Home KUPAS Sedu Sedan Kehidupan Suburban Kotagede Yogyakarta

Sedu Sedan Kehidupan Suburban Kotagede Yogyakarta

by lpm_arena

Musik selalu menjadi alat ampuh untuk menyuarakan kegelisahan sosial. Ia bukan sekadar seni yang menghibur, tetapi juga medium yang mampu meneriakkan keresahan yang dirasakan oleh masyarakat. Musik tak bisa dibungkam—bahkan jika dilarang, ia justru akan bersuara lebih lantang, menembus sekat yang coba dibatasi oleh penguasa. Lewat musik, kita bebas mengekspresikan kemarahan, ketidakpuasan, dan perlawanan terhadap ketimpangan yang terjadi di sekitar kita. Dan saat ini, ketika negara sedang mengalami berbagai krisis, seperti sosial, ekonomi, dan politik, suara-suara perlawanan semakin dibutuhkan.

Misalnya, ketika sistem politik tidak berpihak terhadap rakyat kecil, musik memberikan ruang bagi mereka yang terpinggirkan untuk mengungkapkan perasaan dan kritik terhadap pemerintah. Bukan hanya sebatas alunan melodi, tetapi juga pesan kuat yang menggerakkan pendengarnya untuk beraksi. Sebab suatu pepatah mengatakan, tak ada revolusi tanpa lagu-lagu. Sialan, itu relate rasanya. 

The Kick, band asal Kotagede, Yogyakarta, adalah salah satu band yang menyuarakan keresahan masyarakat suburban dengan lantang. Melalui album Suburban Terror dengan tujuh lagu di dalamnya, yang dirilis pada tahun 2021. Dimulai dengan Suburban Terror mengisi track pertama, dilanjutkan Tak Jelas, lalu UFO dan Liar berurutan sebagai track ketiga dan keempat, kemudian Preman Pinggiran ada di track nomor lima, diteruskan Mengudara pada track keenam, dan dipungkasi dengan judul Terbakar Di Lampu Merah

Pendengar disuguhkan bagaimana The Kick melihat kondisi masyarakat yang ada di pinggiran kota Jogja yang dielu-elukan sebagai Kota Istimewa. The Kick mencoba menyuguhkan realita bagaimana Yogyakarta, khususnya kecamatan Kotagede sebagai daerah wisata, terlebih bekas peninggalan sejarah kerajaan mataram islam. Namun, orang luput bahwa Kotagede menyimpan beragam masalah, seperti sampah, politik, dan juga kehidupan masyarakat suburban yang ada di sana. Hal itu mereka sajikan lewat album Suburban Terror

Dibuka dengan lagu berjudul Suburban Terror, melodi gitar mengawali irama sebelum lagu mulai menggema. Daerah gedung tinggi tak mampu kau pandangi / Daerah di mana tangisan disimpan rapat dalam kamar pribadi. Lirik ini menandakan bahwa kehidupan masyarakat suburban perlahan mulai tergerus oleh arus modernisasi dan urbanisasi. Tak banyak yang bisa dilakukan selain meratapi perubahan itu. Namun, lebih dari sekadar ratapan, lagu ini juga menangkap keresahan yang lebih dalam—tentang bagaimana manusia-manusia di tengah hiruk-pikuk kota besar tampak ideal secara fisik, tetapi jiwanya justru rapuh. Di tempat seperti ini, obat penghilang sakit kepala lebih laku dibanding es kopi. Sebuah gambaran yang menyentil bagaimana tekanan hidup di lingkungan suburban membuat banyak orang mencari pelarian, alih-alih menemukan ketenangan.

Kondisi yang sama tergambar jelas dalam lagu kedua. Hidup tak menentu, entah apa yang dituju, ingin mengejar mimpi tapi tak bisa bangun pagi. Lirik ini menggambarkan betapa sulitnya menentukan arah di tengah ketidakpastian, terutama bagi mereka yang tidak memiliki pekerjaan. Pengangguran bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal mentalitas dan harapan. Sementara kehidupan terus berjalan, mereka yang tertinggal seolah tidak punya pilihan selain menerima nasib. Ironisnya, pemerintah yang seharusnya hadir memberi solusi justru terkesan tak peduli. Rasa frustasi ini semakin terasa dalam lirik pada lagu ketiga, Meteorid 12 inchi / Ditahan para dewa-dewi / Hancur menjadi abu / Surga menjadi halu. Harapan yang semula digenggam perlahan menjadi abu—sebuah metafora yang menggambarkan bagaimana mimpi-mimpi yang dirawat sejak lama kini hanya tersisa sebagai ilusi.

