Home BERITA Cerita Nelayan Tanpa Perahu Bertahan di Tengah Derasnya Arus Tambang

Cerita Nelayan Tanpa Perahu Bertahan di Tengah Derasnya Arus Tambang

by lpm_arena

Lpmarena.com— “Saya itu bekerjanya jekso, jekso itu ajeg ning rekoso,” kalimat itu terucap oleh Sukirman, saat dikunjungi di rumahnya di Desa Sambeng, Magelang pada Minggu (13/09). 

“Saya itu pekerjaannya tetap, tetapi tetap dalam keadaan susah.”

Lelaki berusia 68 tahun itu bermata pencaharian sebagai nelayan di bantaran Sungai Progo. Sungai yang terletak di perbatasan antara Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Desa Sambeng, termasuk bagi Sukirman. 

Kirman tengah memintal jala di teras rumahnya. Tak jauh dari ia duduk, istrinya menemani Kirman sembari membuat kerupuk dari sisa nasi mereka. Waktu menunjukkan pukul 9 pagi, sebelum bergegas ke sungai, Kirman segera menyelesaikan pintalan jala yang tergantung di dalam rumahnya.

Kirman memintal senar membentuk untaian jala yang digantung di pintu ruang tengahnya.

Alasan Kirman membuat sendiri jala alih-alih membeli karena ia bisa menyesuaikan ukuran jaring jala dengan ikan yang akan ditangkapnya. Proses pembuatan jala bisa memakan waktu kisaran lima sampai enam bulan, paling cepatnya memakan waktu satu bulan. 

Setelah selesai memintal, ia menuju ke teras rumahnya untuk membuat jala dengan senar yang baru. Sembari melilitkan senar pada kedua kakinya, ia bercerita bahwa dirinya menyelami dunia menjala sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Cara pembuatan jala tersebut, ia dapatkan dari mendiang bapaknya.

Kirman menggunakan cara tradisional dalam pembuatan jala.

Jala yang sudah terpintal, di bawahnya dipasang besi yang berfungsi sebagai pemberat ketika dilemparkan ke sungai.

Rumah Kirman berada di bantaran Sungai Progo. Hal ini pula yang menjadi embrio dirinya bermata pencaharian sebagai nelayan. Namun, sekilas nelayan di bantaran Sungai Progo berbeda dengan nelayan pada umumnya, acap kali mereka disebut dengan julukan Nelayan Tanpa Perahu. 

“Nelayan tanpa perahu alat-alate ya itu. Kalo nelayan yang di segoro (laut, red.) itu kan pake perahu gedhe ada mesinnya, dapetnya kan paling ora kwintalan, kalo kita ya 5 kilo 10 kilo udah cukup,” jelasnya sembari menautkan rantaian besi ke jaring yang dibentangkannya.

Uniknya, Nelayan Tanpa Perahu di Desa Sambeng menerapkan prinsip Jala Sakmadya. Para nelayan mencari ikan secukupnya, biasanya dengan menggunakan wadah berbahan kayu. Jika ikan yang ditangkap telah memenuhi satu wadah itu, para Nelayan Tanpa Perahu bergegas pulang. 

“Ini njala sakmadyo, sakmadyo itu sak olehe, sak pekolehe. Karena oleh sithik alhamdulillah, raoleh yo urung rezekine. (Ini njala sakmadyo, sakmadyo itu sedapatnya, secukupnya. Karena dapat sedikit alhamdulillah, tidak dapat ya belum rezekinya),” ujarnya. 

Simpanan ikan yang dibawa ke rumah ketika hasil tangkapannya sedikit untuk makan di kemudian hari.

Aktivitas mencari ikan Kirman lakukan tak tentu waktu. Alasannya karena ia tak menjadikan nelayan sebagai mata pencaharian tetap, melainkan sebagai tambahan pemasukan. Sayangnya, tangkapan ikannya semakin menurun semenjak adanya tambang pasir yang diketahui kepunyaan PT Anaba Putra Nusantara. 

Selain ikan, cerita Kirman, Nelayan Tanpa Perahu juga menangkap udang menggunakan telik. Telik  merupakan alat tangkap tradisional yang dibuat dari bambu. Alat tersebut Kirman pasang di pinggiran sungai ketika sore hari, lalu keesokan paginya dipanen. Nahasnya, semenjak adanya tambang pasir di Sungai Progo, ia mengeluhkan tergerusnya tepian sungai yang menyebabkan ia tak bisa lagi memasang telik. 

