Pendidikan Bukan Bangku Sekolah

Lpmarena.com, Festival Film Dokumenter berlangsung di ruang seminar Taman Budaya Yogyakarta pada Jum’at (9/12). Ada enam judul film yang diputar dalam acara tersebut, antara lain: Karatagan Ciremai, Haruskah ke Negeri Lain?, Bangun Pemuda! Pemudi Sudah, Agnes Pewaris Budaya Dunia?, Miang Meng Jakarta, dan Bintang di Pelupuk Mata (Tak Tampak).

Usai pemutaran film ada tema besar yang diangkat menjadi diskusi, yaitu Yang Tidak Dibicarakan Saat Bicara Tentang Remaja Perempuan. Yang menjadi penanggap (narasumber) dalam diskusi adalah Ismi Rinjani dan Sri Wahyaningsih. Persoalan remaja perempuan menjadi hal dasar yang digali sepanjang diskusi.

Salah satu hal yang muncul ketika membicarakan remaja perempuan adalah terkait pendidikan. Ismi Rinjani yang juga seorang penulis, menuturkan satu pengalaman hidupnya mengenai pendidikan. Selepas SMA ayahnya tidak memperbolehkan ia kuliah. Bagi ayah Ismi, kuliah hanya akan menumpuk sampah-sampah di kepala. Ia dianjurkan untuk belajar dengan berkeiling Indonesia. “Keluar SMA ke Bali 10 hari, setelah pulang dibahas apa yang dipelajari selama 10 hari,” tutur Ismi.

Sri Wahyaningsih, seorang pendidik dan pendiri Sanggar Anak Alam, menuturkan bahwa guru yang utama dari rema perempuan saat ini adalah internet, fesbuk, dan media sosial lain. “Seperti di film tadi itu kan dia dapat info dari media sosial,” kata Sri.

Sri membedakan antara sekolah dan pendidikan. Bagi Sri, sekolah sudah seperti Tuhan, bisa menentukan nasib manusia. Seolah-olah hidup ini bilebih baik dengan bersekolah. Padahal pendidikan itu bukan hanya wajib belajar sembilan tahun, melain wajib belajar seumur hidup. Dengan kata lain, pendidikan bukan hanya bisa didapatkan di bangku sekolah. “Di Finlandia ada wacana akan menghilangkan mata pelajaran, tapi akan diganti dengan belajar apa yang murid senangi dan inginkan,” katanya.

Baca juga  Siti: Persoalan-Persoalan Hidup yang Asu

Ismi juga mengatakan jika bangku sekola tak memberinya apa-apa. Ketika keluar dari bangku SMA, ia mulai membaca buku-buku dan merasa jika sejarah yang ia pelajari di bangku sekolah ternyata salah. Maka, Ismi menjadi semakin tidak percaya dengan bangku sekolah atau bangku kuliah. Ia memilih belajar dengan keluar masuk hutan bersama ayah dan adik-adiknya, atau berkeliling Indonesia bertemu orang-orang dari berbagai suku. “Sejarah yang nyata itu beda banget dengan yang dibuat penguasa, sejarah kan dibuat penguasa,” pungkas Ismi.

Reporter: Nurul Ilmi

Redaktur: Isma Swastiningrum

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of