Lpmarena.com— Dalam rangka memperingati usia ke-45 tahun, Teater Eska menggelar pameran arsip bertajuk “Meneroka Spirit Profetik” sejak Senin-Sabtu (13-18/10) di Gelanggang Teater Eska. Pameran ini menampilkan dokumentasi perjalanan Teater Eska dari masa ke masa, menegaskan kembali ideologi seni profetik yang menjadi napas gerakannya sejak awal berdiri.
Poster-poster pertunjukan tertempel rapi di dinding utara gelanggang, berjejer dengan buku dan naskah drama produksi Teater Eska. Di antara yang dipamerkan, terdapat buku Bunga Waktu, Tadarus Puisi, serta antologi karya anggota Eska dari berbagai generasi.
Khuluqul Kharim, ketua acara sekaligus mantan lurah Teater Eska, menyebut pameran ini sebagai refleksi atas kesinambungan gagasan profetik dalam karya Eska. Ia menilai, nilai profetik yang hidup dalam naskah perlu dibaca juga lewat bentuk visual seperti poster, karena sejak awal Eska tidak hanya menonjolkan estetika, tetapi juga pesan nilai.
“Kalau naskahnya sudah profetik dari segi sastranya, apakah itu juga terlihat di karya visual seperti poster pertunjukan? Nah, itu yang pengunjung bisa lihat,” jelas Khuluq saat ditemui ARENA di lokasi pameran.
Lebih jauh, Khuluq menuturkan bahwa pameran ini juga menampilkan dinamika perjalanan identitas visual Teater Eska—mulai dari perubahan logo, warna, hingga nuansa desain poster pada tiap periode. Ia menyebut bahwa sebagian karya merupakan rekonstruksi ulang karena arsip aslinya sudah tidak utuh. Meski begitu, upaya rekonstruksi ini penting untuk membaca “wajah profetik” Eska dari masa ke masa.
Istilah profetik bukan sekadar simbol religius bagi Teater Eska. Menurut Hamdi Salad, lurah pertama sekaligus salah satu pendiri Teater Eska, semangat profetik justru lahir dari kebutuhan untuk menghadirkan seni yang bernilai kritik dan kesadaran sosial.
Hamdi menjelaskan bahwa perkembangan ideologis Teater Eska terbagi dalam beberapa fase. Fase awal disebut sebagai dakwah kultural, di mana karya berfungsi sebagai ajakan moral. Fase kedua, seni hikmah, mulai memasukkan unsur refleksi dan pemikiran. Kemudian pada 1995, Eska merumuskan ulang arah gerakannya dan meneguhkan konsep seni profetik.
Ia menjelaskan bahwa keprofetikan dalam Teater Eska tidak bersifat formal maupun fundamental, melainkan terbuka, reflektif, dan membumi. Nilai amar ma’ruf dimaknai sebagai humanisasi, nahi mungkar sebagai kritik sosial, dan tu’minubillah sebagai unsur transendensi.
Spirit tersebut membuat sebagian penonton menilai Teater Eska sebagai teater sufistik. Padahal, kata Hamdi, unsur kritik terhadap kekuasaan dan sistem sosial tetap kuat dalam setiap karya mereka.
“Yang paling ditonjolkan adalah kritik terhadap institusi, jadi kalau mau bikin kegiatan gitu kita menanyakan persoalan yang genting. Nah, setelahnya kita kemas jadi pertunjukan,” jelasnya saat diwawancarai ARENA.
Pandangan tersebut turut diamini oleh Rahman, salah satu penonton yang mengikuti pameran. Ia menilai karya-karya Teater Eska tidak hanya menonjol dari sisi estetika, tetapi juga membawa pesan keadilan dan kebenaran. Baginya, perpaduan antara keindahan dan kritik sosial dalam karya Teater Eska mencerminkan bentuk spiritualitas yang hidup dan bernilai.
“Dalam seni tidak hanya indah, tapi dia juga kritik buat sistem,” pungkasnya.
Reporter Rizki Muhammad Fauzan | Redaktur Wilda Khairunnisa | foto Tim Dokumentasi Teater Eska