Ulrike Meinhof

“Aku ragu para hakim bisa mengikuti pemikiran Nona Ensslins dan Tuan Baader, jika bisa, kau harus lepaskan jubahmu dan pimpin gerakan protes.” (Horst Mahler dalam sidang pertama RAF/Red Army Faction)

Ulrike Meinhof mengakhiri hidupnya dengan cara tragis lewat gantung diri di dalam sel tahanan penjara Stuttgart-Stammheim lantaran depresi. Pagi hari musim semi, 9 Mei 1976, jasadnya ditemukan sipir penjara tergantung di jeruji jendela sebelum pengadilan menyelesaikan perkara yang membelitnya. Itu hari yang ke-109 pengadilan Baaeder-Meinhof.

Bagi seorang tahanan, tak ada yang lebih menyiksa selain menyadari keberadaan tanpa pengharapan pada kebebasan seperti manusia lainya, terisolasi dari kehidupan dan diteror musuh tak kasat mata dalam pikiran. Satu jam dalam satu hari berada di luar dan sisanya, dua puluh tiga jam dalam sel sempit. Sebuah penghancuran psikologi manusia.

Ulrike tidak sendiri, ia adalah satu dari empat tahanan lainya yang diadili atas keanggotaan mereka dalam Baader-meinhof, kelompok kiri ekstrim Jerman Barat yang menolak invasi Amerika di Vietnam lewat aksi gerilya kota menyerang kantor pemerintahan Jerman dengan bom rakitan. Lebih besar mereka mengiinkan revolusi, meruntuhkan kapitalisme, anti-fasist.

Keterlibatan Ulrike dalam RAF adalah peralihan tajam dari pekerjaan sebelumnya sebagai jurnalis sayap kiri media bulanan Jerman, Konkret. Tulisan Ulrike mewujud dalam rangkaian diksi satir provokatif berbau perlawanan atas kesewenang-wenangan. Seperti protes atas kedatangan Farah Diba ke Jerman yang dibacakan di sebuah pesta kebun kelas menengah terdidik, sorotan keras gaya hidup mewah istri presiden Iran di atas kemiskinan dan banyaknya kematian rakyat akibat kelaparan.

“Kebanyakan orang Persia adalah petani, dengan pendapatan per tahun kurang dari 100 marks. Dan orang Persia kehilangan anaknya akibat kelaparan, kemiskinan dan penyakit. Dan anak-anak yang bekerja 14 jam dalam sehari. Apakah mereka juga mampu berlibur ke pantai kaspian saat musim panas?”

Ulrike adalah perempuan, bersuami dengan dua anak lucu, pusat curahan perhatian hidupnya. Pesta kebun itu merupakan pesta terakhir sebelum akhirnya memutus pekerjaan sebagai jurnalis yang telah menghidupinya. Bunuh diri kelas yang biasa dilakukan para filsuf setelah menyadari posisi kelasnya sebagai penindas atas mayoritas manusia. Perempuan itu mengalaminya meski kemudian mesti meninggalkan kehidupan hangat kelurga, anak-anak, menurutnya, adalah beban terberat yang ditinggalkan, ketidakmungkinan yang ditaklukkan.

Baca juga  Remaja Putri Masih Menjadi Persoalan

Wawancara dengan Gudrun Ennslins di dalam sel pasca pembakaran gedung, adalah persentuhan awal dengan anggota kelompok gerilyawan kota tersebut. Kesempatan itu bukan saja merupakan ritual tanya jawab antara wartawan dengan narasumber, lebih dari itu, merupakan perjumpaan sakral ide-ide kritis yang menghidupkan keduanya. Ada ketersambungan imajiner dari satu meja kecil di ruang pertemuan tahanan.

Ideologi yang menjembatani keduanya, nilai-nilai pembingkai pandangan atas kenyataan yang termanifestasikan dalam sebentuk gerilya atau tulisan. Dua situasi berbeda yang muncul dalam kebebasan diskursus era demokrasi pasca perang dunia kedua.