Keterpurukan dan kebingungan tersebut, dalam beberapa kasus, bisa berkembang menjadi bentuk perlawanan. Lagu keempat hadir dengan energi penuh semangat; Hey, kawula muda / Lawan arus bahaya / Distorsi meninggi, lari, lari gila tak terkendali. Ini adalah ajakan bagi anak muda suburban untuk bangkit dan tidak menyerah pada keadaan. Dunia mungkin tidak berpihak, tetapi menyerah bukanlah pilihan. Jadilah tak terhingga! Meski keterbatasan finansial menghadang, setiap orang masih memiliki kesempatan untuk mengasah diri dan menemukan jalannya sendiri.

Namun, tidak semua anak muda memilih jalan tersebut. Beberapa justru terseret dalam dunia premanisme, seperti yang digambarkan dalam Preman Pinggiran. Lagu ini menyoroti fenomena pemuda yang memilih menjadi preman bayaran, bukan karena mereka ingin, tetapi karena keadaan yang memaksa. Alih-alih membangun keterampilan dan masa depan, mereka justru menjadi alat bagi kepentingan orang lain. Tampan, mapan, kesetanan / Mabuk-mabukan tak terpelajar / Senggol kanan lewati pagar / Keributan jadi makanan / Rebutan kuasa jadi bahan. Ini bukan sekadar lagu tentang kekerasan jalanan, tetapi juga kritik terhadap sistem yang gagal memberi mereka pilihan lain.

Di tengah semua kegelisahan ini, Mengudara hadir sebagai pengingat bahwa harapan belum sepenuhnya padam. Lagu ini mengajak pendengar untuk tetap berpikir ke depan, merencanakan masa depan meski jalannya tak selalu mulus. Hey, kawan coba lihat ke depan sana / Ada apa itu, ada apa itu? / Melihat rasi bintang mengangkasa. Jika persiapan dilakukan sejak dini, maka suatu saat nanti, mereka pun bisa terbang tinggi, mengudara.

Sebagai penutup, Terbakar di Lampu Merah menjadi cerminan dari kehidupan sehari-hari di Kotagede. Macet, polusi, panas yang menyengat—semuanya berpadu menjadi realitas yang harus dihadapi setiap hari. Panas mulai memanggang / Wajah tampan mulai membelang / Terbakar, terbakar ku di lampu merah. Lagu ini menjadi metafora tentang bagaimana kehidupan urban menguji kesabaran dan mental setiap individunya. Bagi wisatawan, Yogyakarta mungkin terlihat eksotis dan penuh pesona, tetapi bagi mereka yang hidup di dalamnya, ada sisi lain yang lebih melelahkan dan penuh tekanan.

Menjadi bagian dari kehidupan suburban sering kali terasa membosankan. Kita hidup dalam gegap gempita kota yang menuntut banyak hal, tetapi pada saat yang sama memaksa kita untuk terus berkontemplasi dalam kebisingan itu sendiri. The Kick berhasil menangkap perasaan tersebut dalam musik mereka. Mereka berbicara tentang kelelahan hidup di kota yang serba cepat, ketimpangan sosial yang terus meningkat, dan bagaimana kehidupan suburban sering kali menjadi medan pertempuran yang tidak terlihat.

Dengan susunan lagu yang mengalir dari keresahan, perlawanan, hingga refleksi. Suburban Terror bukan hanya album yang bertenaga secara musikal, tetapi juga menjadi potret kehidupan suburban yang jarang mendapat perhatian. Album ini cocok bagi mereka yang ingin mendengarkan musik yang lebih dari sekadar hiburan—musik yang mampu membuka mata terhadap kenyataan di sekitar kita. The Kick membuktikan bahwa musik punk tetap relevan sebagai bentuk ekspresi dan perlawanan, terutama di tengah kondisi sosial yang semakin timpang.

Album Suburban Terror | Tahun 2021| Band The Kick | Peresensi Ridwan Maulana | Sumber Gambar thekick_

Editor Niswatin Hilma