SELAMAT JALAN, PATMI
I
teruntuk, Patmi
ku petir gitar tasbih
satu per-satu dari bulir kemerahan
perlahan memanjang
mengitari jemari pergelangan
senandung dzikir melepuh
mengurai diri sesekali
pada untaian terakhir sebelum kembali
II
kau kembali
selepas lelah berjuang
berjalan kaki
menolak kezaliman penguasa
kau kembali
setelah lama bercerita
pada burung, batu, angin
dan bumi
tentang perlawanan
bahwa tidak ada keadilan yang sesungguhnya
tidak ada keadilan terlahir dari manusia yang serakah
kau kembali
tinggalkan bara
alirkan pada nadi anak cucumu
selamat jalan pejuang
Yogyakarta, 21 Maret 2017
PUISI BERDUKA
puisi, aku merayakanmu bersama duka
lelagu Kendeng, Patmi dan segala
yang tersisa dari kemanusiaan
menjadi nyanyian kebesaranmu
hari ini
sajak-sajak lepas
dari bait dan larik
berlari, yang tertinggal hanya luka
dan cerita tanpa arah
aku berpuisi, menanyai siapa
yang tersisa dari plakat keindahan kata
barang kali masih ada
Yogyakarta, 21 Maret 2017
KEMBALI
I
apa kau benar-benar mati
kemanusian,
apa kau benar-benar mati(!)
dalam diri yang telah mati itu
II
langit membisu di ketinggian pilu
setiba kau berhalakan diri
perlahan tumpah kelu
pilu berkepanjangan memakmumi Izroil
tak sudi pejuang gugur
dari medan tempur
ia berbisik pada yang hilang
berharap sepotong angin mengindah
setiap lirik petuah
lelagu daun gugur
:ia tidak pergi
ia hanya kembali
menemui kedamaian
menjemput serunai Tuhan
yang hilang dari mellinium masa
lantaran manusia abai pada sesama
III
di kejauhan
laut dari negeri dongeng
menitah tak keruan
pada yang berhidup
menindih segala yang hilir
menyapu buih di seberang bibir
agar lekas kembali
tak ada lagi ombak
gelombang
lokan
dan kehidupan yang mesti ditampakkan
tak ada lagi lempar sauh
karang
rumput laut
dan kehidupan yang mesti diperlihatkan
semua harus kembali
kembali pada yang purba
Yogyakarta, 21 Maret 2017
RODIYANTO. Lahir di Sumenep, pengagum mereka yang melawan dan berjuang.
Ilustrasi: http://cdn1-a.production.images.static6.com