Twitter Kartini (Untuk Para Pejuang Perempuan)

Oleh: Ahmad Taufiq*

 

Kartini adalah pemberontak melek huruf, melek jejaring sosial. Andai ia hidup di zaman ini dan dipingit, ia pasti juga ngetwit di Twitter tentang apa yang ia alami. Tapi zamannya baru mengenal surat untuk korespondensi sehingga  ia menulis surat. Dan lewat surat-suratnyalah kemudian ia dikenang sebagai pejuang perempuan.

Surat-surat Kartini bukanlah surat biasa, yang menunjukkan bahwa ia bukan perempuan biasa. Dalam surat-suratnya ia bersuara lantang atas penindasan yang dialami, sebagai perempuan sekaligus sebagai pribumi. Kartini tertindas oleh budaya patriarkhi Jawa, juga tertindas oleh kolonialisme-imperialisme Belanda. Dan karenanya Kartini berlawan atas nama kaumnya (perempuan) sekaligus atas nama rakyatnya yang saat itu masih bisu dan dibisukan.

Kartini adalah gadis bangsawan Jawa. Status itu menyebabkan ia berkesempatan mendapat didikan Barat, tidak seperti perempuan jelata lain. Tapi status itu juga menyebabkan ia dipingit saat remaja sampai dijodohkan. Hal itu juga tidak dialami perempuan jelata. Tapi Kartini gadis yang cerdas. Pengalaman-pengalaman kesehariannya saat bersentuhan dengan masyarakat ia menentukan posisi. Ia tahu peran yang harus (dan paling mungkin untuk) diambil. Dengan didikan Barat yang memberinya modal bahasa Belanda dan keahlian tulis-menulis, ia curahkan itu semua dalam surat-suratnya. Dan dari surat-suratnya itu, mata dunia mengarah, menyoroti, memperhatikan. Entah sorotan itu dengan simpatik dan menganggapnya sebagai perempuan pribumi hasil didikan Barat yang sudah tercerahkan, atau sosotan penguasa yang ingin membungkamnya sebab suaranya terlalu lantang sehingga menggucang rust en orde dan karenanya harus dibungkam. Dan Kartini memang mendapatkan dua-duanya.

Kartini mendapat banyak apresiasi, dan karena hal itu pula pihak kolonial gusar. Lalu lewat ayahnya, Bupati Jepara saat itu, pihak kolonial memaksa Kartini kawin. Suruhan kolonial adalah suruhan yang tak bisa ditolak oleh jajaran-bawahannya. Dan perkawinan dianggap jalan terbaik dalam misi pembungkaman. Sebab perempuan yang menjadi istri saat itu adalah perempuan yang harus mengabdikan dirinya pada suami, sebab ia sudah milik suami. Ia tak bisa memiliki dirinya sendiri.

Baca juga  Gerwani, Gerakan Progresif yang Diberanguskan

Kartini tahu itu, tapi tak kuasa menolak permintaan kolonial lewat ayahnya. Ia juga tahu kalau kedudukan ayahnya dibawah kolonial sehingga jabatannya pasti terancam saat ia menolak permintaan pihak kolonial. Dan Kartini sangat mencintai ayahnya, sehingga ia rela mengorbankan diri untuk menuruti permintaannya. Seperti diceritakan Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya, “Panggil Aku Kartini Saja” bahwa Kartini menghadapi dilema yang teramat besar. Antara cinta pada ayahnya dengan perjuangannya sendiri. Akhirnya ia dikawinkan.

***

Zaman Kartini sudah lewat seratus tahun lebih. Indonesia sudah nyaris 69 tahun merdeka. Tapi, apa kabar para perempuan Indonesia? Apa masih ada penindasan perempuan sebagaimana zaman Kartini?

Ohoo… ternyata masih membeludak. Perempuan masih mengalami penindasan di berbagai ruang, berbagai peran. Hampir tiap hari kita disuguhi berita tentang kasus-kasus yang menjadikan perempuan sebagai korban. Apakah perkosaan, KDRT, kekerasan yang dialami buruh pabrik perempuan, buruh migran perempuan, atau mereka yang terpaksa melacur.

