Lpmarena.com— Teater Eska menggelar Pentas Tiga Bayangan VI di Gelanggang Teater Eska UIN Sunan Kalijaga pada Jumat (12/09). Tiga naskah sekaligus dipentaskan dalam semalam, dengan membawa tema krisis eksistensial dari sudut pandang yang berbeda.
Naskah pertama “Fortis Fortuna Adiuvat” yang memakai konsep panggung di atas jam. Tema yang diangkat menunjukkan perjalanan yang pasti, searah dengan jarum jam. Pentas dimulai dengan keberadaan tokoh Jaka; seseorang yang tengah kebingungan dengan hidup yang akan dijalani kedepan, bertemu temannya–Was–di warung kopi.
Jaka tokoh utama dalam Fortis Fortuna Adiuvat bergulat dengan isi pikirannya dan Was, temannya, yang menuntutnya untuk berani mengambil keputusan hidup. Kemudian Jaka terbawa dalam lorong waktu kehidupan yang dialaminya selama ini dan juga masa depan, yang direpresentasikan melalui set jam di latar panggungnya.
Dzul Haq, penulis naskah, memaparkan bahwa jalan cerita dimulai dengan manusia yang kebingungan untuk melakukan sesuatu. Lalu, timbul keraguan dan pesimis yang membuatnya berhenti pada pikiran dan rencana tanpa tindakan. Pementasan naskah ini diakhiri dengan perjalanan dalam lorong waktu yang menyoroti perbedaan orang yang berhenti bertindak dengan orang yang punya rencana dan tindakan.
“Ada perbedaan di antara kedua orang itu,” tegasnya.

Naskah kedua “Diorama Diri” memakai konsep ringan melalui museum internal sebagai tempat terbaik mengetahui diri. Kombinasi dan karakteristik tiga tokoh berbeda menjadi penggambaran pergolakan yang terjadi dalam diri. Seperti halnya Ziva yang denial dengan dirinya, Luma sebagai bagian dari masa lalu yang Ziva tolak, dan Xena sebagai AI yang membantu Ziva menjawab pertanyaan.
Muhammad Teddy Saputra, selaku penulis naskah Diorama Diri, menjelaskan pementasan naskah ini menggunakan pendekatan Role Confusion dari Erik Erikson untuk mengetahui permasalahan yang dialami remaja saat ini yaitu kebingungan peran. Ziva yang ingin menjadi orang lain dan menolak bagian dirinya terus-menerus berdebat dengan Luma.
“Bagaimana kita bisa mengenal diri sendiri, merawat luka masa lalu, dan merespon masa depan,” ungkap Teddy.
Setelah pertunjukan kedua selesai, seluruh lampu padam. Kemudian, panggung yang sejajar dengan tempat duduk penonton berubah menjadi lebih tinggi, dan dilanjut pertunjukan ketiga.

Naskah ketiga “Alif”, menyampaikan pesan bahwa dalam kegelapan sekalipun, seseorang bisa menemukan makna hidup yang dijalani. Naskah ini dibentuk sedemikian rupa oleh sutradara agar pesan menyoal makna hidup dan eksistensialis tersampaikan kepada penonton dalam bentuk hiburan.
Senada dengan itu, Marsha Nur, penonton pentas tiga bayangan, merasa bahwa pesan yang ingin disampaikan dalam pertunjukan ialah mencari jati diri di tengah pergolakan batin yang dihadapi. Ia melihat pentas bagian pertama seperti peralihan dari masa ke masa yang menyoroti proses pengenalan diri sendiri. Kemudian di penampilan kedua seperti terjadi pergolakan batin karena muncul jiwa lama dari tokoh utama.
“Menyentuh ke bagian psikologis, jadi pas nonton kita tuh merasa ‘oh ternyata aku gini ya’,” pungkas Marsha.
Reporter Dzikria Al-Haq | Redaktur Rizqina Aida