Menyadari Diri, Menyadari Ekologi

Menyadari Diri, Menyadari Ekologi

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Lpmarena.com, Bertepatan dengan peringatan sembilan tahun bencana lumpur lapindo, komunitas kesenian UIN Suka, Teater Eska, bekerja sama dengan Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Yogyakarta mengadakan pentas pertunjukan Art and Ecology di gerbang budaya UIN Suka, Jumat (29/5).

“Ekologi dan seni, kalau disingkat koloni. Koloni terinspirasi bagaimana semut membangun kehidupan dan membentuk lingkungannya,” ucap Cepot, direktur WALHI Yogyakarta.

Pentas ini juga sebagai bentuk respon atas keserakahan tambang yang merusak lingkungan. Menurut Cepot setiap orang punya konstribusi dan potensi terhadap lingkungan. “Pembangunan di Yogyakarta bisa dilihat, dengan pesatnya terjadi betonisasi. Ada keterkaitannya dengan di Rembang, Pati, Tuban, dan Gresik yang menguras batu karst,” tuturnya.

Jika ekologi dilihat dari kacamata seni, Wing Sentot Irawan, seniman, budayawan, dan musisi yang tinggal di Lombok ini berujar bahwa berbicara ekologi berbicara diri kita sendiri. “Ekologi itu saya. Nilai pemahaman ekologi itu ada seninya. Bicara merapi ya di sini ini, merapi ya tetap merapi. Bukan persoalan di sana, tapi di sini ini,” ucap Sentot sambil menunjuk dirinya sendiri.

Persepsi orang terhadap kondisi sosial menurut Sentot responnya tergantung pada kadar kesanggupannya. Maka, bagi Sentot pendidikan sangatlah penting, pendidikan di sini diartikan Sentot secara luas.

“Pendidikan adalah proses investasi yang jauh. Kalau mau sekolah, dari tidur sampai tidur lagi itu sekolah. Sekolah investasi yang mahal. Kalau mau mengelola diri ya konsisten,” ucap pria yang telah berkeliling Indonesia dan ASEAN dengan menggunakan sepeda.

Tentang pengelolaan, Sentot menambahkan, “setiap orang harus mengelola dirinya. Dikelola itu dianyam. Pendidikan itu tak menciptakan apa-apa, kalian yang menciptakan.”

Baca juga  Mengubah Mental SMK Menjadi Wirausaha

Meski begitu, masalah ekologi tidak hanya ada pada diri dan pendidikan. Ada faktor lain yang lebih menghegemoni misalnya politik. Seperti yang dikatakan Cepot bahwa problematika utama Sumber Daya Alam adalah penguasa Sumber Daya Alam adalah juga seorang penguasa politik. “Negara absen saat masalah tambang, proses intimidasi dan ancaman yang terjadi,” kata Cepot.

Dalam rangkaian acara Art and Ecology ini selain dimeriahkan oleh Teater Eska dan Wing Sentot Irawan, juga dimeriahkan oleh Sanggar Nuun, Agoni, Sisir Tanah, dan Tuna Nada Mapalaska. (Isma Swastiningrum)

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of