Sungai Bersih, Capung pun Beranak-Pinak

lpmarena.com,  Jika perairan kotor, manusia bisa mengatakan itu “kotor” dari indikator penglihatannya. Namun ada satu predator yang amat sensitif terhadap polusi air, yang menjadi indikator lingkungan perairan kita. Spesies itu bernama Capung. Beraneka macam foto odonata beragam pose terpampang di lantai satu Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek) UIN Sunan kalijaga dalam acara pameran Fotografi Capung. Acara ini diselenggarakan oleh Biolaska prodi Biologi UIN, Indonesia Dragonfly Society (IDS), Water Forum, dan Jambore Capung Indonesia, Jumat (2/4).

“Sungai itu tercemar atau tidak bisa dilihat dari hewan di sekitarnya. Orang lain bisa melihat dari indikator Capung. Jika Capung itu banyak, maka daerah (sungai) itu bersih,” ucap Sigit Yudi Nugroho, ketua panitia acara.

Tujuan lain acara ini untuk mengenalkan masyarakat dan mahasiswa tentang Capung, agar mereka bisa merubah perilaku-perilaku yang mencemari sungai. Juga kampanye jika Capung itu penting.

Seperti diketahui, Capung melakukan reproduksi di air, dan ia kadang mencari makanan berupa nyamuk dan serangga di daratan. Itu mengakibatkan Capung berperan dalam memberantas nyamuk dan mengurangi populasi nyamuk. “Nimfa (larva Capung) bisa memakan jentik-jentik nyamuk. Jadi kalau ada capung jentik-jentik bisa mati,” Sigit menambahkan.

Di Sungai Gajah Wong sendiri contohnya, secara kasat mata Sigit menilai sungai Gajah Wong sudah sangat tercemar. Banyak sampah pembangunan di bantaran sungai merusak lingkungan dan habitat capung itu sendiri. “Dari kegiatan ini kami berharap minimal Sungai Gajah Wong bisa dirawat. Dari IDS sendiri mengatakan nggak usah mikirin buat mengembangbiakkan capung di sungai, tapi yang penting adalah nggak usah buang sampah di sungai. Karena jika sungai bersih, maka capung akan ada,” tutur Azzam panitia seksi humas.

Baca juga  Pameran Biodiversivitas "Panen Raya" Biolaska

Sementara Friska Wahyu yang juga pengunjung berpendapat jika ia tidak mengetahui tentang peran capung, “Capung itu binatang serangga yang bisa terbang,” ujarnya. Aapun Halimah mempunyai pendapat lain, ia berpandangan Capung itu bisa membantu penyerbukan bunga dan sebagai pemandangan, “Capung itu hewan artropoda, bertelurnya di sungai dan ia mencari tempat yang jernih,” ucap mahasiswa Pendidikan Fisika semester 8 ini saat ditemui ARENA di lobi Fakultas Saintek.

Acara ini dibuat juga untuk menyelamatkan spesies-spesies Capung yang langka dan hampir punah. Hal ini direfleksikan dengan berbagai kegiatan yang dilakukan Biolaska dan IDS seperti bersih-bersih sungai, kampanye, pameran, dan penelitian tentang Capung yang digelar hingga Minggu (5/5) mendatang. Untuk rangkaian acaranya sendiri, hari Jumat (2/5) pameran. Sabtu (3/5) workshop tentang Capung di ruang Tatrikal Saintek, dan Minggu (5/4) praktek lapangan (hunting) data tentang capung. Siapapun bisa ikut dengan membayar biaya pendaftaran sebesar Rp.25.000 dan kumpul jam 7 pagi di depan Poliklinik UIN Suka.

Azzam berharap, kegiatan yang kecil ini bisa merambah ke seluruh masyrakat, mengajak untuk sadar terhadap lingkungan, “Jaga Capung dengan cara merubah sikap kita untuk tidak membuang sampah sembarangan,” pesannya. (Isma Swastiningrum)

 

Editor : Folly Akbar

 

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of