“Tepinya nggak ada, jadi dalem semua to. Kalo gitu kan akhirnya cuma bisa di beberapa tempat doang untuk dipasangi alat (telik, red.) ini,” keluhnya.

Tepian Sungai Progo yang tergerus musabab tambang pasir mengeruknya.

Alat berat yang biasanya digunakan untuk mengeruk pasir sungai.

Bagi Kirman, Sungai Progo menjadi tempat mencari penghidupan di sela-sela kesibukannya. Ketika tak ada pekerjaan lain di rumah, ia biasanya berangkat menuju sungai sekitar pukul delapan pagi. Namun, ketika masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan, ia baru berangkat pukul sepuluh. Dari sungai ini, Kirman biasa membawa pulang sekitar lima kilogram ikan beong, ikan khas Sungai Progo. Hasil tangkapannya tak selalu untuk dijual. Ketika ikan yang didapat cukup banyak, ia menjualnya untuk menambah penghasilan. Namun, jika ikan tangkapannya hanya sedikit, ikan-ikan itu dibawanya pulang untuk disantap bersama keluarga.

Kirman memberesi dan membawa alat-alat pembuatan jala itu masuk ke rumahnya setelah pintalannya usai. Ia pun mengambil jala yang biasa ia gunakan untuk menangkap ikan, lalu bergegas menuju ke Sungai Progo menaiki motor dengan dua keranjang di belakangnya guna menaruh ikan yang didapatnya.

Kirman menaiki motornya bergegas menuju Sungai Progo.

Usai memarkirkan motornya, Kirman langsung bergegas mencari tempat untuk  melayangkan jalanya. Ia menyusuri jalanan bertanah di pinggir sungai. Bantaran sungai yang didatangi Kirman tampak sepi, lantaran letaknya tak jauh dari ekskavator yang mengeruk pasir tiap harinya. Kirman menyampaikan, para nelayan harus berpindah-pindah bantaran sungai untuk mendapatkan ikan. Sampai akhirnya, ia berhenti di salah satu pinggiran sungai yang dipenuhi batuan. Ia lantas melebarkan jala dan melemparnya sampai ke dalam sungai.

Kirman mengeluhkan, semenjak adanya tambang pasir di bantaran Sungai Progo, arus di sungai itu menjadi deras. Tambang yang mengeruk pasir di sungai itu, membuat sungai menjadi kian dangkal. Dangkalnya sungai ini kemudian menjadi embrio derasnya arus sungai.

Kirman berdiri di atas batu, lalu melemparkan jalanya ke sungai.

Derasnya arus sungai, menurut Kirman menyebabkan ikan semakin cepat berenang sehingga tangkapan ikannya semakin sedikit. Tak hanya berpengaruh pada jumlah ikan, jala yang dipakainya juga sering kali robek lantaran terbawa arus. 

“Saya udah nggak pernah njala deket tambang karena udah nggak enak, kalo ada tambang ikannya langsung pergi. Kalo biasanya berani ngambil jadi nggak berani, udah pernah sobek jalanya gara-gara arusnya deras,” keluhnya.

Selang beberapa jam, Kirman mengangkat jalanya dalam keadaan kosong. Ikan tak didapatinya, alih-alih banyak lumut hijau yang menyangkut pada jalanya. Ia menghela napas, sembari mencabuti lumut yang menyangkut di jalanya. Jika dibiarkan, kata Kirman, lumut itu akan merusak jalanya. 

Kirman pun menggulung jalanya dan memilih untuk kembali ke rumahnya. Ia sangat kecewa dengan hadirnya tambang pasir di Sungai Progo. Dengan dampak yang disebabkan tambang pasir tersebut, acapkali ia pulang dengan jala dan tangan kosong.

Kirman melangkah dengan rasa kecewa, lantaran lagi dan lagi tidak mendapat ikan.

“Sebelum ada tambang menjalanya ‘kan tidak terganggu, kalo dulu enak-enak saja. Kalo ada tambang ‘kan ikannya langsung pergi,” pungkasnya.

Fotografer/Penulis Rizqina Aida | Redaktur Fathia Fajrin D.