Hujan di Kota Tua

Oleh : Bayu Saktiono*)

Perbincangan bermula di meja makan berukuran 1×1 meter dirumah kami.  Petang itu, hujan turun lebat menguyur kota tua ini. Kilat menyabar-nyambar di atas genting. Membawa suara gemuruh tak bersumber. Air hujan membanjiri pelataran rumah kami. Pangkal pohon kelapa dan pohon mangga, tergenang oleh air.

Sejak beberapa hari yang lalu, hujan memang senang sekali mampir kota tua ini. Jika sudah seperti ini, menunggu hujan reda adalah ritual tunggal yang tidak ada gantinya. Sore ini, Ayah mengenakan kaos oblong abu-abu dan celana coklat. Rambut dan kumisnya yang sudah beruban. Sementara Ibu, duduk di sebelah kanan Ayah mengenakan kebaya ungu. Ia Terlihat lebih muda ketika  rambutnya diikat dengan karet. Adik ku yang masih berumur 2 tahun,  sibuk menggiluti dot karet yang Ayah belikan sebulan lalu. Aku sendiri menggenakan baju coklat yang sudah bolong sana-sini digigiti tikus. Namun, kata Ibu, aku lebih tampan dari biasanya. Kami berempat berbincang-bincang ringan sambil menikmati singkong rebus yang di masak Ibu tadi pagi.

Suara Angin di luar rumah berlari kesana-kemari. Membuat daun-daun jambu berputar-putar tak beraturan. Sesekali kilat yang menembus kaca rumah, seperti lampu neon yang pernah  kulihat di tengah kota. Tanpaku sadari, bulu-bulu kuduk mengigil berdiri karena kedinginan. Di tambah tetesan air dari atap yang berlubang seolah-olah membuat rumah kami tenggelam arus hujan di kota tua.  “ plekk. . plekk. . plekk. . “ pantulan suara air yang jatuh di meja kayu.

“ yah. . apa aku jadi mendaftar sekolah lusa. ? ‘ tanyaku ragu-ragu pada Ayah yang sibuk memperhatikan tetesan air diatap.

“ kalau tidak ada halangan, kau akan masuk sekolah lusa nak.” Sergap Ibu sambil melirik pada Ayah.

“ aku tidak mau menunggu tahun depan lagi bu. aku ingin baca tulis seperti teman-teman. “ ucapku pada Ibu.

Ibu tersenyum, lalu tidak berkata lagi. Di pandangnya suami sekaligus Ayahku dengan mata sayu. Sesekali Ayah membalas dengan lirikan kearah Ibu. Namun ia belum mau beranjak memandangi atap yang bocor. Melihat senyum Ibu yang penuh kehangatan itu, bibirku tak mampu mengucap kata-kata lagi. Bahasa-bahasa yang tersusun rapi sebelumnya di hatiku, seketika redup. Menghilang ditelan senyum itu. Juga pandang Ayah yang tak mampu membangkitkan semangatku lagi. Hanya suara rintihan adik yang membuat suasana hati semakin kacau.

Rasanya hati dan pikiranku membeku. Tulang penyangga kepala tiba-tiba saja melompat dari tempatnya. Membuat kepalaku tertunduk layu. tak lama aku merasakan tanggan melayang di pundakku.

“ nak… jangalah kau berkecil hati, Ayah akan mencarikan kau uang untuk mendaftar sekolah. Biar hujan di luar mereda“ suara berat yang keluar dari tenggorokan Ayah masuk perlahan digendang telingaku, lalu meloncat-loncat dikepalaku.

“ tak usah kau bersedih, Ibu sudah bilang Bu Lurah agar di pinjamkan uang untuk daftar sekolahmu. Bu Lurah menyuruh mengambil hari ini“ kata Ibu kemudian.

Mendengar itu, tulang peyangga kepalaku muncul kembali. Senyum mereka begitu anggun di depan mata.

“ apa Ayah dan Ibu bangga jika aku bisa baca tulis di sekolah. “ tanyaku gembira.

“ tentu nak… kami akan bangga sekali jika kau bisa sekolah. “ kata Ibu sambil melirik pelan kepada Ayah.

