Home CATATAN KAKI Merekam Malam Kelabu di Malioboro: Tuntutan Rakyat Dibalas Dengan Represi Aparat dan Ormas

Merekam Malam Kelabu di Malioboro: Tuntutan Rakyat Dibalas Dengan Represi Aparat dan Ormas

by lpm_arena

*Oleh Bahtiar Yusuf

Marhaban Ya Ramadhan, Marhaban Ya melawan. Assalamualaikum Neo Orba. Welcome back! Dwifungsi ABRI!.

Ibu Pertiwi berdiri dengan adanya dialog dan perlawanan kepada penjajah, bukan hantaman represif ABRI kepada rakyat. Aku tak sudi jika nanti, mau baca buku saja harus sembunyi-sembunyi lagi. Hedeeh.

Lewat pukul enam selepas maghrib, aku mempersiapkan perlengkapan yang perlu dibawa untuk meliput aksi “Tolak RUU TNI” yang dilaksanakan pada Kamis (20/03) di depan gedung DPRD Yogyakarta. Kamera hape, buku catatan, kartu pers, serta tak lupa segumpal keberanian agar bisa berlama-lama di tengah kerumunan massa aksi untuk melihat, dan merasakan langsung bagaimana perjuangan rakyat yang selama ini terus dihantui oleh kekerasan aparat. Tak lupa mengabadikan perlawanan mereka kepada para aparat represif yang membabi-buta. 

Setidaknya, hal itu menjadi bagian dari perjuangan bagiku.

Tetap Langgeng Di Depan Gedung DPRD

Sesampainya di sana, sekitar jam 19.00 WIB di depan Gedung DPRD DIY, kulihat banyak massa aksi yang masih berkumpul, sekitar 50 orang lebih. Ada yang duduk di bawah patung Jenderal Soedirman, cangkrukan di aspal sembari menyanyikan lagu-lagu yang liriknya ditujukan untuk mengutuk penguasa yang dzolim, dan ada yang mengekspresikan kesenian dengan mencoret dan menggambar sketsa-sketsa di sekitaran tembok gedung DPRD dan aspal. 

Tak lama dari itu, koordinator aksi menghimbau agar para massa duduk  melingkar di sekitaran aspal, depan gedung DPRD DIY. Mereka melanjutkan aksi itu dengan beberapa pementasan; ada yang berpuisi, menyanyikan lagu sambil gitaran, orasi; ada juga yang mendirikan tenda di pekarangan taman, di bawah patung Jenderal Soedirman. 

Saat ku tanya, mereka menyatakan akan bertahan dan menginap sampai pagi di depan area gedung DPRD. Mereka, aliansi masyarakat sipil dan mahasiswa dari berbagai kampus di Jogja. “Kami niatnya sampai pagi mas di sini, nginep, itu juga udah ada yang mendirikan tenda di sana,” ujar salah seorang peserta aksi yang tidak mau disebutkan namanya.

Aksi-aksi yang ditampilkan para demonstran merupakan simbol perlawanan lewat jalur nyeni yang asik untuk dinikmati. Sangat tentrem lan gayeng. Terlebih, sangat realis dan mudah dipahami untuk membaca kondisi zaman saat ini. 

Selang beberapa saat kemudian, gerombolan gerobak pedagang kaki lima (PKL) berdatangan untuk menemani hangatnya suasana aksi pada malam itu. Ya, menghangatkan perut-perut yang sudah keroncongan. Soalnya, perutku sudah mulai dangdutan.

Kata ibu-bapak PKL itu, dagangan mereka itu gratis, dari rakyat, untuk rakyat. Aku pun turut menggerombol di antara gerobak-gerobak mereka.  Ada penjual sate, wedang ronde, serta penjual es keliling. Hampir tak satupun dari dagangan PKL itu ku lewatkan.

 Aku merasakan betul hangatnya suasana malam, meskipun masih dipantau oleh beberapa aparat, hal ini tak dirisaukan, orang juga lagi kumpul gayeng. Tampak senyum mesra ku lihat pada raut wajah pedagang. Terkhusus, malam ini, mereka tak perlu pusing-pusing harus survival kemana lagi agar dagangan mereka laris-manis. Ada rakyat yang saling bahu-membahu mengulurkan tangan. Di depan gedung rakyat pula. Duuh, romantisnya!

