Home SASTRAPUISI Aduh Tuan-tuan di Istana Takut dengan Api kecil: Puisi-Puisi Farid Merah

Aduh Tuan-tuan di Istana Takut dengan Api kecil: Puisi-Puisi Farid Merah

by lpm_arena

Aduh Tuan-tuan di Istana Takut dengan Api kecil
(Surat untuk Enrile, juga Yogi dan Azhar)

Di balik pintu baja di Magelang yang dingin dan sunyi,
kau menjelma detik paling jujur di tengah kuasa yang berdusta perih.
Mereka kurung ragamu, namun tidak dengan keberanianmu.
Keberanian akan terus memukul-mukul udara dingin, jadi suara yang menuntut dukung.
Tuduhan itu hanyalah selimut bagi tirani yang gemetar.
Kau telah menjadi palu yang menghantam kebodohan, dan
kebohongan yang besar.
Rezim ini, kawan, hanyalah kekuasaan yang akan membusuk pelan-pelan,
karena kelakuan mereka sendiri.
Mereka menikam nurani dengan narasi bohong dan undang-undang.
Mereka kira dinding itu adalah batas, padahal dinding itu hanyalah kayu yang akan segera luruh jadi abu,
terbakar api dalam hatimu.
Mereka kira kau sumbu, padahal kaulah api itu.
Penjara? Hanyalah drama picisan tempat para pecundang belagak gagah, dan berlaga cuma-cuma.
Kau adalah naskah utama yang membuat panggung kesadaran baru
akan segera terbuka.
Bukankah kau sudah memahami, bahwa cinta yang kau genggam ini adalah petaka yang dipuja-puja dengan sebutan negara,
yang selalu kau peluk dalam diam dan dingin, dalam suka dan duka.
Aku mencintaimu karena kau adalah keberanian.
Biar hari ini kau dirantai maut,
jangan pernah kau bernegosiasi dengan rasa takut.
Sebab keberanian, kawan, keberanian,
adalah hartamu satu-satunya.

Magelang, 2025

Laku Keras Kepala

Kami menghina takdir dengan ketekunan.
Takdir yang memaksa semua orang
menjadi restoran cepat saji, dan minuman bersoda.
Gaji adalah perhatian,
kasih sayang keluarga, dan kerabat yang dikaratkan.
Membuat rumah terlihat seperti pabrik, lengkap dengan buruh outsourcing berupah murah di dalamnya.
Amorfati. Om Swastiastu. Alhamdulillah. Fak Amerika.
Kami memaknai kegagalan sebagai rutinitas harian, bukan aib.
Kami memaknai keberhasilan sebagai kejutan yang membahagiakan.
Bukan sebuah hasil dari penjumlahan
satu ditambah satu sama dengan dua.
Sebab hati kami bukan kalkulator di peron kasir.
Kami enggan berpartisipasi dalam drama culas, dan berdarah.
Kami hanya ingin membuat jaring yang tak terserap pembukuan negara.
Misalnya seperti; kau beri aku ikan, kuberi kau obat agar sembuh semua luka lama dalam dirimu.
Dengan cara;
tidak melakukan perilaku yang dilakukan negara pada orang orang seperti kami (penelantaran, pengucilan, dan pengabaian) dalam segi apapun.
Sebab cinta bukan fatamorgana di Padang janji politik sepi.
Cinta adalah pelukan hangat, pada siapa saja yang butuh pelukan.
Berpegangan melawan, teror-teror kekuasaan,
dan teror-teror kejiwaan.

Magelang, 2025

Langit Sudah Dijual. Jangan Mengadu.

Terjangan air ini, bukanlah terjangan air, bukan tanah, bukan lumpur. Ini semua adalah tumpukan digit dari Saldo rekening para oligarki yang tak terhingga. B E N C A N A adalah ejaan yang salah dari praktik K E A D I L A N.
Pohon-pohon dan kayu-kayu gelondongan yang hanyut di tengah banjir itu bukan kayu, tapi doa-doa yang dicabut paksa, dijual demi komisi berlipat ganda. Akibatnya sungai-sungai kini tak lagi mengalirkan air, tapi dosa.
Sebab setiap gelembungnya adalah laba yang tak akan pernah bisa terbayar dampaknya,
oleh tuan tuan pemilik konsesi di Jakarta sana.
Langit sudah bukan lagi tempat mengadu, sebab imajinasi kami sudah disensor, jalurnya juga sudah ditutup. Sudah dikuasai oleh para tuan tuan, dijadikan tempat bersembunyi. Atau
Sekadar tempat untuk menutup mata
dari segala kehancuran ini.
Rumah-rumah kami roboh,
seperti kepercayaan kami
Pada pemimpin yang tunduk pada modal.
Siapa yang tahu di mana letak kebijaksanaan?
Mungkin hanyut oleh banjir, atau
lenyap, ditelan pejabat yang takut miskin.
Persetan pemimpin, persetan pemerintah.
Bagi mereka, bencana adalah laporan keuangan
dengan biaya tak terduga. Di Televisi mereka mengucapkan belasungkawa dengan intonasi iklan baru.
Kami. Bukan Korban. Sejak saat ini kami bersaksi akan jadi musuh abadi kalian.
Lumpur ini, kertas dinding baru.
Tempat mengeja, masa depan. Tak terhutang.
Tak perlu belas kasihan. Hanya Titik tajam.
Puing ini. Gramatika perlawanan.
Kami takkan lagi minta Surga pada kalian.
Cukup ukir dendam ini. Pada genteng pecah tawar. Api. Satu-satunya di hati kami yang tak padam. Terima kasih. Sungguh Manis rasa.
Lumpur Abadi. Warisan kalian, adalah mahar perlawanan. Kami Bangkit. Tanpa izin. Membakar segala di depan.

Magelang, 2025

FARID MERAH Seorang gerilyawan dari Chiapas, yang sekarang bermukim di Rojava.

Ilustrator Siti Hajar Fauziah | Editor Ridwan Maulana