Lpmarena.com—Mahasiswa hari ini dirasa kurang bisa memaksimalkan potensi dirinya. Hal ini disampaikan Rahmadhani Enggiek atau yang biasa disapa Rimbun, penyusun naskah lakon Taskhir, saat diwawancarai setelah pementasan. Naskah lakon tersebut merupakan susunan ulang dari puisi-puisi Muhammad Iqbal dalam tema “Penaklukan Alam” yang digelar pada Tadarus Puisi XXVII Teater Eska di Gelanggang Teater ESKA UIN Sunan Kalijaga, Sabtu (7/3).
Berbeda dengan Tadarus Puisi sebelumnya yang rutin digelar tiap tahun, Rimbun mengatakan Tadarus Puisi kali ini berusaha lebih dekat menyesuaikan isu sekitar agar tetap relevan dengan situasi hari ini.
Berangkat dari hal ini, melalui diskusi dan pembahasan internal ESKA, diputuskan puisi Muhammad Iqbal tersebut sebagai inspirasi dalam pementasan kali ini. Menurut Rimbun, hal ini relevan bila menjadi pembanding atas kondisi saat ini. Ia menjelaskan, keinginan Muhammad Iqbal agar manusia dapat memenuhi potensinya. Hal ini berbeda bila melihat mahasiswa yang seharusnya aktif berkarya justru kini terkesan pasif.
“Mahasiswa itu erat kaitannya dengan makhluk yang berpikir. Mahasiswa yang aktif secara otak, secara tangannya gak pasif. Kalau membuat sesuatu itu harusnya gatel membuat sesuatu. Kemudian sekarang kok kayaknya sudah menurun. Apa ini yang salah? Kita mencoba untuk memperdalam kembali dan sedikit mengetuk kesadaran itu,” jelasnya saat diwawancarai pada Sabtu (7/3).
Rimbun menjelaskan, untuk dapat memaksimalkan potensi diri, manusia harus bisa mengendalikan nafsu-nafsunya. Muhammad Iqbal menggunakan konsep tingkatan nafsu amarah, lawwamah, serta mulhimah sebagai hal yang semestinya dapat dikendalikan oleh manusia. Dalam hal ini, nafsu-nafsu tersebut termanifestasikan dalam bentuk lakon pementasan.
Anggel, pemeran lakon lawwamah, menceritakan perannya sebagai representasi sifat yang menempati kedudukan paling tinggi dari dua sifat nafsu lainnya. Dalam pementasan tersebut, ia menjadi sosok yang diharapkan dapat mengendalikan sifat nafsu lain.
“Jadi yang mencapai khudi (Ego) pertama itu aku. Tadi ada di adegan memegang lampu ilmu pengetahuan itu aku,” ungkapnya.
Berlawanan peran dengan Anggel, Ahmad Sulton Afauna menceritakan perannya sebagai representasi nafsu amarah. Peran yang Sulton lakoni merupakan manifestasi dari nafsu yang hanya ingin mencari kesenangan. Dalam hal ini, lakon karakternya berperan merayu pemeran lainnya untuk ikut terjerumus dalam kebahagiaan sementara.
“Kalau aku adalah nafsu amarah, sosok yang hanya menuruti hawa nafsu, semaunya lah. Posisiku, aku memiliki kebahagiaan yang fana,” paparnya.

Pementasan tersebut telah meninggalkan kesan tersendiri bagi penonton. Salah satunya Ana Rahmawati, yang juga tergabung dalam Teater Sirat. Ia menilai pementasan ini bernuansa semi surealis sehingga memberi ruang bagi penonton untuk memaknainya secara subjektif.
Ia teringat salah satu adegan ketika seorang tokoh berkeliling panggung sambil membawa lampu. Baginya, adegan tersebut dapat dimaknai sebagai upaya seseorang dalam mencari potensi dirinya yang hilang.
Pendapat serupa disampaikan Muhammad Saefuddin, mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam (FUPI) yang turut menonton pementasan. Ia menilai ada kesan kondisi “hilang arah” yang ingin disampaikan dalam pertunjukan lakon tersebut.
Menurut Saef, pesan tentang pengendalian nafsu menjadi jawaban atas kondisi tersebut, terutama di tengah banyaknya distraksi yang hadir dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
“Di sela-sela kita melihat banyak hal dan melakukan banyak hal di media sosial, Teater Eska sepertinya mengingatkan kita bahwa kita masih punya sisi-sisi nafsu yang seharusnya membuat kita sadar untuk tidak selalu terdistraksi,” pungkasnya.
Reporter Ilham Khairun | Redaktur Ghulam Ribath | Fotografer Rizqina Aida