1970 Ulrike menjadi bagian RAF, merangkak cepat menjadi penentu perjalanan kelompok. Ulrike tetap menulis melakukan counter atas setiap pemberitaan media sayap kanan yang memojokkan RAF, mendefinisikanya sebagai teroris, lupa pada tuntutan akan penghentian bantuan Jerman pada perang Vietnam.

**

RAF memang lantas terpenjarakan, tak lama. Namun segenap pengeboman kantor pemerintahan dan perampokan bank mendapat simpati mahasiswa Jerman. Dan justru, setelah semua anggota dibekukan, pemuda-pemuda jerman tak dikenal muncul sembari mendaku diri sebagai generasi ke-dua tentara merah. Melakukan terror besar-besaran menuntut pembebasan Ulrike dan lainya.

Mereka, pemuda Jerman, saat itu, memanglah terlampau sering disituasikan dalam forum-forum orasi terbuka. Dalam kebulatan suara menuntut kepergian Amerika dari Vietnam, dalam satu barisan demonstrasi menghancurkan kelaliman media sayap kanan pembela kaum borjuasi. Nama Hoo Ci Minh menggaung di ruang-ruang pertemuan, mereka mencintai pemimpin yang berani menentang, bukan di negerinya, melainkan jauh di sebuah negara ketiga.

Dan Ulrike, perempuan pejuang cerdas. Hidup dari rangkaian penemuan fakta lapangan, lantas bertemu dengan keyakinan kelompok kiri sewujud ideologi progresif model RAF. Peralihanya adalah keberanian dan konsekuensi atas keberpihakan. Melanjutkan hidup dalam ketidakpastian, tertekan karena bertahan, bertahan yang berarti melawan.

Baca juga  Sambut Hari Perempuan Internasional, Seniman Jogja Gelar Pameran “Amor Fati in Absentia”

Deretan propaganda pemerintah jerman karena kuatnya kepemilikan alat produksi, kendali mental dan hidup manusia. Ulrike bermodalkan kata, tak punya kuasa menentukan hidup yang lain meski suaranya adalah representasi nyata keadilan.

Namun benarkah satu-satunya nilai, seturut Albert Camus, adalah kehidupan saja hingga perjuangan hanya soal hidup atau mati? Sementara hidup Ulrike sebagai kelas menengah dihapuskan olehnya karena nilai yang lain. Ini bukan soal kenyamanan hidup, ini soal keadilan yang timpang dan tak dirasakan oleh semua manusia.

Tulisan-tulisan Ulrike adalah suara pembebasan universal, dari sudut sempit sel pengasingan, dari mesin ketik tua hitam, dari rasa depresi atas kelaliman aparat yang tuli pada seruan orasi pembebasan. Tindakan ekstrim Ulrike adalah kelembutan humanisme universal yang berakhir utopia oleh kuatnya imperialisme di tanah Vietnam.

Ulrike menjembatani kesadaran massa memahami tindak RAF. Artikelnya tentang keharusan Jerman menghentikan bantuan pada Perang Vietnam, kebengisan kapitalis yang mendewakan profit di atas keselamatan kelas pekerja dan rasa muaknya pada ketidakhadiran keadilan.

Kematian Ulrike disambut demonstrasi mahasiswa Jerman di jalanan Berlin dengan satu suara “Ulrike Meinhof was murdered.” Jasadnya dikebumikan di antara ratusan mahasiswa penentang negara, akhir cerita yang enigmatik. Kematian adalah kemungkinan terakhir yang Ulrike lihat untuk tetap mempertahankan identitas revolusionernya, melawan kehancuran tekad yang terus menggerogoti akibat pengurungan sel pengasingan. Bagi mahasiswa Jerman di tahun tujuh puluhan, Ulrike Meinhof bukanlah seorang teroris, ia perempuan revolusioner.

Rifai Asyhari

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of

Send this to a friend