Lpmarena.com —Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), bersama Museum Anak Bajang, dan Bentara Budaya Yogyakarta, menggelar diskusi yang bertajuk “Keragaman Tema dalam Sastra Anak” di Bentara Budaya Yogyakarta pada Minggu (16/11). Diskusi ini membahas masalah dalam industri sastra anak, dan keberlanjutan eksistensinya di masa depan.
Zulfa Utami Adiputri, penulis sekaligus penerbit buku Hujan dan Bumi (HUMI), menuturkan kondisi ekosistem perbukuan anak saat Indonesia ini yang kurang sehat. Ia menjelaskan, tidak seperti genre buku lain, sastra anak hanya dapat diakses oleh anak-anak dengan perantara orang tua, guru, atau pustakawan. Jika pihak-pihak yang menjadi representasi kepentingan anak tidak menjalankan perannya dengan baik, maka buku yang sampai ke anak tidak akan begitu dipedulikan.
“Seharusnya bisa tumbuh bareng-bareng di dalam ekologi yang seimbang, saling berhubungan dan menyehatkan. Tapi indonesia belum kayak gitu,” jelas Zulfa.
Menurut Zulfa, sistem distribusi juga turut memperumit kondisi ini. Sekolah tidak cukup memperhatikan pendanaan perpustakaan, ditambah pustakawan seringkali tidak dilibatkan dalam proses distribusi pengadaan buku. Hal inilah yang mempersulit penerbit, terkhusus perbukuan genre anak, untuk masuk dalam pasar anak. Alih-alih merasa negara dapat membantu, sebaliknya, penerbit merasa bahwa negara mempersulit penerbitan sastra anak.
Senada dengan Zulfa, Hanie Maria salah satu pegiat komunitas pendidikan CMId Yogyakarta, mengungkap kondisi ekosistem perbukuan anak sangat bergantung pada political will negara. Menurutnya, seharusnya negara memiliki kapasitas, kesempatan, dan jalur formal untuk memastikan berjalannya ekosistem perbukuan anak.
“Tugas negara itu mencari tau kebutuhan dari masyarakat yang harus menjadi tujuan utamanya,” ujarnya.
Hanie menambahkan, pemerintah dapat melakukan intervensi melalui program dengan memastikan peran pustakawan di sekolah untuk menunjang perpustakaan dapat hidup dengan layak. Selain itu, tidak adanya peraturan terkait upah yang layak bagi penulis, juga sensor pelolosan terbit pemerintah terkait buku menjadi hal yang perlu diperhatikan.
Di sisi lain, Aprinus Salam, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, menilai eksistensi sastra anak menjadi sangat penting untuk dikelola. Sebab sastra anak menjadi salah satu aspek yang membantu dalam pembentukan karakter pada anak. Namun dalam sastra anak, seringkali kepentingan negara untuk mengatur menjadi pembatas anak untuk dapat berkembang.
Apri menegaskan, sastra anak adalah ruang startegis untuk anak bisa berkembang. Dengan keberagaman definisi dan kategori yang bermacam, melalui proses demokratisasi, menjadi aspek penting anak untuk bertumbuh. Dengan begitu, negara seharusnya membuka kesempatan yang lebih luas. Menurutnya, negara tidak boleh membuat peraturan tertentu yang menentukan kriteria baik secara sepihak. Kebijakan seharusnya menginklusi, bukan mengeksekusi yang lain.
“Setiap individu memiliki kesempatan untuk memobilisasi potensi mereka, dan mempunyai peluang untuk meraih kesuksesan,” tutupnya.
Reporter Aileen Nazla Tiffany (magang) | Redaktur Ghulam Ribath