Home BERITA Atribut PBAK Kuras Kantong Peserta, Siapa Ambil Untung?

Atribut PBAK Kuras Kantong Peserta, Siapa Ambil Untung?

by lpm_arena

Demi mengikuti kegiatan Pengenalan Budaya Kampus dan Akademik (PBAK), Fasya, Rifa, dan beberapa mahasiswa lain mesti merogoh kocek lebih dalam untuk memperoleh atribut yang ditentukan oleh kepanitiaan. Selain mahal, beberapa atribut juga dinilai bersifat sekali pakai.

Lpmarena.com–Lalu Muhammad Rifyal Fasya, mahasiswa baru Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), mengaku menghabiskan uang hingga Rp575.000 untuk membeli atribut keperluan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK). Atribut tersebut meliputi tanda pengenal (co-card), pin, kain jarik, blangkon, kemeja, celana, hingga sepatu pantofel.

Dengan jumlah uang tersebut, Fasya mengaku keberatan. Pasalnya, ada tanggungan lain yang harus ia bayar seperti biaya sewa tempat tinggal hingga perlengkapan dan kebutuhan sehari-harinya.

“Ngurangin uang bulanan aku selama di Jogja. Lumayan menguras uang pribadi. Kita sebagai maba disuruh beli ini itu,” ujar Fasya saat diwawancarai ARENA pada Selasa (25/08), di warung kopi Blandongan.

Pendapat Fasya, kondisi ekonomi mahasiswa baru bersifat beragam sehingga tidak dapat dipukul rata. Meski demikian, dirinya hanya bisa mengaku pasrah. “Tapi ya sebagai maba, kita cuma ngikut aja.”

Besaran harga tiap atribut turut beragam. Co-card dan pin dibeli Fasya seharga Rp10.000, kain jarik Rp35.000, dan blangkon seharga Rp35.000. Sementara kemeja hitam dan celana ia peroleh dengan total harga Rp170.000, kemeja putih seharga Rp70.000. Paling mahal, Fasya membeli sepatu pantofel seharga Rp200.000 di daerah asalnya.

“Aku belinya pas masih di Lombok, jadi harganya lebih mahal lagi, beli langsung di toko waktu itu,” keluh Fasya.

Fasya juga perlu merogoh saku untuk membeli paket bundling berupa balon, slayer, dan tas serut seharga Rp55.000 dari kepanitiaan PBAK fakultasnya. Total, Fasya telah mengeluarkan uang sebesar Rp575.000 demi memperoleh penampilan yang ditentukan kepanitiaan.

Di luar atribut tersebut, Fasya masih harus mengeluarkan biaya lain. Dirinya juga harus rela mengeluarkan uang untuk memenuhi kebutuhan makanan selama tiga hari pelaksanaan PBAK. Setiap harinya, panitia memberikan ketentuan makanan yang berbeda. Mulai dari apel, telur puyuh, biskuit, sosis, Tango, Teh Pucuk, Pocari, Bang-Bang, hingga donat. Untuk memenuhi ketentuan tersebut, Fasya mengeluarkan Rp45.000.

Senada dengan itu, Faza Datu Rif’atin, peserta PBAK fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), mengeluhkan hal serupa. Dirinya mengaku mengeluarkan uang sebesar Rp296.000 untuk membeli atribut. Demi kain batik, dirinya mesti merogoh kocek sebesar Rp130.000. Ditambah paket bundling yang terdiri dari pin, stiker, tas serut, slayer, hingga lightstick seharga Rp50.000.

Selain itu, Rifa harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mencetak lambang logo lampu seharga Rp15.000, kertas karton untuk sampul buku Rp10.000, id card Rp2.000, buku tulis dan pulpen Rp22.000, pita Rp3.000, ikat pinggang hitam Rp20.000, fotokopi KTP Rp2.000,  serta makanan dan minuman seharga Rp42.000. 

“Menurutku itu buang-buang uang dan  buang-buang tenaga juga,” ungkapnya saat diwawancarai ARENA pada Jumat (21/08).

Tak ada biaya khusus yang ia peroleh dari keluarganya, beban itu ia panggul sendiri. Akibatnya, Rifa mesti berhemat dengan mengurangi uang jajan hariannya. Dirinya berharap jumlah atribut yang wajib dibeli tidak berlebihan.

“Pokoknya jangan kebanyakan beli. Kalau beli, ya cukup Rp15.000–20.000 aja. Nggak usah banyak nge-print, buat buku, dan sejenisnya,” ujar Rifa.

Penentuan atribut PBAK pada dasarnya berada di tangan masing-masing kepanitiaan. Tidak ada ketentuan seragam dari universitas mengenai jenis maupun jumlah atribut yang harus digunakan mahasiswa baru. Kondisi tersebut membuat setiap fakultas memiliki kebijakan atribut yang berbeda-beda, mulai dari pakaian, perlengkapan kegiatan, hingga barang-barang pendukung lainnya.