Baca juga  Menggerutu

Akirnya semua bongkahan emas itu akan tergali. Emas yang akan bisa membuat keluargaku hidup mapan. Rumah kami tak akan bocor lagi. Dan pelataran rumah tidak akan tergenang air kotor. Pelan-pelan waktu berganti pada waktu berikutnya. kian kemari. Membuat asa ku semakin meninggi. Peredaran waktu yang benar-benar tidak aku mengerti, dapatkah aku titipkan ukiran cantik untuk hidupku dan keluargaku.? Entahlah ! sekali lagi, hanya waktu itu sendiri yang mampu memberikan jawaban terbaik.

Pelan-pelan suara hujan di luar rumah mulai surut. Ayah memperingatkan Ibu untuk mengambilkan payung. Sesuai rencana, Ayah akan pergi ke rumah Bu Lurah untuk meminjam uang. Meskipun hanya dengan uang pinjaman, aku senang. Cepat-cepat Ibu berjalan ke kamar mengambil payung. Dan sesegera Ayah berpamitan untuk pergi. Aku, Ibu, dan adik menunggu di rumah. Aku masih terduduk di tempat semula. Semetara Ibu, menimang-nimang adik untuk tidur.

“ tenangkanlah fikirmu” kata Ibu dari depan pintu kamar.

Hati dan tubuh mulai tak tenang. Kegembiraan itu telah tumpah disekujur tubuhku. Membuat semangat berkobar-kobar. Aku tidak mau kemana-mana sebelum Ayah kembali. Entah sudah berapa banyak ucap sukur kepada Tuhan yang telah memberikan kesempatan kepadaku. Puitis sekali. Sisa air hujan yang germicik di luar rumah, tak membuat kulitku kedinginan lagi. Kemudian yang datang petuah-petuah baru dari arah entah-berentah. Juga setan tak berani mendekat untuk mengajak berbincang denganku. Hanya malaikat-malaikat putih yang turun dari dinding membawa gulungan pohon impian.

***

Ibu keluar dari kamar. Rupanya adik telah tertidur di kamar. wajahnya berseri melihat diriku. Diulurkan tanganya kepadaku lalu kuciumi sambil mengucapkan terima kasih.

“ sebentar lagi Ayah pulang, biar Ibu tunggu didepan. “ ucapnya lirik didekat telingaku.

Lalu Ibu berjalan pelan kedepan rumah. Aku mengikuti  di belakangnya. Dari kejauhan terlihat Ayah berjalan tergopoh-gopoh dengan payung biru di atasnya. Ibu tersenyum menahan tangis. Tanganku ku eratkan memegang pergelangan tangan Ibu. Plastik hitam menempel di dada Ayah. Kegembiraan terpancar jelas dari raut wajah Ayah. Kemudian kita bertiga masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Ayah duduk di tempat tadi. Juga Ibu, juga aku.

“ akirnya kau akan pergi kesekolah nak.” kata Ayah sembari mengelus-elus kepalaku. Air  turun pelan di landai wajah Ayah dan Ibu. Air itu muncul dari kelopak mata mereka.  Bukan hanya aku yang merasa bahagia, namun tangis kebahagiaan juga hinggap pada diri mereka.

***

Aku dan Ayah pergi ke sekolah yang jaraknya 4 kilometer dari rumah. Ibu di rumah mengasuh adik. Setibanya di sekolah, kami langsug menuju ruang pendaftaran siswa baru. Ketika itu, wali dan anak-anak yang mendaftar masih sedikit. Ayah menghampiri lelaki paruh baya yang duduk dimuka para wali dan siswa. Namun, mata-mata jalang memandangku penuh acuh. Seolah-olah mendakwa bahwa aku adalah makluk yang datang dari luar angkasa.

“ pak, saya mau mendaftarkan anak saya untuk menjadi siswa disini. “ terdengar kata Ayah kepada lelaki paruh baya itu.

“ anak bapak yang mana? “ lelaki itu bertanya kepada Ayah.

Lambaian tangan Ayah menyuruh ku untuk mendekat kepadanya. Aku berjalan pelan menghindari semua mata yang menatapku.

“ ini anak saya pak “ kata Ayah.

