelajaran bikin jurnal akuntansi, hitung-hitungan angka, dll.” Saat saya jadi ketua OSIS, dengar ada usulan dari salah seorang wakil-ketua OSIS, Ning Luluk Masluchah, agar OSIS mengadakan training jurnalistik. Mula reaksi saya menampik. “Buat apaan? kita bikin training kayak gitu, kayak nggak ada kegiatan lain aja.” Akhir kata, sepupu yang juga jadi sekretaris-II OSIS, meyakinkan saya bahwa “training jurnalistik itu adalah kita belajar menulis berita, belajar reportase, belajar dunia wartawan, termasuk menulis karya tulis ilmiah ..bla..bla…” Oh, begitu boleh.
Tetapi tak mudah agar bisa bergabung di UKM Arena. Saya harus nunggu lama, sekira setahunan baru bisa daftar calon kru-baru. Sebelum itu, saya coba-coba meski segan untuk singgah dan main di kantornya bawah tangga masjid, apalagi sekedar tanya kapan ada rekrutmen anggota baru. Bagaimanapun, asbak sepatu serdadu dan ekosistem bawah tangga masjid itu atraktif bagiku, apalagi ada koran KOMPAS dan koran-koran lainnya, bisa baca gratis. Meski kadang harus antri. Kalau kelamaan baca, diteriaki “cepetan, aaakh.. kang! Rausah dihafal!”. Terbayang wajah-wajah pelahap koran-koran itu, kelak saya kenal mereka: Plengeh (Moh. Rifai), Gareng (Alm. Jauhar La’Aly), Alex (Gus Isfah Abidal Aziz), Achmad, Didin, Kang Suryana, Rieke, Cak Farhan (Gus Farhan Evendy), Iroel (Choirul Anwar) dan lainnya. Terasa kalau mau bergabung di “komunitas bawah tangga masjid” ini kudu kuat mental. Sebelum benar-benar aktif di Arena, begitulah cara saya memahami komunitas ini, meski agak segan dan kikuk awalnya.
Salah satu momen selama penantian open recruitment yang saya tunggu, adalah konon ada peluncuran edisi baru: “Menggantung Ekonomi Rakyat”. Akhirnya di launching juga, di Auditorium, malam-malam waktu itu. Oh iya, saya ngekost di sebuah pesantren kecil di Catur Tunggal, Sleman, searah jalannya menuju Pesantren Wahid Hasyim, Gaten. Tapi kostan ini lebih jauh lagi sekira 3-4 km dari Wahid Hasyim ke utara. Malah lebih dekat ke kampus AMIKOM dan UPN-“Veteran” Babarsari. Karena saya kira launching majalah baru ini moment penting, saya nyuri-nyuri keluar pondok dengan mengayuh sepeda ontel bergegas ke Auditorium. Di pesantren ini, ada kru Arena lainnya, Rozib Sulistyo dan Kang Jakfar yang jadi lurah pondok, saya sendiri belum jadi kru Arena.
Alamaak… Saya menjumpai mahasiswa-mahasiswa rambut gondrong celana jin belel dan robek-robek mendominasi malam itu. Di tengah acara itu, seorang Nahdliyin perform dengan gitarnya, rame! Saya sudah kenal Nahdliyin ini hanya sebatas nama. Profile eksentriknya pernah dikenalkan teman saya Anang AS, salah satu wakil ketua OSIS juga, saat dia bersekolah tinggi di Jakarta bertemu Nahdliyin, di zaman gelobang-gelombang demonstrasi mahasiswa 1998. Gelinya saat peluncuran edisi baru itu, ada suguhan singkong rebus, diwadahi keranjang sampah plastik! Diedar ke audien. “Tenang, keranjang ini sudah bersih. Ini baru kok!” itu apologia si pembawa “keranjang sampah” masih kuingat. Gila! Batinku. Lagi-lagi saya kudu melihatnya dari perspektif teatrikal, biar masuk di kepala. Kalau pakai perspektif santri, wah… jian!
Mau masuk Arena itu saya perlu atur posisi diri. Meski saya ada bekal keterampilan dan pengetahuan jurnalistik, melihat para peminat untuk apply posisi wartawan naga-naganya begitu bejibun. Saya perlu pakai pintu lain: Illustrator. Kemampuan membuat ilustrasi seperti kartun karikatur, sudah ada sejak mengelola mading (majalah dinding) semasa aktif di OSIS itu. Berbekal sedikit keterampilan ini, berharap tak banyak kompetitor.
