Widji Thukul yang Memimpin Kesadaran

Widji Thukul yang Memimpin Kesadaran

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Lpmarena.com –  “Istirahatlah Kata-Kata” menjadi film pembuka tahun 2017 yang banyak menyita perhatian para aktivis. Sebab film tersebut mengangkat kembali isu-isu tentang Hak Asasi Manusia, manusia-manusia yang sengaja ‘dihilangkan’ dalam sejarah, salah satunya adalah Widji Thukul.

Merespon isu naiknya kembali perjuangan Widji Thukul, Kongres Politik Organisasi Perjuangan Rakyat Pekerja (KPO-PRP) Yogyakarta mengadakan diskusi umum bertema “Widji Thukul dan Perjuangan Melawan Orde Baru”. Diskusi dilaksanakan di Angkringan Jaran, Ring Road Utara No. 4 Sawit Sari Yogyakarta, Selasa (24/1). Menghadirkan pemantik kawan seperjuangan Widji Thukul bernama Hamcrut.

Hamcrut mengenal Widji Thukul pada tahun 1989 ketika dirinya tengah berstatus sebagai mahasiswa Filsafat UGM. Saat itu Hamcrut mengenal Wijdi Thukul sebagai sosok yang unik, yang memiliki kesadaran lebih. Awal Hamcrut bertemu secara fisik, Widji Thukul  adalah orang yang memiliki tubuh kurus, jelek, dan dalam bahasa Jawa secara fisik wonge ra mbejaji (orangnya tidak berharga). Meski begitu, wajahnya memiliki ciri khas sendiri yang ketika bertemu langsung bisa ingat ini namanya Widji Thukul. “Wajahnya khas, karakternya kuat.”

Di tahun 1990-an, Thukul dan Hamcrut terlibat dalam organisasi dan kerja-kerja bersama. Kelompok-kelompok mahasiswa, buruh, dan tani saling mengumpulkan gerakan melawan represifitas Orde Baru. Thukul menjadi bagian dari kelompok yang menggerakkan massa melalu jalur kesenian, yakni teater dan sastra yang lugas. Saat penyair saat itu memakai diksi bunga-bunga, Thukul memilih berbeda. “Sangat lugas dan itu membuat saya kagum,” kata Hamcrut. Juga, selain seorang pembaca yang baik, Thukul juga merupakan orang yang cermat dan detail dalam berbagai hal.

Thukul juga aktif di teater. Nama “Thukul” sendiri merupakan nama pemberian yang didapatnya dari Teater Jagat Solo. Thukul menjadikan teater sebagai alat untuk mengorganisir buruh dengan teater pembebasan yang ia hadirkan. Di sana Thukul berbicara mengenai kesadaran kelas, penindasan, dan hak-hak dengan bahasa yang sederhana. Semisal di teater ada yang berperan sebagai mandor/bos, kemudian Thukul memberikan analisa-analisa. Salah satu keberhasilan Thukul, di akhir 1995 dia mampu mengorganisir pemogokan ribuan buruh PT Sritex Surakarta, yang membuat dirinya nyaris buta karena kekerasan yang dilakukan aparat.

Baca juga  Selamat Jalan Pencipta Hymne UIN Suka

Di zaman Orde Baru ketika kesadaran untuk selalu “waspada” harus ada dalam otak. Di film Istirahatlah Kata-Kata digambarkan sosok Thukul yang irit kata-kata. Ini menurut Hamcrut menjadi sesuatu yang wajar sebab di masa Orde Baru, kondisinya sedang diburu dan mau dibunuh. Thukul juga memiliki strategi-strategi sendiri agar bisa lari. Salah satunya jika kita sedang diburu, jangan pernah sendirian, cari keramaian agar ketika ditangkap ada saksi yang melihat.

Tia peserta diskusi memberikan komentar, sosok Thukul merupakan panutan yang patut ditiru perjuangannya. Thukul bisa membangkitkan semangat ketika semua orang lapar dan tak punya uang. “Dia orang biasa, tapi mampu menjadi pemimpin kesadaran,” ujarnya.

Reporter: Isma Swastiningrum

Redaktur   : Wulan 

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of