Home BERITA Fasilitas dan Sosialisasi Kurang Optimal Picu Sampah Sembarangan

Fasilitas dan Sosialisasi Kurang Optimal Picu Sampah Sembarangan

by lpm_arena

Lpmarena.com–Masalah sampah sembarangan di lingkungan UIN Sunan Kalijaga sudah menjadi praktik yang telah menahun disorot. Kondisi ini kerap disebut karena kurangnya akses terhadap fasilitas tempat sampah. Selain itu sosialisasi oleh kampus terkait masalah ini juga dirasa belum cukup berdampak.

Hal ini dikeluhkan oleh Achmad Khudaefi, mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam. Khudaefi menilai kepedulian mahasiswa hari ini terhadap pengelolaan sampah masih sangat minim. Ia menyoroti sampah seperti putung rokok, dengan kandungan kimia yang berbahaya bagi lingkungan, mudah terlihat terbuang serampangan.

“Bayangin satu orang lakukan itu di UIN, dan ada lima ribu perokok misalnya. Kalau mereka merokoknya lima kali dalam setiap kali ke kampus, lima ribu dikali tiga,” tegasnya saat diwawancara ARENA pada (23/11) di halaman Gedung MP UIN.

Menurut Khudaefi, persoalan sampah ini bukan hanya pada kesadaran individu, melainkan tanggung jawab kampus dalam menyediakan akses fasilitas tempat sampah yang memadai. Ia melihat, tempat sampah masih susah ditemui di berbagai titik tempat, seperti dalam gedung lantai atas. 

Kondisi tersebut dikonfirmasi oleh Abuzar, salah satu petugas kebersihan. Ia melihat mahasiswa yang kerap kali meninggalkan sampah begitu saja setelah selesai beraktivitas di lingkungan kampus. Menurutnya, perilaku tersebut disebabkan oleh minimnya jumlah dan penempatan tempat sampah yang kurang merata di lingkungan kampus.

“Mereka tidak mau membuang ke tempat sampahnya. Jadi ditaruh di situ saja, ga pernah dibawa ke tempat yang semestinya,” katanya saat diwawancara pada (25/11) di halaman Gedung Student Center UIN.

Menurut Abuzar, sikap acuh mahasiswa pada sampah juga dipengaruhi oleh sosialisasi dari kampus yang kurang berdampak. Menurutnya, sosialisasi hanya terlihat berdampak dalam kondisi penyelenggaraan event, dalam kondisi tersebut panitia mau untuk mengurusi sampahnya sendiri melalui penggunaan trash bag selama event berlangsung. Namun begitu, dalam hari-hari biasa ia masih kerap melihat mahasiswa tetap acuh terhadap sampahnya.

Menanggapi hal tersebut, Radiman, Kepala Bagian Umum Biro Administrasi Umum dan Keuangan, mengklaim pihak kampus sendiri sudah melaksanakan perannya dalam mengedukasi mahasiswa. Ia mengungkap, seperti sosialisasi melalui tim LPPM ataupun spanduk pengelolaan sampah, itu sudah termasuk cara mengedukasi secara tidak langsung.

“Nah itu dilakukan tujuannya yaitu menyadarkan semua insan,” jelas Radiman saat di wawancarai pada (8/12) di Gedung Rektorat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Menyoal sanksi, menurut Radiman hal ini masih belum diperlukan. Ia menganggap sanksi akan bersifat pribadi, sedangkan masalah sampah sendiri adalah masalah kolektif. Ia menambahkan, dosen dapat membantu proses sosialisasi melalui penyisipan dari setiap materi di kelas. Dengan begitu sosialisasi akan bekerja lebih efektif dan menyeluruh.

Menanggapi hal ini, Khudaefi cukup menyesalkan sosialisasi yang kurang efektif dari kampus. Ia menilai, slogan kampus menyoal wacana ekologi hanyalah sekedar usaha mengikuti tren.  Ia menyayangkan beragam seminar dengan topik lingkungan yang sudah memakan banyak anggaran, namun kurang membahas sosialisasi pengelolaan sampah secara praktis. 

“Daripada seminar-seminar wacana keren gitu, green economy, atau ekoteologi kayak gitu-gitu. Tapi ga menumbuhkan kesadaran tentang hal sederhana tadi, yaitu (seperti) membuang sampah, bagiku hanyalah hal yang sia-sia,” pungkas Khudaefi.

Reporter Aida Tulhusna (magang) | Redaktur Ghulam Ribath | Ilustrator Aileen Nazla Tiffany (magang)