Home BERITA Gusdurian dan Puan Amal Hayati Gelar Sahur Bersama Bahas Krisis Demokrasi

Gusdurian dan Puan Amal Hayati Gelar Sahur Bersama Bahas Krisis Demokrasi

by lpm_arena

Lpmarena.com– Gusdurian Jogja dan Puan Amal Hayati mengadakan sahur bersama gratis dengan tema “Puasa Berbalut Bencana dan Goyahnya Demokrasi” pada Selasa (03/03) di Laboratorium Agama UIN Sunan Kalijaga. Kegiatan tersebut menjadi forum refleksi atas kondisi bangsa yang tengah menghadapi berbagai persoalan, khususnya melemahnya demokrasi yang berdampak pada menurunnya kualitas layanan publik.

Pandu Prayogo, ketua acara, menjelaskan bahwa tema sahur ini sengaja dipilih untuk merespon situasi sosial-politik yang sedang terjadi di Indonesia. Menurutnya, berbagai permasalahan yang terjadi serta semakin lemahnya demokrasi menjadi latar belakang utama kegiatan sahur bersama.

“Sebenarnya itu juga merespon kondisi negara saat ini, ya. Bahwa banyak bencana yang terjadi dan demokrasi yang lemah di ruang-ruang sipil,” ujar Pandu saat diwawancarai ARENA.

Pandu menilai  meski negara mengaku telah menjalankan sistem demokrasi, tetapi selama ini negara masih absen dalam melindungi warganya, khususnya kelompok rentan dan minoritas. Hal itu terlihat dari masih banyaknya hak-hak warga negara yang belum terpenuhi. 

Menurutnya, kegiatan tersebut diharap dapat menjangkau kelompok rentan dan minoritas yang selama ini termarjinalkan oleh negara. Maka, selain menjadi ruang refleksi sosial, kegiatan sahur bersama menjadi wadah berkumpulnya lintas kelompok masyarakat. 

“Seperti yang dilihat tadi, ada beberapa tadi dari teman-teman difabel, kita kasih ruang untuk teman-teman ojek online, dan kita juga mengundang jejaring lintas iman. Tadi ada beberapa pendeta, terus teman-teman Konghucu,” ujarnya.

Ia menambahkan, dengan berkumpulnya berbagai kelompok masyarakat dalam forum tersebut dapat merawat keberagaman yang selama ini terpolarisasi. Pasalnya, semangat merawat keberagaman tidak terlepas dari sejarah Indonesia yang lahir dari perjuangan berbagai kelompok masyarakat dengan latar belakang suku, ras, dan agama yang berbeda.

“Jadi kita ingin mengingatkan dan saling menjaga persatuan dan rasa toleransi,” katanya. 

Slamet Basuki, penghayat kepercayaan, mengaku terkesan dengan kegiatan sahur lintas kelompok masyarakat tersebut. Ia menilai kegiatan seperti ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai kebhinekaan masih dirawat oleh sebagian masyarakat Indonesia.

Ia juga menyoroti momen ketika berbagai kelompok minoritas diminta memperkenalkan diri dalam acara tersebut. Menurut Slamet, hal seperti itu memiliki makna besar terutama ketika dilakukan di tengah kelompok mayoritas.

“Saya juga angkat tangan, itu kan jarang sebenarnya. Kalau di antara sesama kan biasa, tapi di (lingkungan, Red.) mayoritas seperti itu, meskipun hanya angkat tangan, nilainya luar biasa,” jelas Slamet saat diwawancarai ARENA pada Rabu (04/03) di Sanggar Candi Sapta Rengga Yogyakarta.

Slamet juga melihat semangat inklusivitas tersebut tidak bisa dilepaskan dari warisan pemikiran mendiang Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur, tokoh yang menurutnya dikenal memperjuangkan pluralisme dan perlindungan terhadap kelompok minoritas. Menurutnya, kebijakan Gus Dur saat menjadi presiden, seperti pengakuan terhadap agama Konghucu memberikan dampak positif bagi kelompok minoritas di Indonesia.

“Saya melihat diakuinya konghucu sebagai agama resmi. Dan itu otomatis, kelompok minoritas-minoritas yang lain ini, meskipun gak ketara banget, terasa ikut terangkat juga,” ujarnya.

Lebih jauh, Slamet menjelaskan bahwa keberagaman merupakan fondasi berdirinya Indonesia. Ia mengingatkan bahwa semboyan Bhineka Tunggal Ika merupakan sebuah prinsip dan sikap yang harus terus dirawat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Kita harus mampu merawat itu, menjaga itu, sepanjang hidup kita. Walau kita ini terpisah, oleh lautan, oleh agama, oleh suku. Tetap kita direkatkan oleh Bhineka Tunggal Ika,” pungkasnya.

Reporter Bahtiar Yusuf Efendi | Redaktur Ridwan Maulana | Foto Tim Dokumentasi Gusdurian