Lpmarena.com–Kehadiran perempuan selayaknya terlibat banyak dalam pembahasan isu lingkungan. Kerja-kerja perempuan dalam mengasuh dan merawat kehidupan, berkelindan erat dengan upaya pelestarian alam. Mengabaikan hal itu, berarti mengabaikan perempuan sebagai lapisan kelompok paling terdampak dari kerusakan lingkungan.
Hal tersebut disampaikan oleh Arfi Hidayat, mahasiswa Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS) UGM sekaligus pemantik dalam Diskusi Film Dokumenter “Tambang Emas Ra Ritek” yang digelar oleh Majeng Community di Greenhouse UIN Sunan Kalijaga, Jumat (12/02) malam hari. Ia menjelaskan, struktur sosial selalu memposisikan kelompok perempuan menjadi lapisan paling bawah yang rentan akan ketertindasan.
“Karena kalo lagi ngomongin isu apa, nanti ujung-ujungnya akan ada di perempuan muaranya,” jelas Arfi.
Ditambah lagi, perempuan terbebani dalam peran penting dalam mewariskan kebudayaan lokal. Arfi menyebut, posisi perempuan sebagai agen epistemik yang mendasari keberlangsungan masyarakat. Pengetahuan lokal, seperti cara mengolah pangan dan menghidupkan ekonomi akan berisiko ikut menghilang sejalan dengan kerusakan alam yang terjadi di lingkungan sekitarnya.
Hal serupa diungkapkan oleh Alif Fatimatus Sya’diyah, Ketua umum Srikandi UIN Sunan Kalijaga. Ia menjelaskan, isu lingkungan akibat tambang, perempuan menjadi pihak paling terdampak dibanding lapisan kelompok lain. Ketersediaan air bersih misalnya, kondisi ini berkaitan erat dengan pekerjaan domestik yang kerap kali ditanggung oleh perempuan.
“Karena itu tadi tanggung jawab dia atas kerja-kerja domestiknya. Memberi makan anak, terus mengurus rumah, mencuci baju kan gitu-gitu,” jelas Alif saat diwawancarai terpisah.

Melihat kepentingan yang cukup besar tersebut, Alif menuturkan, perempuan masih belum diberikan ruang yang cukup untuk bersuara. Pasalnya, perempuan sering dianggap sebelah mata untuk mampu menyampaikan aspirasinya sendiri. Ditambah lagi beban kerja domestik membatasi waktu mereka untuk memperdalam pemahaman isu lingkungan secara kritis.
Namun begitu, Pahmi Attaptazani penggerak Front Nahdliyyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) berpendapat, situasi perempuan yang seringkali dianggap rentan justru berpotensi menjadi kekuatan besar dalam banyak basis gerakan perlawanan. Dalam kasus kekerasan negara misalnya, alih-alih goyah menghadapi ancaman, ia melihat perempuan justru cenderung termotivasi untuk terus melawan.
Pahmi mencontohkan, keadaan di Kendeng dan Padarincang, kelompok perempuan di sana dapat terlihat lebih gigih dalam aksi demonstrasi di lapangan. Hal itu sudah sering digunakan sebagai taktik perlawanan di banyak lokasi konflik.
Selain itu, menurut Pahmi, perempuan adalah pihak yang justru lebih cepat berkumpul dan melawan dibanding laki-laki. Melalui ruang sosial sehari-hari seperti mengobrol dalam kegiatan bersama, kelompok perempuan cenderung lebih dulu mendapatkan informasi dan membangun kesepakatan bersama. Bentuk konsolidasi sederhana itu yang membangun perlawanan secara lebih organik.
“Kalo bahasa kerennya ya konsolidasi. Tapi mereka melihatnya sebagai merumpi biasa, padahal merumpinya adalah gimana caranya melawan,” tandasnya.
Reporter Ghulam Ribath | Redaktur Ridwan Maulana | Foto Tim Dokumenter Acara