Baca juga  Seragam

“bapak sudah tahu peraturan untuk menjadi siswa di sekolah ini “ tanya lelaki paruh baya itu lagi.

“ tidak pak” jawab Ayah.

“salah satu syarat untuk menjadi siswa disini harus sehat jasmani dan rohani. Saya perhatikan, anak bapak tidak memiliki itu” katanya acuh.

“apa tidak bisa diusahakan pak” ucap Ayah memohon.

“ ma’af pak, ini sudah menjadi peraturan sekolah sejak dulu. Anak bapak tidak bisa di terima di sekolah ini. Mungkin juga di sekolah-sekolah lain“ katanya lagi.

“ tolonglah pak… anak saya bisa melihat, berbicara dan mendengarkan” ucap Ayah.

“anak bapak hanya bisa melihat dengan satu penglihatan. Juga tanganyan tidak stabil untuk belajar menulis. Kami tidak bisa memastikan apakah anak bapak juga bisa mendengar dengan baik“ katanya kemudian.

Mendengar itu, darah yang mengalir di tubuhku tiba-tiba melambat. Semakin lambat. Dan lambat sekali. Samar-samar kulihat Ayah tertunduk diam. Kemudian menangis. Orang-orang di sekeliling berubah menjadi makluk yang bejat, menghakimi aku yang tak memiliki kesempurnaan seperti mereka. Secepat kilat Ayah memboyongku pergi dari tempat terkutuk ini. Aku hanya terdiam. Tak ada prakata yang terucap dari mulut Ayah, juga mulutku. Yang terdengar hanya langkah Ayah. Semakin cepat. Serasa berlari. Ternyata Ayah membawaku berlari. “ plakk… plak… plakk…“ suara itu keluar dari kaki Ayah.  Ia tak mempedulikan lagi pecahan batu kerikil yang tersebar di jalanan. Keringat yang keluar dari dalam rambutnya yang uban, entah berapa banyak sudah. Sampai akirnya Ayah terhenti di gubuk bambu di perempatan jalan masuk desa. Bibirnya memutih. Juga raut wajah tuanya yang kian putih. Hanya matanya yang memerah. Keringat dan air mata bersatu menjadi satu. Sesuatu yang baru. Tentang perasan yang pilu.

“nak… kau di paksa untuk menerima kecurangan ini“ Ayah memulai.

“apa aku tidak ada kesempatan lagi untuk sekolah yah?“ tanyaku pelan.

“buang jauh-jauh harapan itu nak. Orang-orang seperti mereka tidak akan memberikan kesempatan itu. Dunia ini memang tidak seperti yang kita harapkan nak. Orang seperti kita ini hanyalah korban“ kata Ayah.

Angin berjalan pelan-pelan di ujung pohon-pohon. Dan kabut melambai-lambai mengajak berdansa, langit muram seperti hati kita. Sebentar lagi hujan akan turun.

Dan kami telah menurunkan hujan kami sendiri. Ayah menuntunku berjalan. Di pandanginya ujung-ujung jalan yang jauh. Pandang nya kosong. Kami hanya berjalan dengan keinginan hati. Sampai setibanya di rumah nanti. Rintik-rintik air telah turun satu persatu. Bumi menengadah kembali. Lambat sekali. Bertahan lama. Dan bergulir seadanya. Fikiranku melayang-layang pada ucapan-ucapan mereka yang mendakwa bengis. Semua terasa seperti neraka bagiku. Dan tidak ada yang bisa kulakukan setelah itu.

“Ibumu pasti memasak enak” kata Ayah pelan.

Ku perhatikan langkah Ayah semakin cepat. Berbarengan air yang turun dari langit cepat-cepat. Sampai kami di bawah pohon beringin besar. Kami berteduh disana. Alampun rasanya bersuara yang tak aku mengerti artinya. Diamku, diamnya Ayah. Semua berlalu tanpa ada satu alasan yang bisa dimengerti selain kejadian beberapa jam yang lalu. Sekarang, aku hanya ingin hujan reda, dan menemui Ibu di rumah. Itu saja.

*) Penulis adalah Mahasiswa KPI Semester VI. Berasal dari tanah Reog.

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of