Walhasil diterima. Tetapi, jadi ilustrator itu nggak hanya pintar dalam goresan dan tatahan gambar, tapi juga perlu mikir, peka, dan kritis juga tentunya jenaka. Saat wawancara, Faqih De Rida sebagai salah satu meja penguji memberi challenges yang lumayan berat: buat ilustrasi demonstrasi tuntutan Reformasi 98. Jadilah ilustrasi massa demonstran mahasiswa yang dibuat dengan grusa-grusu karena waktu yang diberikan sangat sempit. Hasilnya, lolos bisa ikut ke tahap “Upgrading” kru baru. Illustrator senior yang saya kagumi di Arena itu Alm. Mauladi “MoRenK” hasilnya keren-keren, termasuk saat itu saya kagum satu karyanya: cover salah satu buku terbitan LKiS “NU Vis a Vis Negara” yang diambil dari ornament selembar uang kertas.
Oh iya, ada ilustrasi Edisi “Jagad Mental Budaya Lokal” itu saya buat, dengan nama El-BAhz, nama “merek” yang kalah jaooh ketenarannya daripada MoRenk-lah! Belakangan saya baru tahu bahwa “MoRenk” adalah Paduan 3 nama orang, sudah terbentuk sejak masa-masa di bangku sekolah almarhum bersama dua sahabatnya, di kampungnya, Aceh. El-Bahz adalah nama ilustrator di edisi-edisi mading MA. Miftahul Ulum, Lumajang, ala-ala nama illustrator lainnya seperti Mr. Pecut di Jawa Pos, Om Pasikom di KOMPAS, dan lainnya. Ilustrasinya biar kontekstual dengan “Jagad Mental” saya gambar bumi terbelah di atas piring kertas fast-food diapit sendok-garpu, ada seorang “modern” terjerembab di dasar celahnya berteriak minta tolong temannya yang masih selamat.

Teror Jumat,18 Agustus 2000
Boleh dikata, Jumat, 18 Agustus 2000 itu adalah puncak teror terhadap kebebasan pers mahasiswa pasca Reformasi 1998 yang antara lain mengusung tuntutan kebebasan pers, kembalikan tentara ke barak (hapus Dwi-fungsi ABRI), mengguar di ruang-ruang publik dan isi kepala yang dibakar sikap kritis atas kekuasaan. Arena sebagai pers mahasiswa liputannya kuat dengan sentuhan advokasi, apalagi jika mendengar pengalaman liputan terdahulu dari para senior tentang WKO, atau kasus konflik agraria lainnya. Proximity kasus perampasan tanah yang hadir di zaman kepengurusan kami salah satunya adalah kasus Tegal Buret. Pers mahasiswa berkolaborasi dengan elemen-elemen gerakan aktivis lainnya dalam mendekati dan meliput kasus semacam ini. Kelak kemudian, teror dan pemukulan terhadap aktivis persma dan demonstran terjadi sejak tahun 2000 itu.
Selepas turun jum’atan tiba-tiba kantor Arena dikerumuni massa tidak jelas. Mereka berpakaian ala-ala FPI dan sebagian besar mengenakan atribut berkedok Islam. Beberapa gelintir malah wagu mengenakan baju koko, tampak baju-baju yang dikenakan baru keluar dari toko. Orang-orang tidak jelas dalam kerumunan itu seolah hanya bumbu eskalasi saja. Salah seorang bertopi memanggil-manggil nama Gareng (Alm. Gus Jauhar La’aly), seolah dia kenal betul PU Arena ini, dalihnya dia ingin minta klarifikasi terbitan “Petani Menggugat Takdir”.
Saya heran, ada apa sih dengan edisi itu? Saya kira itu sekedar dalih mempersekusi Arena. Oh, terdengar juga dari riuh rendahnya massa yang mengepung itu tidak terima dengan judul edisi majalah Arena tsb. Nahasnya, kami baru dilantik jadi pengurus, Gareng sebagai PU dan pengurus sebelumnya tidak ada. Nun, di situasi yang lain, pemerintah Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tengah digoyang mau dilengserkan.
