Lpmarena.com—Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kalimasada menggelar pementasan gamelan dan tari bertajuk “Sang Sonyaruri” di Gelanggang Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga pada Jumat (07/11). Pementasan itu diselenggarakan dalam rangka memperingati ulang tahun ke-12 UKM Kalimasada.
Ahmad Zidan Muzaki, ketua panitia, menuturkan bahwa Sang Sonyanyuri dipilih sebagai tema karena melihat kehidupan masyarakat masa kini hidup di era kebudayaan viral. Menurutnya, di tengah budaya viral tersebut, masyarakat melupakan sesuatu yang bersifat sunyi.
“Sang sonyaruri itu sebagai penanda jalan sunyi. Jalan sunyi dari temen-temen Kalimasada,” kata Zidan saat diwawancarai ARENA.
Ia juga menjelaskan, budaya viral tersebut membuat masyarakat lupa mengenai budaya lokal yang telah diwariskan secara turun temurun. Maka sebagai UKM yang bergerak di bidang kesenian lokal Jawa, Sang Sonyanyuri menjadi refleksi sekaligus perenungan atas kebudayaan dan nilai-nilai yang hidup dalam kesenian Jawa.
Terkadang, lanjut Zidan, budaya lokal khususnya budaya Jawa sering dianggap sebagai sesuatu yang kuno dan tidak relevan di masa sekarang. Padahal, budaya lokal yang dianggap kuno tersebut memiliki nilai-nilai yang luhur bagi kehidupan.
“Justru kekunoan itu menjadi medium. Medium pengalaman dan medium kehidupan,” tambah Zidan.
Selaras dengan itu, Yasser Arafat selaku pembicara dalam pidato kebudayaannya, menyampaikan bahwa budaya Jawa memiliki tiga konsep penting, yaitu wirogo, wiromo, dan wiroso. Dengan tiga konsep itu, budaya Jawa bukan sekadar budaya yang mengejar viralitas, melainkan sebuah laku hidup yang menuntun manusia untuk selaras.
Di sisi lain, menurutnya, budaya Jawa sering dikaitkan dengan hal-hal bersifat mistis. Hal itu terlihat dari maraknya film yang berlatar budaya Jawa, misalnya penggunaan pakaian adat, kemenyan, dan istilah seperti Suro.
“Ini untuk mendiskreditkan atau melenyapkan kebudayaan Jawa. Sehingga yang terkait kebudayaan Jawa dianggap berhubungan dengan demit,” jelasnya.
Mengutip dari rri.co.id, dominasi budaya luar di media sosial, terutama melalui platform seperti Instagram dan Tiktok, dapat mengancam keberlangsungan budaya lokal. Di sisi lain, perkembangan teknologi juga dapat membuka pintu lebar bagi Generasi Z untuk menjelajahi budaya dari berbagai penjuru dunia. Namun, sebagai penjaga budaya, mereka juga memiliki tanggung jawab untuk tetap terhubung dengan akar budaya lokal dan menjaganya.
Maka, pementasan yang digagas UKM Kalimasada, menurut Yasser, diharap bukan sebatas upaya penyaluran hobi, melainkan juga upaya mempertahankan dan memperkenalkan budaya lokal kepada masyarakat. Dengan pementasan ini juga, masyarakat atau mahasiswa menjadi tahu bahwa budaya lokal tidak selalu berkaitan dengan mistis.
Lebih jauh, Zidan mengharapkan agar budaya-budaya jawa dapat dilestarikan dan dirasakan oleh kalangan kampus. Menurutnya, kampus menjadi posisi strategis untuk melestarikan budaya jawa. Hal ini musabab secara tidak langsung kata “Kalijaga” yang disematkan pada nama Kampus.
Alih-alih ia merasa dukungan dari kampus dirasa kurang cukup. Hal ini tersorot dari sulitnya proses menuju ruang pementasan. Selain itu, akses yang sulit dan terbatas dan perlunya seorang guru dalam seni karawitan menjadi tantangan yang dihadapi UKM Kalimasada sangat kompleks.
“Kami secara mandiri menghidupi diri sendiri, belajar dari diri sendiri,” pungkasnya.
Reporter Alif Abdurrahman (magang) | Redaktur Rizqina Aida