Home BERITA Srikandi dan Sanggar Nuun Gelar Panggung Ekspresi untuk Donasi Bencana Sumatera

Srikandi dan Sanggar Nuun Gelar Panggung Ekspresi untuk Donasi Bencana Sumatera

by lpm_arena

Lpmarena.com— Srikandi berkolaborasi dengan Sanggar Nuun menggelar panggung ekspresi di Bundaran Multipurpose (MP) UIN Sunan Kalijaga pada Rabu (10/12). Panggung ekspresi tersebut bertujuan untuk menggalang dana guna disalurkan kepada masyarakat terdampak bencana di Sumatera.

Zulfikar Rizqi Maulana, anggota Sanggar Nuun, menerangkan bahwa penggalangan dana ini merupakan langkah kecil untuk menyalurkan bantuan kepada para korban. Hal itu menjadi wujud kepedulian Sanggar Nuun atas bencana alam yang terjadi di Sumatera. Aksi tersebut adalah bentuk kekecewaan mereka terhadap kinerja pemerintah yang lamban dalam merespon bencana tersebut.

“Sampai sekarang kan berita tentang bencana darurat nasional tidak ada,” kata Zulfikar saat diwawancarai ARENA.

Ia juga memaparkan bahwa penggalangan donasi tersebut digelar sejak 6-15 Desember mendatang. Total dana yang terkumpul hingga Rabu (10/12) mencapai 2,8 juta. Seluruh bantuan  akan langsung disalurkan melalui Yayasan Sekolah Menulis Dokarim Aceh untuk kemudian didistribusikan kepada masyarakat yang terdampak.

Maka, ia mengajak kepada mahasiswa untuk peka dan peduli kepada para korban. Pasalnya, para korban di Sumatera sangat membutuhkan bantuan.

“Ayo kita membantu sebisanya,” imbuhnya.

Namun, alih-alih mendukung solidaritas masyarakat tersebut, Menteri Sosial, Saifullah Yusuf, mengatakan bahwa pengumpulan dana donasi harus mematuhi ketentuan dengan cara mengajukan perizinan. Dilansir dari Tempo, penggalangan donasi dapat diajukan ke Dinas Sosial untuk bencana level kabupaten dan kota, sedangkan di taraf nasional dapat diajukan ke Kementerian Sosial. 

Menanggapi hal itu, Zulfikar tidak setuju atas pernyataan dari menteri sosial tersebut. Ia melihat proses administrasi yang dilakukan pemerintah masih terkesan lama. Terlebih, hal ini seakan merupakan pembatasan terhadap orang-orang yang peduli.

“Kalau semuanya harus teradministrasi, sepertinya lima tahun lagi baru kekumpul,” ungkapnya dengan raut wajah kesal.

Selaras dengan hal itu, Alfi Ni’matil Aula, perwakilan Srikandi, menjelaskan bahwa menyalurkan bantuan kepada masyarakat yang terdampak bencana merupakan suatu hal yang penting. Sebagai orang yang bergelut di bidang gender, menurutnya, kerusakan alam yang terjadi di Sumatera menimbulkan sakit hati terhadap perempuan.

“Apalagi ibu-ibu yang menyusui, mereka membutuhkan nutrisi yang baik untuk ASI,” ujarnya.

Dalam hal ini, Alfi menilai bahwa penggalangan dana melalui panggung ekspresi lebih efektif daripada penggalangan dana di jalan-jalan. Selain menghibur mahasiswa, panggung ekspresi tersebut juga menggugah hati mahasiswa agar peduli terhadap korban yang terdampak.

Terlebih, menurutnya, pemerintah tidak sanggup untuk menyalurkan dana kepada korban bencana di Sumatera. Alhasil, rakyat sudah tidak bisa lagi menggantungkan diri kepada pemerintah. Karena itu, solidaritas antarmasyarakat menjadi jalan paling nyata untuk saling menolong.

“Pemerintah tidak sanggup menyalurkan pajak kita untuk bencana di Sumatera. Rakyat bantu rakyat, korban bantu korban,” ujarnya.

Selain itu, Ahmad Zidan Muzakki, mahasiswa UIN, memandang konsep panggung ekspresi Sanggar Nuun adalah bentuk kepedulian terhadap bencana. Menurutnya, bentuk kepedulian tidak cukup di ranah pemerintahan yang bersifat formalistik struktural saja, melainkan harus di ranah kultural juga. Panggung ekspresi ini adalah cara memberikan rasa empati lewat ekspresi seni, terutama lewat musik. 

Bagi Zidan, urgensi penggalangan dana ini lahir dari kewajiban moral sebagai warga negara. Maka, mahasiswa sebagai warga negara harus memiliki peran menjaga harmoni sosial dan membantu saudara-saudara yang tertimpa bencana di Sumatera.

“Yang saya harapkan ya saling kerja sama, saling peduli sih,” pungkasnya.

Panggung ekspresi ini merupakan bagian dari rangkaian acara Equality Fest 2025. Acara tersebut juga didukung oleh Gasebu Pembebasan dan Keluarga Mahasiswa Pecinta Demokrasi (KMPD).

Reporter M. Afzaal Ali (magang) | Redaktur Ridwan Maulana