Home PROFIL Aku Ingin Seperti Dulu

Aku Ingin Seperti Dulu

by lpm_arena
Print Friendly, PDF & Email

 

lpmarena.com, “Malam ini….malam terakhir bagi kita…”. Sepenggal lirik lagu yang tidak asing lagi bagi orang-orang yang lalu lalang dan para penjual di Malioboro. Lagu ini ialah lagu yang biasa dinyanyikan oleh sepasang orang tua yang mengamen di sepanjang Jalan Malioboro. Maryono 43 tahun dan Sumini 35 tahun, pengamen asal Umbulharjo itu mengaku melakukan kegiatan mengamen dengan membawa tipe recorder hasil buatannya sendiri itu sejak satu setengah tahun yang lalu.

Pekerjaan ini dilakukan semata-mata untuk memperbaiki kembali taraf hidupnya yang dulu pernah hancur. Berawal dari masa lalu Maryono yang begitu pahit. Maryono, seorang lelaki yang berasal dari kulonprogo itu ketika muda bekerja sebagai tukang urut di Jakarta. Saat di Jakarta, dia berkenalan dengan seorang wanita yang berasal dari Cilacap. Akhirnya Maryono pun menikah dengan gadis Cilacap tersebut.

Sebagai lelaki yang bertanggung jawab kepada keluarga, Maryono membeli tanah dan membangun sebuah rumah untuk tempat tinggal bersama istri serta anak-anaknya kelak. Namun, keadaan tidak berpihak pada Maryono. Setelah beberapa tahun menikah dan belum pula dikaruniai anak, istrinya meminta cerai kepada Maryono tanpa alasan yang begitu jelas. Dengan terpaksa Maryono menuruti kemauan istrinya karena berbagai cara telah dilakukan tapi tidak membuat keteguhan istrinya untuk bercerai itu runtuh.

Belum sampai situ, Maryono bagai peribahasa sudah jatuh tertimpa tangga. Sang istri tidak hanya meminta cerai, namun semua harta yang dimiliki Maryono pun ikut dirampas oleh sang istri. Alhasil, kehidupan Maryono menjadi hancur. “Saya sudah terlalu sakit hati dengan mantan istri saya. Seandainya saya punya anak, saya rela harta saya diambil semua oleh mantan istri saya”, ungkap Maryono dengan kesal.

Kehidupan Maryono mulai tampak baik-baik saja setelah ia menikah lagi dengan Sumini (35), gadis asal Klaten. Karena belum bisa memenuhi kebutuhan hidup, Maryono dan Sumini hanya bisa bekerja sebagai pengamen. Maryono dan Sumini mulai mengamen di sekitar Malioboro sekitar jam sepuluh sampai jam empat sore. Mereka berangkat dari Umbulharjo ke Malioboro dengan menggunakan Trans Jogja. Jika kehujanan, mereka biasanya naik taksi.

Namun, selain mengamen, Maryono masih membuka jasa urut. Penghasilan dari jasa urut masih sangat kurang, karena setiap hari tidak pasti mendapatkan pemasukan. Jika ada pemasukan, mungkin hanya tiga puluh ribu rupiah saja. Sedangkan penghasilan dari mengamen setiap hari bisa mencapai seratus ribu rupiah sampai lima ratus ribu rupiah. Sedangkan Sumini, selain mengamen, ia juga sebagai penyanyi campursari. Namun, pekerjaan sebagai penyanyi campursari tidak tentu. Tergantung ada panggilan untuk menyanyi atau tidak.

Sebagai pengamen, Maryono dan Sumini selalu berharap agar hidupnya tidak terus mengamen karena sebenarnya mereka sendiri malu dan menganggap bahwa mengamen itu adalah pekerjaan yang agak rendah. “saya ingin kehidupan saya kembali seperti semula, menjadi tukang urut lagi”, harap Maryono.(Imro’atus sa’adah)

 

Editor : Folly Akbar