Lpmarena.com– Iklimku bersama Majelis Lidah Berduri (Melbi), dan Masyarakat Indonesia Rendah Karbon (MIRK) mengadakan diskusi bertajuk “Musik di Zona Merah” di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada pada Rabu (22/10). Diskusi ini membahas bagaimana pertunjukan musik menjadi salah satu penyumbang besar emisi karbon bagi alam.
Ugoran Prasad, vokalis Majelis Lidah Berduri, menjelaskan bahwa konser musik yang sering diadakan ternyata turut memperparah krisis iklim. Menurutnya, hal itu dapat dilihat dari penggunaan energi untuk pencahayaan dan sistem suara, mobilisasi penonton, hingga tumpukan sampah yang dihasilkan dari acara.
“Energi yang dipakai dalam konser-konser itu problem,” ujarnya.
Mengutip dari zine yang diterbitkan Iklimku, emisi karbon pengendara sepeda motor untuk mengunjungi konser rata-rata mencapai 1,5 kg CO2ek. Sementara pengendara mobil mencapai 11,3 kg CO2ek atau 750% lebih tinggi. Penumpang bus menghasilkan 4,9 kg CO2ek dan penumpang kereta 4,2 kg CO2ek. Sedangkan penumpang pesawat menyumbang 130 kg130 kg CO2ek, setara dengan 71% dari total emisi seluruh responden lainnya.
Sebagai respon atas survei tersebut, Ugoran bersama Melbi, band yang ia gawangi, pernah memperkecil skala penonton hanya menjadi 200 orang saat peluncuran album Hujan Orang Mati. Menurutnya, itu merupakan salah satu cara Melbi merespon krisis iklim yang diakibatkan oleh aktivitas pertunjukkan musik.
“Untuk mencoba mengurangi emisi karbon yang dihasilkan pertunjukan Melbi,” jelasnya.
Selain itu, Farid Stevy, vokalis FSTVLST, menerangkan meski sudah banyak musisi yang sadar mengenai emisi karbon akibat aktivitas konser musik, tetapi masih banyak musisi yang merasa bimbingan dalam mengampanyekannya. Pasalnya di satu sisi, ia ingin menyuarakan keresahan terhadap kerusakan lingkungan. Namun di sisi lain, aktivitas bermusik itu sendiri masih menghasilkan emisi karbon dan sampah.
Namun, bagi Farid, seniman sudah seharusnya punya cara tersendiri dalam menyuarakan isu lingkungan. Maka ia mengajak kepada para seniman untuk lebih kreatif. Pasalnya, Farid menilai seniman memiliki peranan penting yaitu sebagai perantara manusia dengan alam.
“Jadi saya cari cara-cara kreatif. Misalnya, menulis lagu yang rasanya paling dekat dengan isu itu,” ungkapnya.
Di sisi lain, Ugoran menyampaikan dilema bagi para musisi yang menyerukan krisis iklim lewat karya mereka. Hal tersebut ditengarai karena banyak dari musisi yang takut mendapatkan stigma sebagai pihak yang paling peduli terhadap lingkungan.
Untuk menghindari hal tersebut, ia mengajak agar masyarakat ikut terlibat dalam menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan. Menurutnya, ada banyak aktivitas yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran ekologis, seperti melakukan riset, kampanye di media sosial, bahkan hingga refleksi personal.
“Tanggung jawab terhadap krisis iklim tidak hanya dibebankan pada musisi, melainkan menjadi gerakan bersama,” katanya.
Farid juga menuturkan bahwa musisi dapat mengampanyekan isu krisis iklim melalui karya yang bersifatnya personal tapi dapat dirasakan pendengarnya. Menurutnya, cara seperti itu dianggap lebih efektif dalam menularkan keresahan mengenai krisis iklim yang dirasakan oleh musisi atau band tersebut.
Reporter Akhla Alfarah (magang) | Redaktur Ridwan Maulana