Ia yang Menjaga Nyawa di Perlintasan Kereta Api

Ia yang Menjaga Nyawa di Perlintasan Kereta Api

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Sigit
Sigit, penjaga pintu perlintasan keret api di jalan Timoho.

Lpmarena.com, Terdengar sayup suara bel tanda palang pintu kereta akan tertutup saat ARENA sedang mampir di pos penjagaan perlintasan kereta di Jalan Timoho, Rabu (13/05). Di ruangan 3×3 inilah Sigit (40) menjalankan tugas menjaga palang pintu kereta dan menutupnya saat akan ada kereta yang lewat. Tanpa sebuah hiburan pun Sigit tetap bekerja dengan senang.

“Ya boleh ada radio, kalau TV nggak boleh aturannya, ya nganggu kalau nonton lupa kerjaan,” ucapnya. Sudah sejak 12 tahun lalu Sigit menjalani profesi ini, tetapi baru tiga tahun yang lalu ia ditugaskan di Jalan Timoho. “Sebelumnya saya di sebelah barat Stasiun Tugu,” ujar ayah dari tiga orang anak ini.

Jam kerja Sigit delapan jam per hari dengan sistem shift, artinya satu hari ada rolling. Pekerjaan sebagai penjaga palang pintu perlintasan kereta api tidak bisa diukur dengan uang, karena pekerjaan ini menyangkut nyawa para pengguna jalan. Namun Sigit tidak pernah mengeluh mengenai gaji yang ia dapatkan tiap bulannya. “Ya UMK tapi yang penting cukup untuk sehari-hari,” ujarnya. Di dalam hatinya Sigit berharap agar ia dapat dapat diangkat menjadi karyawan tetap, walaupun itu seolah tidak mungkin karena sekarang untuk menjadi PNS umur juga diperhitungkan.

Sigit juga bercerita tentang mekanisme kerja palang pintu kereta api. Yakni saat ada kereta yang akan lewat, maka telepon akan berdering dan Sigit akan mengira-ira kereta akan datang dari arah mana dan kapan akan sampai di dekat posnya. Jika kereta api sudah dekat lalu ia akan menekan tombol penutup palang perlintasan kereta api dengan suara yang berisi himbauan kepada para pengendara yang melewati perlintasan kereta api agar berhati-hati.

Baca juga  Umbi, Ikon Lomba Masakan Nusantara

“Hati-hati keretanya mau lewat, di dalam pos saja,” ujarnya sambil memakai topi dan rompi warna menyala sambil melambaikan tangan kepada masinis yang lewat dan memantau kondisi jalanan. Menurutnya selama ia bertugas tidak ada gangguan yang berarti. “Gangguannya ya kalau jalan macet dan ada orang mabuk,” celotehnya. Tentang masalah pekerjaannya ia tidak terlalu banyak mengeluh. Dia dan teman-teman kerjanya juga sering mengadakan pembinaan dan diskusi masalah pekerjaan. Harapan Sigit adalah kesejahteraan orang-orang sepertinya dapat lebih diperhatikan, ia juga mempunyai harapan agar anak-anaknya dapat sekolah setinggi mungkin. (Zidni)

Editor: Isma Swastiningrum

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of