lpmarena.com– Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta bersama AJI Jakarta menggelar diskusi dan bedah buku A Giant Pack Of Lies Part Dua Kebohongan Besar Industri Rokok. Diskusi ini mengambil tema “Membongkar Kebohongan Besar Industri Rokok : Menyelamatkan Anak Indonesia dari Cengkeraman Zat Adiktif” pada Sabtu (26/04) di Hotel Keisha-Ksatrian Meeting Room lantai sembilan.
Novita Sari Simamora, salah satu penulis yang menyoroti khusus bagian rokok elektrik, menjelaskan perkembangan rokok elektrik yang menjadi momok atas anak-anak.
Novita mengungkap, bahaya rokok elektrik pada anak-anak tidak hanya berhenti sebagai perokok pasif, namun juga sudah sampai menjadi perokok aktif. Ia menjelaskan, bahkan penggunaan rokok elektrik ini sudah berubah trend di kalangan anak-anak.
“Tampilan rokok elektrik yang indah banget, ada yang warnanya hijau, pink, merah, rokok elektrik itu sudah bisa didapatin dengan harga 100-an dan juga liquidnya juga sangat murah,” tutur Novita.
Berdasarkan data terbaru Survei Kesehatan Indonesia (SKI) pada tahun 2023 memaparkan, pengguna rokok elektrik naik sampai sepuluh kali lipat. Tercatat sekitar 6,6 juta pengguna dengan mayoritas penggunanya adalah pelajar. Jenis rokok elektrik tersebut termasuk seperti vape, pod, vapour, electrosmoke, dan sebagainya.
“Saya pernah wawancara sama pihak cukai yang ada di Jakarta, ia mengungkapkan kenaikan penjualan liquid sampai 200% karena peminatnya tinggi,” ungkap Novita.
Novita mengungkapkan, seringkali industri rokok elektrik masuk di Indonesia dengan menggunakan pola-pola pendekatan kepada pemangku regulasi. Ia menyebutkan, nama produsen besar rokok seperti Philip Morris sudah melakukan pendekatan ke Presiden Jokowi sejak tahun 2020. Hal seperti ini dilakukan guna mempermudah akses regulasi dan menekan biaya cukai agar lebih rendah.
Menurut Novita, hal ini tak mengherankan karena melihat pasar Indonesia yang memberikan peluang besar bagi industri rokok elektrik. Ditambah dengan budaya sampai regulasi Indonesia yang sudah lama menjadikan lahan basah atas peredaran rokok.
“Bagi mereka pengumpul cuan, mereka itu mencari peluang-peluang di negara-negara berkembang seperti Indonesia,” jelas Novita.
Yayi Suryo Prabandari, Guru Besar Bidang Kesehatan Universitas Gadjah Mada (UGM), menjelaskan bahwa rokok elektrik kerap dianggap sebagai jembatan untuk berhenti merokok, tapi nyatanya tetap tidak bisa.
Yayi memaparkan, tidak ada perbedaan antara penggunaan rokok konvensional dan berhenti dengan rokok elektrik, justru hasilnya sama saja. Menurutnya, hal tersebut malah akan memicu kecanduan ganda yang semakin mempersulit untuk keluar dari lingkaran kecanduan.
“Akhirnya jadi double keinginan, (sehingga) untuk berhenti merokok itu cukup besar,” ungkap Yayi.
Menanggapi hal ini, Emma Rahmi Aryani selaku Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan Yogyakarta menjelaskan, Dinas Kesehatan (Dinkes) mengaku telah melakukan upaya-upaya. Pencegahan dilakukan dengan meningkatkan pengetahuan bagi anak-anak muda di sekolah atas resiko bahaya rokok. Begitu pula dengan mendorong kemudahan akses layanan bagi orang-orang yang ingin berhenti merokok di Kota Yogyakarta.
“Pun berharap di Puskesmas nantinya direalisasikan, jadi masyarakat yang berhenti merokok, yang ingin berhenti merokok bisa kami bimbing,” pungkas Emma.
Reporter Almuttaqin | Redaktur Ghulam Ribath | Foto Dokumentasi AJI Yogyakarta