Home BERITA Halaqah Kubra KUPI Tekankan Urgensi Pelibatan Generasi Z dalam Perumusan Keagamaan

Halaqah Kubra KUPI Tekankan Urgensi Pelibatan Generasi Z dalam Perumusan Keagamaan

by lpm_arena

Lpmarena.com—Pelibatan Generasi Z dalam pembahasan dan perumusan persoalan keagamaan dinilai penting agar kebijakan dan fatwa yang dihasilkan tetap relevan dengan realitas sosial mutakhir. Hal itu disampaikan pengajar Ma’had Aly Nurul Jadid, Ahmad Husain Fahasbu, dalam sesi pertama Halaqah Kubra yang digelar Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) bertajuk “Membumikan Spirit Keulamaan Perempuan untuk Peradaban Islam yang Ma’ruf, Mubadalah, dan Berkeadilan Hakiki”  di Convention Hall (CH) UIN Sunan Kalijaga, Jumat (12/12).

Ia menuturkan bahwa anak muda merupakan subjek pengetahuan yang memiliki perspektif khas dan tidak dapat diabaikan dalam diskursus keagamaan. Menurutnya, selain perempuan, kelompok anak muda juga perlu dilibatkan secara aktif dalam proses produksi pengetahuan keagamaan.

“Kita juga harus lantang bagaimana anak muda dilibatkan sebagai subjek pengetahuan,” tegasnya.

Husain menilai bahwa perumusan kebijakan keagamaan, khususnya fatwa, selama ini masih kerap berjarak dengan pengalaman hidup anak muda. Padahal, persoalan yang mereka hadapi justru semakin kompleks dan membutuhkan respons keagamaan yang kontekstual. Menurutnya, pelibatan anak muda penting agar fatwa yang dihasilkan mampu menangkap realitas yang sedang mereka alami.

“Perspektif anak muda itu sangat diperlukan untuk merumuskan fatwa keagamaan. Minimal memasukkan fenomena yang terjadi dalam percakapan keagamaan, misalnya bagaimana pandangan Islam soal fatherless dan fear of missing out (FOMO),” imbuhnya.

Selain menekankan perumusan keagamaan, ia juga menggarisbawahi pentingnya melibatkan anak muda dalam struktur gerakan keagamaan. Pelibatan ini memungkinkan nilai-nilai agama disampaikan melalui pendekatan yang lebih komunikatif dan mudah dipahami masyarakat. Hal ini juga menjadikan gerakan keagamaan lebih responsif terhadap perubahan sosial.

“Untuk ukuran anak muda, apa yang terjadi hari ini, satu jam setelahnya sudah harus ada respons,” ungkapnya.

Dilansir dari Ikhbar.com, gerakan keagamaan mesti melakukan pendekatan yang relevan dengan budaya Gen Z. Maka, media sosial dinilai menjadi ruang strategis untuk menjangkau dan melibatkan anak muda, dengan penyajian pesan yang emosional, kultural, dan visual. Narasi keagamaan, termasuk sejarah, perlu dibingkai ulang dengan bahasa yang ringan tanpa kehilangan makna.

Senada dengan itu, Ketua Majelis Musyawarah KUPI, Badriyah Fayumi, menyatakan bahwa Generasi Z perlu dipahami bukan sekadar kelompok usia, melainkan subjek yang memiliki pengetahuan dan sudut pandang sendiri. Ia menilai, anak muda membutuhkan pendekatan khusus agar gerakan keagamaan mampu menyesuaikan diri dengan kondisi sosial saat ini.

“Mereka (Gen Z, Red.) butuh pendekatan dan tema yang khusus. Ini yang nanti akan kita bahas secara mendalam, tajam, dan serius di dalam halaqah,” ujarnya saat konferensi pers.

Sebagaimana diketahui, Halaqah Kubra ini digelar sebagai bagian dari rangkaian persiapan menuju Kongres KUPI ke-3 tahun 2027. Forum tersebut menjadi ruang bagi KUPI untuk memperdalam pembacaan atas realitas sosial, politik, dan keagamaan mutakhir.

Reporter Ridwan Maulana | Redaktur Wilda Khairunnisa