Akibatnya, mahasiswa baru tidak hanya berhadapan dengan kewajiban mengikuti PBAK, tetapi juga daftar barang yang harus dipenuhi sesuai keputusan dari kepanitiaan.

Tak hanya Fasya dan Rifa, keluhan sama juga terungkap dari hasil survey ARENA. Berdasarkan survey ARENA, 85% responden dari total 46 peserta PBAK dari Fakultas Sains dan Teknologi (FST) mengaku keberatan dengan biaya yang dikeluarkan untuk keperluan atribut, sementara sisanya tidak. Lebih luas, 57% dari 91 responden yang terdiri dari berbagai fakultas selain fakultas Kedokteran juga mengaku keberatan.

Sebanyak 76% responden dari FST mengaku mengeluarkan lebih dari Rp200.000 untuk membeli atribut PBAK. Sementara itu, 6,5% responden mengeluarkan Rp150.000–Rp200.000, sedangkan sisanya menghabiskan Rp100.000–Rp150.000.

Besarnya pengeluaran tersebut menjadi beban bagi sebagian mahasiswa, terutama mereka yang baru mulai hidup mandiri sebagai anak kos. Salah satu responden dalam survei ARENA mengaku harus mengatur kembali kebutuhan hariannya setelah membeli atribut PBAK.

“Saya baru mulai kehidupan sebagai anak kos dalam dua minggu terakhir, tetapi sudah harus mencari cara bagaimana saya bertahan hidup cuma gara-gara membeli atribut dan perlengkapan PBAK. Saya untuk makan tiga kali sehari saja hanya menghabiskan Rp9.000. Rp3.000 untuk sekali makan,” tulisnya dalam borang.

Mahal dan Sekali Pakai

Fasya menilai sebagian atribut PBAK hanya akan digunakan dalam jangka pendek. Slayer, blangkon, dan jarik, misalnya, menurutnya tidak akan ia gunakan kembali setelah PBAK karena tidak sesuai dengan kesehariannya sebagai mahasiswa asal Lombok.

Di sisi lain, beban pengeluarannya bertambah karena ia juga harus membeli berbagai perlengkapan untuk mengisi kos yang masih kosong.

“Aku dapat kos-kosan yang kosongan, jadi makin berat. Total beli perlengkapan kos habis sekitar 3 jutaan,” terangnya.

Peserta PBAK berada di gedung Multi Purpose (Foto: Alif Abdurrahman dan Tim Dokumentasi FORKOM)

Fasya juga menyayangkan kewajiban memakai sepatu pantofel. Karena tak punya, ia terpaksa membeli meski sudah memiliki sepatu lain yang bisa digunakan untuk kuliah.

Senada dengan Fasya, Rifa menilai sejumlah atribut PBAK minim manfaat setelah acara berakhir. Slayer dan lightstick, misalnya, menurutnya hanya digunakan sekali. Bahkan, batik kuning yang menjadi atribut dengan harga paling mahal pun tidak berniat ia gunakan kembali. 

Keberatan serupa juga dirasakan Damar Wibisono, mahasiswa baru Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISHUM). Menurutnya,  atribut yang diwajibkan panitia PBAK di fakultasnya ada yang tidak penting,  terutama tas kardus yang harus dibuatnya dari kertas asturo, selang, dan lem.

“Tas kardus jelas nggak penting, paling setelah PBAK bisa buat kandang kucing,” ujarnya.

Damar mempertanyakan urgensi dari kewajiban membuat tas dengan bahan dan bentuk yang seragam, jika toh setelah PBAK usai, atribut tersebut hanya berakhir sebagai barang tak terpakai. Ia berharap ke depannya panitia cukup menentukan tema besar saja, lalu menyerahkan sisanya pada kreativitas masing-masing mahasiswa baru, tanpa keharusan menggunakan bahan yang sama seperti selang untuk gendongan tas.

Dari segi manfaat jangka panjang, atribut-atribut PBAK ini juga dinilai kurang berguna oleh mahasiswa baru Saintek. Berdasarkan penelusuran tersebut, hanya satu dari 46 responden atau 2,2 persen yang yakin atributnya akan sering dipakai lagi setelah PBAK usai. Sementara itu, 47,8 persen mengaku atributnya hanya akan terpakai sekali saja, 41,3 persen menjawab mungkin akan dipakai beberapa kali saja dan 8,7 persen sisanya memilih kombinasi dari kedua jawaban tersebut. 

Ada Patgulipat di Balik Atribut PBAK?

Karena atribut yang dibutuhkan mahasiswa baru cukup beragam, kebutuhan tersebut turut membuka ruang bagi pihak lain untuk menjualnya. Sejumlah kepanitiaan PBAK di beberapa fakultas hingga Dewan Mahasiswa (Dema) bahkan ikut menyediakan atribut dalam bentuk satuan maupun paket bundling.