Mereka menuduh kami sebagai atheis, takdir tuhan digugat kok digugat, perilaku tidak Islami, bahkan yang menyedihkan kami dituduh komunis, PRD, dll yang menjurus kearah itu. “Halal darahnya!”. Begitu, teriakan di antara mereka.
Kebetulan hari jumat itu, saya sebagai salah satu panitia OSPEK ‘2000. Merasa pakai kaos OSPEK 2000 tidak aman, saya pergi ke Sapen melalui pintu belakang Fakultas Syariah untuk pinjam tukar baju dengan teman sealmamater di Ponpes Kyai Syarifuddin. Sebelum belok di koridor SEMA Fak. Syariah saya bertemu dosen Fak. Adab, Kang Badrun (dosen Badrun Alaina punya kedekatan dengan Arena, rata-rata teman panggil dia “kang”), “Pye ini kang?” dia tak banyak beri jawaban terlihat kaget dengan kerumunan massa begitu banyak. Sementara itu sebelumnya, Masdo’ (Fajar Widodo) sudah terkena tendangan salvo di perutnya gegara pakai kaos P3Y yang dikenakan bergambar Bintang Merah miring mirip bintang Vietnam. Akhirnya, saya berhasil ganti baju, tetapi tetap sarungan.
Ketika saya turun dari masjid itulah, kantor Arena diobrak-abrik ruangannya. Kaca etalase penuh stiker ‘perlawanan’ jadi sasaran. Salah seorang kru, mahasiswa asal Madiun saya saksikan kena bogem, karena kedapatan spanduk bertulis “Madiun Bangkit” saat persekusi itu. Padahal spanduk itu adalah perkap stand komunitas mahasiswa Madiun yang kebetulan dititipkan di kantor Arena. Tak hanya komunitas mahasiswa Madiun, komunitas mahasiswa lain seperti dari Cilacap juga menitipkan perangkat daerahnya. Maklum saat itu bertepatan gelaran OSPEK mahasiswa baru, tentu organisasi mahasiswa kedaerahan perlu mendapatkan anggota baru pula dengan buka stand.
Mengenai tulisan “Madiun Bangkit” itu sekedar slogan daerah, atau tak ubahnya tagline kebanggan daerah seperti “Tegar Beriman.” Daerah asalku menggunakan slogan “Atib Berseri” kepanjangan Aman, Tertib, Bersih, serta Rapi. Perkara seperti itu dibesar-besarkan oleh massa terror ini. Amplifikasi serangan Arena ini makin menjadi, ketika di Gedung Wanitatama sedang berlangsung kongres Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). Massa penyerang lihai menggunakan momentum ini, semakin kuat terror mental apalagi dengan tuduhan-tuduhan di atas. Salah seorang anggota laskar anak buah Jakfar Umar Tholib, justru sempat menghalangi massa ketika merangsek masuk sambil teriak, “Bakar!, bakar!”. Dia bilang, jangan seperti itu, Islam tidak mengajarkan begitu. Himbauannya cenderung tidak digubris. Lalu massa jadi surut mundur ke halaman masjid depan Menwa. Tetapi selepas itu, mereka merangsek lagi. Kelak Ketika saya gawe di isu CVE, baru paham bahwa kongres MMI yang melibatkan semua elemen islam garis keras ini dijadikan momentum untuk “Nabok nyilih tangan” ke kampus IAIN dan wabil khusus aktivisnya.
Hal menjadi memori tak terlupa, saat massa teror ini salah sasaran memukul secara massal salah seorang aktivis Korp Dakwah IAIN Sunan Kalijaga (KORDISKA), sdr Agus. Ada benang merah. Agus yang berdiri di depan pintu kantor terkesan menghalangi massa penyerang, apalagi ia mengenakan kaos “Interfaith” (logo semua agama & kepercayaan) karuan ia jadi sasaran amukan sampai keseret di depan tempat wudhu putra. Sekonyong-konyong seorang anggota Menwa melerai sambil mengacungkan dua jari ke udara berteriak, “Satu komando…! satu komando!” dengan cara menjepit Agus, oknum anggota Menwa ini menyelamatkan. Agus ditolong ke UKM KSR PMI.
