Lpmarena.com– Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Sunan Kalijaga mengaku kesulitan menunaikan salat di gedung fakultas. Pasalnya, mereka harus berjalan cukup jauh ke Laboratorium Agama (masjid kampus) atau menggunakan musala di Laboratorium Terpadu yang juga dipakai oleh mahasiswa Fakultas Tarbiyah. Kondisi tersebut kerap membuat mahasiswa terlambat masuk kelas.
Anindya Syarifah Rahmah, mahasiswi FST, mengatakan waktu salat sering terkuras hanya untuk berpindah gedung, terlebih ketika jadwal kuliah berdekatan dan kelas berada di lantai atas. Selain itu, musala Laboratorium Terpadu dinilai tidak dapat menjadi solusi permanen karena digunakan bersama dua fakultas dan kerap penuh.
“Seharusnya pihak fakultas juga memiliki anggaran untuk pengadaan mushola, masak kita harus numpang terus ke Lab (Laboratorium Terpadu, Red.),” ujar Anin saat diwawancarai ARENA.
Lebih lanjut, Anin menjelaskan bahwa ketiadaan musala turut mengganggu aktivitas perkuliahan. Sebagai mahasiswi, ia memerlukan waktu tambahan untuk salat, termasuk merapikan kerudung dan mukena, sehingga waktu salat kerap memakan lebih dari jeda yang tersedia. Dampaknya, proses belajar sering tertunda sekitar 15 menit karena menunggu mahasiswa menyelesaikan salat.
Muhammad Afiq Agus Akbar, mahasiswa lainnya, mengeluhkan solusi yang diberikan fakultas, yaitu menggunakan musala di Laboratorium Terpadu. Selain jaraknya yang jauh karena berada di lantai dua, musala tersebut juga sering penuh lantaran digunakan mahasiswa dari fakultas lain.
Menurutnya, apabila tidak menggunakan musala di Laboratorium Terpadu, Afiq terpaksa harus salat di masjid kampus yang jaraknya cukup jauh dari fakultas. Akibatnya, ia perlu menghabiskan waktu sekitar 15-30 menit, sementara jeda antar mata kuliah tidak selama itu.
“Saya harus salat ke masjid kampus, itu membutuhkan waktu 30 menit. Akhirnya sering terlambat masuk kelas dan tidak ada waktu untuk makan siang,” katanya saat diwawancarai ARENA pada Selasa (28 /10).
Menanggapi hal tersebut, Wakil Dekan II FST, Agus Mulyanto menyampaikan bahwa mushola sebenarnya telah direncanakan sejak lama, tetapi baru terealisasi di tahun ini. Anggaran sebelumnya diprioritaskan untuk perbaikan fasilitas seperti AC, LCD dan gorden. Selain keterbatasan anggaran, pencarian ruang yang layak menjadi kendala utama.
“Untuk penyediaan sarana dan prasarana itu ya prioritasnya adalah untuk perbaikan dan kelengkapan kelas,” ungkapnya saat diwawancarai ARENA pada Kamis (30/10).
Ia mengaku pihak fakultas telah memperhatikan aspirasi mahasiswa dan menyatakan bahwa musala tersebut diperkirakan mulai dapat digunakan pada November. Lokasi yang dipilih untuk musala berada di lantai tiga, dekat perpustakaan fakultas.
Berdasarkan pantauan ARENA pada Senin (03/11), ruang tersebut sudah disekat tetapi belum siap pakai. Lantai masih menyisakan bekas renovasi, rak buku baru dipindahkan, dan karpet belum tersedia; meski ruangan telah diberikan label ‘musholla’. Sementara itu, mahasiswa berharap ruang ibadah segera difungsikan agar aktivitas perkuliahan tidak lagi terganggu.
“UIN sendiri kan kampus berbasis Islam. Masa di fakultasnya tidak diberikan tempat untuk solat, rasanya kurang adil, ” pungkas Afiq.
Reporter M. Afzaal Ali (magang) | Redaktur Wilda Khairunnisa