Di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), Dema FITK menawarkan dua paket atribut kepada mahasiswa baru. Melalui unggahan Instagramnya, paket hemat berisi pin logo akrilik, lightstick, dan tas serut dijual seharga Rp45.000. Sementara paket lengkap yang menambahkan slayer dibanderol dengan harga Rp50.000. 

Winda Astutiningtyas, Wakil ketua Dema FITK, mengatakan bahwa penjualan atribut ini sebenarnya bukan program kerja resmi Divisi Kewirausahaan Dema FITK. Dirinya mengaku bahwa hal tersebut bermuara dari permintaan langsung dari Winarti selaku Wakil Dekan III saat rapat koordinasi agar Dema turun tangan demi memenuhi kebutuhan atribut maba.

“Nanti Dema yang handle buat memenuhi kebutuhan atribut-atribut,” jelas Winda meniru perkataan Winarti saat ditemui ARENA pada Kamis (03/9) di bilangan Sorowajan.

Karena modal terbatas, Dema FITK meminjam dana dari Wakil Dekan III untuk memesan atribut. Penjualan kemudian dilakukan dengan sistem pre-order (PO) pada 9–13 Agustus. 

“Ada sih. Berapa juta gitu,” paparnya.

Ketika ditanya mengenai keuntungan yang diperoleh, Winda tidak menyebutkan nominal secara spesifik. Ia mengatakan uang yang tersisa digunakan untuk sejumlah kebutuhan lain.

“Nggak banyak, sisanya itu kita kasih beliin stiker gratis, sama biaya buat jasa antar, ongkir, sama buat makan panitia,” terangnya.

Selain Dema FITK, panitia PBAK FISHUM dan FEBI juga melakukan hal serupa.

Panitia PBAK FISHUM menjual slayer seharga Rp12.000 dan pin Rp8.000. Mereka juga menyediakan paket bahan pembuatan tas kardus yang terdiri atas kardus, kertas asturo, dan selang seharga Rp16.000. 

Muhammad  Azril  Hamzah, ketua PBAK FISHUM, mengatakan penjualan pin dan slayer  tersebut merupakan hasil kerja sama panitia dengan salah satu vendor bernama Solusi Mahasiswa. Menurutnya, vendor tersebut sengaja digandeng untuk menekan harga atribut yang kerap melonjak ketika momen PBAK. 

Dirinya juga menegaskan bahwa panitia tidak mengambil keuntungan sepeser pun dari kerja sama tersebut.

“Kami tidak mendapat komisi sepeser pun dari kerja sama ini. Tujuan kami murni untuk memudahkan maba dari golongan ekonomi menengah ke bawah,” katanya pada Jumat (21/08) di selasar FISHUM.

Sementara itu, panitia PBAK FEBI, melansir postingan dari akun resmi Instagram bernama @pbakfebiuinsuka, paket bundling berisi balon tepuk, tas serut, dan slayer dijual seharga Rp55.000.

Cuplikan layar paket bundling Dema FITK dan panitia PBAK FEBI (Foto: postingan Instagram @pbakfebiuinsuka dan @demafitk_uinsuka)

ARENA mencoba menemui kepanitiaan PBAK FEBI pada hari ke tiga PBAK yang waktu itu berkumpul di dalam gedung fakultas. Saat diminta untuk diwawancarai, tak ada satu pun anggota kepanitian yang berkenan untuk memberikan penjelasan soal penjualan bundling atribut peserta.

Kami juga melakukan penelusuran terhadap kepanitiaan FST. Melalui pesan WhatsApp, ARENA  menanyakan perihal penjualan atribut PBAK kepada ketua panitia PBAK FST, Dimas Naufal. Ia mengaku panitia PBAK FST tidak menjual atribut sama sekali.

Namun, keterangan berbeda disampaikan salah satu mahasiswa baru. Karman, bukan nama sebenarnya. Menurutnya, panitia memang tidak menjual atribut secara langsung, tetapi merekomendasikan vendor tertentu kepada mahasiswa baru. Atribut tersebut ditawarkan dalam satu paket seharga Rp115.000 yang berisi topi biru, balon tepuk, tas serut, scarf, dan scrapbook.

Karman menilai informasi mengenai atribut dan dress code diberikan dalam waktu yang cukup singkat. Informasi tersebut, katanya, baru disampaikan ketika technical meeting, empat hari sebelum PBAK berlangsung. 

“Memang disengajain mepet, agar tidak ada vendor lain yang menyanggupi, kalaupun ada ya hanya terbatas,” curiga Karman.

Fasya berharap, kedepannya panitia PBAK lebih selektif menentukan atribut-atribut yang digunakan saat PBAK.

“Menurutku, atribut yang nggak perlu dan nggak dipakai jangka panjang sebaiknya dikurangi.  Ini supaya lebih terjangkau buat semua maba, karena gak semua orang mampu buat beli,” pungkasnya.

Reporter Muhammad  Afzaal Ali Al Fathari | Redaktur Wildan Humaidyi | Foto Tim Dokumentasi FORKOM