Sebagaimana dilaporkan Komnas anti kekerasan terhadap Perempuan yaitu 279.760 kasus kekerasan terhadap perempuan terjadi sepanjang 2013, lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya yang berjumlah 216.156 kasus. (Tempo.co  08 MARET 2014). Komnas juga mencatat 282 aturan daerah diskriminatif atas nama agama dan moralitas yang merugikan perempuan.  (Tempo.co, 15 September 2012).

Mengapa hal tersebut masih saja terjadi? Kita bisa menelisik akar ketertindasan perempuan dimana-mana. Secara umum, penyebabnya adalah budaya patriarkhi yang berkait-kelindan dengan kapitalisme dan militerisme.

Budaya patriarkhi mengutamakan lelaki dalam mengambil peran sosial. Stereotype bahwa perempuan itu lemah dan emosional, misalnya, dijadikan pembenar atas peminggiran perempuan di ranah publik. Dan itu mengakibatkan posisi perempuan menjadi dibawah sementara laki-laki diatas. Sementara siapa yang berperan lebih, posisinya menjadi kuat, siapa yang perannya sedikit, posisinya lemah. Dan penindasan selalu saja dilakukan oleh yang kuat terhadap yang lemah. Dan budaya patriarkhi melanggengkan sistem yang menindas itoe.

Baca juga  Nasib Perempuan Budak Seks

Kapitalisme, sebagai fase perkembangan masyarakat yang kita alami saat ini, juga turut memperparah penindasan yang ada. Kelas sosial yang terbentuk akibat sistem ini adalah kelas berdasarkan kepemilikan atas modal. Ditambah lagi dengan militerisme yang menonjolkan represifitas terhadap sesuatu yang dianggap bertentangan dengan kepentingan pihak dominan. Lengkaplah sudah sistem yang menjadikan perempuan pada pihak yang paling tersisihkan dan tertindas.

***

Dari penindasan terhadap perempuan itulah kemudian melahirkan banyak gerakan perempuan dimana-mana. Di Indonesia sendiri gerakan perempuan paling massif adalah Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) yang kebeulan dekat dengan PKI.

Program-program Gerwani bukan semata-mana mengurusi persoalan perempuan belaka, tapi sekaligus melawan kapitalisme, militerisme dan budaya patriarkhi. Gerwani mendirikan banyak tempat penitipan anak dimana-mana ketika ibunya menjadi buruh. Gerwani juga mendirikan banyak taman kanak-kanak Melati.

Namun, sejak Kontrev 1965 oleh Orde Baru, Gerwani ditumpas. Aktivisnya dituduh komunis, bejat, peacur, dan segala hal buruk lainnya. Kemudian banyak dari mereka diperkosa, disiksa, disembelih, dan seterusnya.

Lantas Orba mengkerdilkan gerakan feminisme sebatas gerakan ibu-ibu arisan, kontes kecantikan, dan perayaan kebaya untuk mengenang Kartini. Sementara semangat perlawanan Kartini dilupakan.

Saat Orba tumbang dan kran demokrasi dibuka, gerakan perempuan masih saja limbung. Malahan bertebaran gerakan perempuan yang mengumbar tubuhnya atas nama kebebasan ekspresi. Gerakan sebagaimana yang dicita-citakan Kartini, seperti Gerwani yang berbicara tentang kaumnya sebagai perempuan dan rakyatnya yang masih tertindas akibat kapitalisme-imperialisme modern, hanya sedikit bermunculan. Mungkin masa kini banyak perempuan merasa cukup ketika melawan penindasan pada kaumnya itu dengan sebatas berteriak di Twitter.

Ya, selamat hari Kartini. Mari kencan di Twitter sambil bercericit tentang penindasan. Aduh aduh.

 

doc.pribadi
doc.pribadi

 

*Mahasiswa Perbandingan Agama 2010. Anggota Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI) Yogyakarta. 

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of