Kepungan Aparat Kepolisian

Sekitar pukul 22.50 WIB, aparat polisi mulai mengelilingi barisan massa aksi yang berada di halaman Gedung DPRD DIY. Jumlah massa aksi yang tadinya hanya 50, saat itu sudah mencapai ratusan dan memenuhi halaman. Menghadapi massa ratusan orang, mobil-mobil baja kepolisian sudah disiapkan di halaman depan, samping, dan belakang gedung. Aparat polisi pun telah siap dengan sepaket tameng dan pentungan.

Suasana yang tadi hangat, tiba-tiba berubah menjadi mencekam. Aparat mulai berjalan mendekat, mobil baja pun perlahan dijalankan. Para demonstran dipukul mundur dengan kepungan para aparat hingga di depan pintu gerbang DPRD DIY.

Pikirku sudah tidak karuan, apakah setelah ini halaman Gedung DPRD akan menjadi arena salam olahraga, layaknya para geng kota yang suka adu fisik? Pun toh, kalau mau dibandingkan dengan geng kota juga tidak seimbang. Mereka memakai peralatan lengkap, sedang massa aksi hanya bermodalkan tekad dan hati nurani yang tujuannya memperbaiki negeri. Bukan malah pukul sana-pukul sini. Pakai alat lagi!

Aku merasakan keadaan yang begitu mencekam. Apakah nanti, bakal ada dwifungsi militer yang bertentangan dengan semangat reformasi 1998?  Apakah nanti, semua sektor pekerjaan bakal dikuasai loreng hijau? Atau, apakah nanti pelanggaran HAM tidak bisa disuarakan lagi karena banyak dari mereka yang menjadi dalang? 

Aparat keamanan mulai bergegas mendesak para demonstran

Mediasi Hingga Kepungan Dari Ormas

Dalam rentang pukul 23.30 sampai 24.00 WIB, massa aksi melakukan mediasi dengan pihak polisi. Wakil Kepala Polda DIY, Adi Vivid Agustiadi Bachtiar, meminta agar massa aksi untuk membubarkan diri. 

Namun, salah seorang dari pihak massa aksi menyatakan, jika ada sekelompok ormas dan preman yang sudah mulai berjaga di sekitaran depan gedung DPRD. Mereka akan membubarkan diri jika ormas membubarkan diri terlebih dahulu. Sekitar beberapa menit mediasi, disepakati oleh pihak kepolisian. “Kita memastikan nih, masa aksi bisa aman gak pulangnya? Ada premanisme di sini,” ujar beberapa orang dari massa aksi saat mediasi dengan polisi.

Massa aksi melakukan mediasi dengan aparat kepolisian untuk mengantisipasi ormas

Dalam sebuah video yang ku rekam, pihak polisi menyarankan massa aksi untuk menyelidiki ormas-ormas yang sudah bersiaga. Agar nanti dibubarkan oleh mereka. Saat aku coba mengecek, aku melihat beberapa orang yang menggunakan kaos oblong dan celana pendek sudah mulai berjaga di depan pagar Gedung DPRD, yang menurut beberapa peserta aksi diduga ormas.

“Silahkan cari, nanti begitu tahu ormas siapa, kita yang akan membubarkan, saya akan bubarkan, oke. Cari tahu dulu siapa ormasnya, supaya kami bisa menjamin kalian pulang dengan aman,” saran Vivid saat melakukan mediasi dengan massa aksi.

Memperjuangkan hak-hak rakyat memang susah betul di Negeri Konoha ini. Di area Gedung DPRD direpresi aparat, di luar gedung sudah ditunggu temannya aparat, eh, organisasi masyarakat. Belum lagi massa aksi yang harus mencari sendiri para ormas itu. Ada saja cobaan menjadi baik di negeri sendiri. 

Bentrok Dengan Aparat Keamanan 

Namun, tak lama kemudian, berbalik dengan kesepakatan itu. Bayanganku tentang halaman Gedung DPRD yang akan menjadi arena salam olahraga benar-benar terjadi. 

