Lpmarena.com—Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Kalijaga mengeluhkan fasilitas parkiran yang tak kunjung dibenahi. Kondisi parkiran yang sempit membuat motor mahasiswa kerap mengalami baret ketika diparkir.
Muhammad Alana Sahasika Razan, mahasiswa FDK, menerangkan bahwa motor mahasiswa sering baret karena lahan parkiran yang sempit. Hal itu ditengarai motor yang diparkir jaraknya terlalu dekat dengan motor lainnya.
“Motor banyak banget, udah penuh gitu. Jadi banyak motor-motor yang desak-desakan,” katanya saat diwawancarai ARENA di Joglo Kopi Plumbon, Banguntapan pada Rabu (29/10).
Alana menilai, parkiran mahasiswa harus segera dibenahi oleh kampus. Menurutnya, parkiran layak merupakan hak mahasiswa. Ia sangat menyayangkan hanya parkiran dosen yang direvitalisasi. Padahal fasilitas parkir mahasiswa, menurutnya, sangat jauh dari kata layak.
“Kalau soal kenyamanan, kadang kita mahasiswa juga iri gitu ya. Kayak maksudnya ga ada iup-iupan (atap) gitu, kanopi gitu,” katanya.
Senada dengan itu, Hanif Faizudin, mahasiswa FDK lainnya, menyampaikan parkiran selalu kelebihan muatan. Hal itu membuat mahasiswa yang tidak mendapat lahan parkir terpaksa memarkirkan motornya di lahan yang tidak diperbolehkan untuk parkir. Parahnya, lahan parkir sampai memakan guiding block yang harusnya menjadi pemandu arah bagi difabel.
Hal itu disayangkan Hanif karena fasilitas kampus tidak sesuai dengan besaran Uang Kuliah Tunggal (UKT). Pasalnya, dengan UKT yang tinggi, mahasiswa harusnya mendapatkan fasilitas layak, termasuk parkiran.
“Fasilitas (parkiran, Red.) sangat minim. Kalau panas kepanasan dan kalau hujan kehujanan,” katanya saat diwawancarai ARENA di Gowok pada Rabu (29/10).
Dilansir dari tulisan ARENA bertajuk “Parkiran FUPI dan FDK Membludak, Satpam Kewalahan”, menandakan kampus enggan berbenah meski telah dikeluhkan mahasiswa dari tahun sebelumnya. Alih-alih menyediakan parkiran layak bagi mahasiswa, kampus justru hanya merevitalisasi parkiran khusus dosen.
Poniman, satpam parkiran FDK, menjelaskan jenis parkiran yang layak adalah memiliki atap dan lahan yang cukup untuk menampung kendaraan. Sedangkan, menurutnya, parkiran FDK tidak memenuhi syarat karena tidak ada tribun dan lahan yang sempit.
Selain itu, setiap tahun kuota mahasiswa baru terus bertambah tetapi lahan parkir tidak segera diperluas. Hal itu membuat parkiran semakin penuh.
“Tiap tahun kan kita nambah mahasiswa, sedangkan untuk pelebaran itu tidak pernah ada sama sekali. Kalau memang untuk kapasitas kondisi belum memungkinkan, ya minimal ditutup dulu lah,” katanya saat diwawancarai ARENA di parkiran FDK dan FUPI pada Jumat (28/11).
Poniman juga mengaku telah membicarakan masalah parkiran tersebut kepada pihak FDK dan disetujui. Namun, menurutnya, hal itu justru ditolak pihak universitas. Ia berasumsi, penambahan fasilitas parkiran dosen karena anggaran untuk membiayainya cukup sedikit dibanding untuk memfasilitasi atap penutup parkiran mahasiswa.
“Dulunya di atas itu kan cuma buat dosen dan karyawan yang tendik, sekarang yang di bawah ini cuma pemanfaatan tempat saja,” katanya.
Menanggapi hal tersebut, Radiman, Kepala Bagian Umum Biro Administrasi Umum dan Keuangan, menerangkan tidak ada penambahan fasilitas untuk parkiran yang ada di FDK. Hal itu lantaran tidak ada anggaran untuk membenahi parkiran.
Lebih lanjut, ia mengatakan pihak kampus berencana mengadakan pembukaan lahan parkiran baru di tahun berikutnya. Pembukaan lahan parkiran baru ini dengan memanfaatkan ruang terbuka hijau yang ada di bawah parkiran FDK.
“Nah nanti kalau kedepannya kita akan buat paving yang di area spot venue itu untuk perluasan area parkir yang di atas,” pungkasnya saat diwawancarai ARENA di Fakultas Kedokteran pada Selasa (18/11).
Reporter Faydh Jawahir Firdaus (magang) | Redaktur Rizqina Aida