Absennya Kemajuan pada Gerakan Perempuan

Lpmarena.com- “Jika berbicara gerakan perempuan kontemporer seperti sekarang ini, kita tidak terlepas dari sejarah awal kemunculannya, yaitu abad ke-18 dimana perempuan Amerika turun ke jalan. Saat itu masih didominasi oleh kulit putih,” ujar Fullah Jumaynah dari Komite Perjuangan Perempuan di awal pembukaan diskusi yang bertema “Api Kartini dan Gerakan Perempuan Indonesia Kontemporer” yang diselenggarakan MAP Corner-Klub MKP, di gedung Magister Administrasi UGM, Selasa (18/04).

Dalam pemaparannya tersebut, Fullah merefleksikan dengan gerakan perempuan kontemporer. Ia merasa era kontemporer seperti sekarang ini belum ada gerakan perempuan yang ia jumpai selain Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani). Gerakan yang pada saat itu dianggap Orde Baru begitu progresif.

“Hingga sekarang, menurut saya belum ada gerakan perempuan. Saya belum menemui gerakan perempuan. Yang ada hanya lingkaran studi soal perempuan dan NGO tentang perempuan,” Fullah menegaskan.

Fullah juga menuturkan bahwa Non Government Organisation­ (NGO) yang merebak di Indonesia ini bukan memperkuat wilayah gerakan perempuan, justru semakin memperlemahnya. “NGO yang ada sekarang malah hanya memperlemah gerakan perempuan, sebab orientasi mereka adalah memperkaya dirinya sendiri dengan memperlihatkan permasalahan-permasalahan perempuan pada lembaga donor,” jelasnya.

Menurut Fullah, absennya kemajuan pada gerakan perempuan karena mereka bergerak hanya fokus di wilayah elitisitas, yaitu di bidang politik. Mengisi kursi 30 persen yang telah disediakan oleh pemerintah, sehingga lupa tidak bergerak di wilayah akar rumput.

Jika dibandingkan dengan Gerwani, hingga sekarang masih banyak dijumpai sekolah-sekolah yang didirikan oleh Gerwani. Sekolah tersebut hanya untuk mereka kaum menengah ke bawah. Gagasan tentang pendidikanlah yang dirasa Fullah yang telah dicetuskan oleh Kartini hingga sekarang idenya dirasa masih relevan.

Baca juga  Pemilwa: Waspadai Oligarki Politik Orba

Menanggapi hal tersebut Ana Meriana peneliti Etnohistori yang juga menjadi narasumber memaparkan keadaan sekarang ini. Ia melihat hari Kartini sekarang ini hanya sebuah peringatan pada wilayah kebaya dan konde.

“Saya pernah meminta di sekolah untuk peringatan hari Kartini itu tidak berhenti di persoalan kebaya saja. Tetapi ditambah lomba menulis karya ilmiah, artikel maupun puisi. Soalnya Kartini identik dengan pemikirannya, bukan kebayanya,” jelas Ana.

Ana memaklumi jika Kartini diidentikkan dengan perempuan anggun, berkonde dan berkebaya, sebab foto yang sering ditunjukkan di khalayak adalah foto Kartini ketika dipingit sedang menunggu waktu pernikahannya. “Padahal Kartini itu sama dengan kita, main sama temen-temnnya, tertawa hingga terlihat giginya,” paparnya.

Dengan citra yang ditunjukkan di foto Kartini tersebut, Ana menambahkan bahwa foto Kartini dimanfaatkan oleh Soeharto pada zaman Orde Baru untuk menunjukkan perempuan ideal itu adalah Kartini. Dengan mengenakan sanggul, kebaya, masak, sehingga dibentuklah organisasi seperti PKK.

“PKK ini model kulturalnya adalah budaya nrimo, perempuan yang memiliki peran ganda (konco wingking) dan penjaga kodrat perempuan. Dimana dalam program PKK sendiri adalah antitesis dengan Api Kartini,” ujar Ana.

“Kartini milik semua kalangan. Sehingga wajar jika Kartini dicuplik sesuai keinginan mereka, seperti Soeharto waktu mencuplik foto Kartini yang digambarkan perempuan ideal,” sambungnya.

Reporter: Anis Nadhiroh

Redaktur: Wulan

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of