Lpmarena.com-UIN Sunan Kalijaga menggelar kegiatan tahunan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) yang diikuti oleh 5.710 mahasiswa baru (maba). Acara tersebut berlangsung pada Rabu-Jumat (19–21/08), di Gedung Multipurpose (MP) dan gedung fakultas.Â
Jumlah maba tersebut membuat Panitia PBAK memberlakukan kebijakan larangan membawa kendaraan pribadi ke area kampus selama kegiatan berlangsung. Aturan ini diklaim sebagai buah dari hasil kesepakatan antara Sub Bagian Keamanan kampus dengan panitia PBAK-U.
Akhmad Abdillah, Ketua Panitia PBAK-U, menjelaskan bahwa kebijakan tersebut diterapkan untuk memudahkan pengaturan dan mobilisasi peserta PBAK di lingkungan kampus.
“Memang betul adanya imbauan itu. Tujuannya agar lahan sebisa mungkin bisa dipakai untuk pengkondisian dan mobilisasi peserta. Maka tidak digunakan (lahan parkir kampus–Red) untuk parkir kendaraan,” ujar Akhmad kepada ARENA melalui WhatsApp pada Selasa (25/08).
Meski demikian, kebijakan tersebut mendapat keluhan dari beberapa mahasiswa. Dito (bukan nama sebenarnya) berpendapat bahwa kebijakan ini berdampak buruk bagi mahasiswa yang berdomisili jauh dari kampus. Pasalnya, biaya transportasi yang dikeluarkan akan cukup besar jika mahasiswa memilih tidak membawa kendaraan pribadinya.
“Menurutku itu peraturan konyol banget, kan ini setiap orang beda-beda kondisinya. Dan pengeluarannya juga beda-beda ya,” ujar Dito saat diwawancarai ARENA pada Jumat (21/08) di daerah Timoho.
Lebih lanjut, Dito mengatakan bahwa kondisi ini semakin memberatkan mahasiswa baru yang telah banyak mengeluarkan biaya untuk kebutuhan seperti atribut PBAK dan penyerahan berkas.
Setali tiga uang, Wulan Narifah Ramadhani, mahasiswa baru Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) asal Bantul, mengeluhkan hal serupa. Selain jarak yang cukup jauh, kata Wulan, membawa sepeda motor dinilai lebih menghemat biaya transportasi selama PBAK.
“Menurutku nggak efektif buat yang rumahnya jauh. Aku dari Bantul, kalau buat Gojek kan pergi-pulang Rp50 ribu lebih. Kalau tiga hari ya Rp150 ribu, mending buat motoran aja,” ujar Wulan.
Atas pertimbangan tersebut, Wulan memilih tetap membawa sepeda motor meski harus menghadapi kesulitan mencari tempat parkir dan risiko sanksi yang sebelumnya telah disampaikan oleh panitia fakultas.
Dirinya berharap agar larangan tersebut tidak kembali diberlakukan di tahun selanjutnya.

Kendaraan roda dua mahasiswa diparkir di halaman depan Kopma (Foto: Aulia Lana Supriyanto)
Dalam wawancara ARENA bersama Akhmad Abdillah, diketahui bahwa panitia PBAK sudah menyediakan tempat parkir yang berlokasi di depan Koperasi Mahasiswa (Kopma) untuk maba yang berdomisili jauh dari kampus.
Namun, berdasarkan pantauan ARENA, lahan parkir tersebut tidak mencukupi untuk mahasiswa baru yang datang dan memakai kendaraan pribadi. Akibatnya, banyak mahasiswa yang memilih parkir di tempat lain seperti depan rumah warga dan lapangan terbuka.
Pada hari kedua PBAK, saat memarkirkan sepeda motornya di Kopma, Dito justru mendapat teguran dari salah satu panitia.
“Ya, kemarin hari kedua aku keciduk parkir di koperasi. Tapi aku dimarahin sama panitianya. Dari prodi mananya ditanyain,” pungkasnya.
Reporter Aulia Lana Supriyanto & Wahida Ghumaida Az Zahra | Redaktur Ilham Khairun | Foto Aulia Lana Supriyanto & Wahida Ghumaida Az Zahra