“Aku berlindung pada Engkau dari segala hal yang memalingkan aku pada Engkau!”
Lpmarena.com–Kalimat tersebut terucap lantang oleh salah satu aktor sebanyak tujuh kali, sekaligus menjadi pembuka dari pentas Tadarus Puisi XXV Teater Eska pada Sabtu (22/03). Bertempat di Gelanggang Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, pentas berjudul Ruhi yang bertemakan perjalanan spiritual seorang hamba dengan Tuhannya yang terinspirasi dari syair seorang sufi Rabiah Al-Adawiyah.
Wildan, penyusun naskah, bilang sanya Ruhi merupakan cerita tentang proses serta tiga tingkat cinta antara seorang hamba dan Tuhan. Mula-mula ialah cinta orang biasa, di mana pada tahap ini peribadatan—sebagai bukti cinta—masih dilakukan karena mengharap surga alias transaksional.
Kemudian, lanjut Wildan, cinta orang sidik, dimulai saat seseorang beribadah karena memang itu adalah kewajibannya. Lalu mencapai puncaknya ketika seorang hamba melakukan ibadah tanpa tedeng aling-aling selain Tuhan semata, cinta tersebut adalah cinta orang arif.
Menurutnya, di puncak inilah, seorang hamba tidak akan peduli lagi tentang imbalan-imbalan dalam sembahyang yang dilakukannya selain hanya untuk mendapat rida-Nya, sudah lebih dari cukup. Demikianlah, lanjutnya, cinta yang dilakui oleh Rabiah.
“Bahwa dia (Rabiah) sudah menghilangkan rasa keinginan dia untuk masuk surga dan ketakutan dia untuk masuk neraka,” paparnya sewaktu diwawancarai.
Ketiga tingkatan cinta tersebut menjadi titik tolak Wildan dalam merancang naskah, yang selanjutnya ia elaborasikan ke dalam pentas menjadi tiga babak berurutan. Dalam tiap babaknya, para pementas—yang terdiri dari Aktor Satu, Aktor Dua, Aktor Tiga, dan Orang-Orang—mendialogkan ucapan juga koreografi yang merepresentasikan tingkatan cinta. Singkat kata, Ruhi mengeksplorasi perihal kemurnian cinta.
Ihwal koreografi, menyambung Wildan, Yosa selaku sutradara menjelaskan segala peragaan para aktor yang terlihat absurd bukanlah peragaan acak, tapi merupakan aktualisasi para aktor dalam menginterpretasikan dialognya, serta sedikit banyak diilhami dari gerakan Gurdijieff.
Demikian, jelas Yosa, musabab Tadarus Puisi kali ini punya format pementasan yang berbeda. Jika pada yang sebelumnya adalah menyadur atau adaptasi sebuah karya dan menjadikannya drama, Ruhi adalah deklamasi puisi lantas mementaskannya. Tentu Yosa merasa cukup kesulitan dengan itu, ia mengaku, bagaimana puisi tersebut dapat bersambung satu sama lain adalah tantangan berikutnya.
“Jadi yang membuat itu nyambung (sealur) satu sama lain adalah gerakan-gerakannya, kemudian elemen musiknya, kemudian lighting-nya,” jelas Yosa kepada ARENA.
Kisah hidup Rabiah juga tak kelewatan menjadi referensi bagi Yosa dalam menata pertunjukan. Ia bercerita, salah satu segmen para aktor yang membawa obor adalah satu cuplikan Rabiah yang dikisahkan pernah membawa obor serta air, yang dengan itu, Rabiah ingin membakar surga dan memadamkan neraka supaya manusia tidak lagi memikirkannya dalam peribadatan.
Soal ini, kemudian lebih tersurat jelas dalam satu ucapan salah satu aktor. “Aku menyembahmu bukan karena takut neraka ataupun mengharap surga, tetapi karena aku mengabdi—karena cintaku padamu,” pekiknya.
Reporter Selo Rasyd Suyudi | Redaktur Ridwan Maulana