Loh, kok dia teriak satu komando? Jauh sebelum kejadian, komandan Menwa pernah tiba-tiba mau pinjam saluran pesawat telepon kantor Arena (Arena salah satu UKM yang dapat fasilitas line-telepon). Teman-teman membiarkan itu, dan saya menyaksikan dia menelepon seorang perempuan (sesama anggota Menwa), terdengar dari suaranya, ngobrol berlama-lama: ngalor-ngidul tidak jelas. Seolah hanya ingin memastikan line-saluran telepon apakah bisa melakukan panggilan keluar atau tidak. Waktu itu saluran telepon ARENA sudah tidak bisa lagi melakukan panggilan keluar, hanya terbatas ke lingkungan kampus antar UKM dan Rektorat.
Pagi buta, selepas subuh hari Jumat itu, terdengar ledakan keras di sisi timur kampus sepertinya di lahan parkir sebelah lapangan tenis. Kok ada yang bakar petasan di pagi buta sunyi begini, batinku. Orang yang paham analisa kejadian, mungkin terpikir itu bagian dari kode penyerangan. Malam sebelumnya sudah ada orang-orang mondar mandir nggak jelas di depan kantor Arena. Ismahfudi dari ruang desktop Arena memerintahkan agar pintu ditutup dikunci. Ini tak biasanya pintu ARENA ditutup dikunci lagi.
Jangan dilupakan, Arena itu bukan sekedar UKM, tetapi sudah jadi komunitas. Pernah ada orang bolak-balik kadang main ke Arena sampai suatu ketika dia duduk di depan desktop CPU Arena. Kedapatan buka-buka folder dan file, buru-buru ia backspace keluar dari folder-folder itu. Bahkan siapa yang memiliki kedekatan, apalagi termasuk ‘kolegas’ tadi, boleh nitip file skripsi atau numpang ngetik skripsi di luar jam aktivitas redaksi (biasanya malam). Hal biasa, yang dianggap biasa di ekosistem Arena. Sikap bebas dan “ora tau sujono” mungkin habitus Arena yang membuat orang lain blas-blus masuk ke kantor Arena—termasuk komandan menwa tadi!
Sekembali bertukar ganti baju ke teman Sapen itu, saya sudah ikut berbaur dengan massa penyerang nongkrong di selasar Fak Adab. Sebagian mereka duduk di tangga masjid, sebagian menunggu di sekitar jip biru open cap “Bima Sena” yang diparkir depan markas Menwa. Saya dengar semua cacian, makian, gunjingan, tuduhan, perundungan dan bagaimana mereka mengkonstruksi perilaku mahasiswa IAIN terutama aktivis dan persma Arena yang tidak adil & tidak cover both side dalam riuh-rendah obrolan mereka. Kejam!
Sejurus kemudian, saat itulah datang lelaki menenteng disket (cakram karbon penyimpanan data berbentuk persegi kotak tipis) warna merah jambu datang memasuki kembali kantor Arena. Rupanya Robert Sukacita (Alm. Robith Marfu’) anggota UKM JCM yang ada di dalam kantor ARENA diinterogasi mengenai data dalam CPU. Terang soal isi CPU Robert tidak banyak tahu, karuan dia tidak bisa memberi tahu banyak. Disket yang tak seberapa kapasitas daya memorinya itu jelas tidak muat menampung data meng-copy data seluruh isi CPU Arena. CPU ini kalau boleh berandai, seperti hutan belantara atau kota metropole yang penuh sesak dengan berbagai data dan folder.
Walah…!, benar akhirnya saya lihat CPU itu digondol dibawa keluar oleh massa penyerang ini. Selepas merampas CPU, massa ini ditarik keluar—estimasi jumlah mereka sekira lebih dari 200 an orang. Meski massa penggedornya tidak lebih dari 100an. Saya baru menyadari ternyata semua yang duduk-duduk di depan tangga masjid, selasar Fak Adab, depan Menwa, apalagi yang di depan DEMA/ARENA adalah mereka semua. Ketika pergi pun mereka sempat beri ancaman akan kembali lagi jika Arena tidak ditutup. CPU itu tidak pernah dikembalikan, berdampak di kepengurusan kami (PU- Suraji/Pemred-Budi Oza); Edisi Jagad Mental Budaya Lokal terancam hampir tak terbit.
lanjut bagian 2