Aparat kepolisian tiba-tiba mendorong mundur para demonstran hingga keluar pagar gedung. Ada yang berlari kesana-kemari mencari tempat aman agar tidak dipukul aparat, ada juga yang perlahan mundur sambil mengumpat-umpat. Padahal, jelas, masih banyak preman berkedok ormas yang mengepung di sekitar gedung. Keselamatan massa aksi tak bisa digantungkan begitu saja dalam hal ini. Aparat polisi abai dalam menjaga kedaulatan negeri, dan memang begitu sih biasanya. Sudah menjadi omongan rakyat Indonesia.

Aparat memukul mendesak massa aksi untuk mundur

Di segala sisi aku melihat, aparat mulai membabi-buta memukul mundur massa aksi. Aparat yang datang memukul mundur, lengkap dengan sepaket pentungan dan tameng mulai mengayun-ayunkan pentungannya ke arah massa aksi hingga keluar dari pagar. Jelas massa aksi tak terima, mereka mulai melemparkan segala barang yang ada di depan mata; botol, kayu, sampah makanan, hingga petasan pun turut dilempar akibat aksi represif pihak polisi yang dimulai terlebih dahulu. 

Aku yang berada di tengah-tengah kedua belah pihak, terpaksa harus mundur untuk menghindar gerombolan aparat yang terus maju dengan tameng dan pentungan. Hingga akhirnya, memanjat pagar dan tetap berdiri di pagar agar bisa merekam kejadian ini, bak di film Crows Zero. Aku tetap bertahan mendokumentasikan hal itu. Kakiku sedikit gemetar, tapi keberanian di dalam jiwaku terus mendorong untuk tetap merekam kejadian demi kejadian ini.

Baru kemarin saja, aku membaca siaran pers tentang demo RUU TNI dari laman Amnesty.id. Dalam narasi yang diberikan, setidaknya Jogja masuk dari salah satu kota yang diwarnai kekerasan oleh aparat. Aparat suka ngaco, para aktivis membawa dialektika dalam proses aksi. Tapi mereka malah membawa kekuatan yang berlebihan. Ibarat otak dan dengkul.

Tindakan Represif Aparat 

Hingga sekitar pukul 00.50, (21/03) WIB. protes di depan pagar gedung berlangsung cukup lama. Kali ini diduga dengan para ormas dan preman. Dalam video yang aku rekam, saat para demonstran mulai berangsur mundur. Tidak hanya itu, mereka juga melemparkan petasan ke arah demonstran. Aparat kepolisian hanya membiarkan saja hal itu terjadi. Dan ironisnya, malah mengerahkan meriam air untuk membubarkan massa aksi.

Pukul 01.00 WIB. Saat aku ingin menyudahi liputanku. Aku melihat ada salah satu massa aksi yang sedang dirawat oleh petugas medis jalanan, sekitar 100 meter dari arah utara gerbang DPRD. Kabar yang aku dengar dari petugas medis, ia dipukul oleh aparat kepolisian menggunakan pentungan di antara bagian perut dan dada. Padahal sudah jelas dalam Peraturan KAPOLRI Nomor 16 Tahun 2006, pada Pasal 21, termaktub, jika satuan Dalmas atau aparatur keamanan dilarang untuk bersikap arogan dan melakukan tindak kekerasan kepada aksi massa. 

Aku coba menebak-nebak, sepertinya mereka tidak memahami konteks pasal tersebut. Atau mereka malas membaca.. Hedeeh

Bagiku, hal itu merupakan tindakan brutalitas aparat keamanan yang patut dikecam dalam proses berlangsungnya demokrasi di Bumi Pertiwi ini. Sangat disayangkan, respon mereka terhadap aksi ini sangat represif. Bukannya menjaga, malah menunjukkan tingkat kekerasan yang mengkhawatirkan para demonstran.

 Tarik militer kembali ke barak!

*Penulis adalah orang yang tidak suka kekerasan apalagi kekerasan parcok

Editor Maria Al-Zahra  | Foto Bahtiar Yusuf