Home SASTRAPUISI Teringat Kahlil: Puisi-Puisi Yanuar Abdillah Setiadi

Teringat Kahlil: Puisi-Puisi Yanuar Abdillah Setiadi

by lpm_arena

Teringat Kahlil

Di sore yang diguyur hujan,
aku membaca lini masa.
Manusia berkicau dengan bahasa yang
sesuka hatinya.
Kicau-kicau itu kian samar terdengar
karena bertabrakan di angkasa.
Dalam samar itu, aku seperti mendengar sajak
yang dititipkan Kahlil pada angin
“hakikat manusia adalah diam,
berbicara hanyalah tambahan.”
Angin pun lerai seketika
mencumbu telinga dan mendobrak angkasa jiwa.

Purbalingga, 2026

_

Rumput Tetangga

Tidak ada yang lebih hijau dari rumput tetangga
atau barangkali mata kita saja yang silau
dengan kemilau harta, tahta dan dunia.
Rumput-rumput yang hijau itu pun
akan menguning dicat oleh waktu
lama kelamaan ia akan menua
dan terkubur dalam tanah.

Purbalingga, 2026

_

Sajak Jangan

Janganlah kau beri makan
rasa rendah dirimu dengan
konten-konten di media sosial
yang justru akan meracuni
dirimu dengan
rasa kufur nikmat.

Purbalingga, 2026

_

Dua Alam Pikiran

Jangan harap engkau bisa merubah alam objektivitas
yang telah di “kun” oleh Sang Maha Pencipta.
Kau bisa melukis alam subjektivitas sekehendakmu
tentang langit yang tak mesti berwarna biru,
tentang tetumbuhan yang tak selamanya hijau, menguning dan cokelat,
tentang manusia yang tak selamanya berbicara.
Kau bisa menyihir langit selalu berwarna senja
supaya harimu tidak setergesa siang dan pagi yang pikuk.
Atau, kau bisa merubah daun dari muda hingga tua tetap hijau saja
karena cokelat mengingatkanmu pada tanah
dan tanah mengingatkanmu pada manusia
sementara tangan-tangan usilnya membahayakan tetumbuhan.
Kau juga bisa leluasa membungkam mulut manusia
supaya telinganya lebih peka mendengar alam,
mendengar malam, mendengar hewan dan
mendengar rintik-rintik hujan.

Di alam subjektivitas aku ciptakan
idealitas yang tak bisa diinjak oleh
pikiran manusia yang kadang
memiliki standar-standar kaku.

Purbalingga, 2026

_

Andai Aku Hidup Seorang Diri di Dunia

Nilai yang disandarkan pada benda di abad ini kian tak masuk akal
Emas yang tidak bernyawa dianggap tuan
Sedangkan kawan yang bisa membantu tanpa pamrih
dianggap budak suruhan

Andai aku hidup seorang diri di dunia
akan aku jadikan kertas-kertas
yang bernilai itu sebagai bahan bakar di tungku perapian.
Kertas yang katanya bisa membeli ini dan itu.

Beberapa bongkahan emas pun akan aku jadikan
penyangga tungku agar api kian nyalang.
Akan aku tunjukan pada manusia modern
bahwa prioritas mereka hanyalah fatamorga
yang membuat dahaga kian meradang.

Jika aku tinggal seorang diri di dunia,
tidak akan aku ciptakan kerajaan, sekat-sekat,
monarki, khilafah, serikat dan kota-kota.
Tidak mau aku menjadi pemimpin
pun tidak mau aku menjadi rakyat.
Aku hanya ingin menjadi manusia
seutuh-utuhnya.

Akan ku tunjukan kasih sayang pada hewan-hewan,
pada alam, pada laut, pada tanah, pada senja.
Kasih sayang tanpa birahi yang membakar nurani
dan kejernihan budi akal yang luhur.

Jika aku tinggal seorang diri di dunia,
maka tidak ada diksi kesepian.
Yang ada justru hanyalah nyawiji kawula gusti.

Purbalingga, 2026

_

Yanuar Abdillah Setiadi lahir di Purbalingga, Januari 2001. Mukim di Desa Timbang, Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga. Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Islam UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Alumnus Pendidikan Bahasa Arab di kampus yang sama. Tiga buku mutakhirnya berjudul Mengaji Pada Alif (2023), Melihat Lebih Dekat (2024). Wajah Purwokerto: Antara Cinta, Suka dan Duka di Kota Satria (2026). Nominator Terminal Award Mojok.co Yogyakarta tahun 2023. Karyanya termuat di berbagai media. Instagram: @yanuarabdillahsetiadi.

Ilustrator Siti Hajar Fauziah | Editor Ridwan Maulana