1453 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Oleh: Sidra Muntaha

Lpmarena.com- Hampir di tiap diskusi, sering saya dengar pertanyaan yang berulang-ulang dilemparkan,  “Peran mahasiswa apa?”

Diskusi apapun. Sehingga muncullah peran-peran mahasiswa di setiap lini. Peran mahasiswa di era 4.0; peran mahasiswa di zaman post-truth; peran mahasiswa di alam barzakh. Peran mahasiswa, dalam imajinasi kebanyakan orang, nyaris seperti Tuhan.

Dan teman saya di salah satu diskusi bertanya sinis, “kenapa peran mahasiswa yang harus selalu ditanya?”

“Memangnya Bung percaya dengan birokrat?” balas peserta diskusi lain

“Hla, kamu percaya sama mahasiswa?”

Di kampus, saya percaya mahasiswa adalah kelas yang punya potensi membawa perubahan radikal. Birokrasi tidak usah ditanya. Ia memiliki segala akses dan akan selalu memilih menjaga stabilitas dibanding transformasi ke arah kebaikan bersama. Maka pihak yang kedua berada di rantai makanan paling aman, sementara pihak pertama seringkali hanya jadi “tikus sawah”.

Sementara itu, para penghuni luar universitas, “masyarakat awam” umumnya percaya bahwa kampus adalah tempat produksi pengetahuan. Selain berpendidikan, orang-orang kampus sering muncul dengan kisah inspiratif.

Beberapa dari orang kampus dengan ekonomi merangkak lazim memeras keringat untuk membiayai kuliah; sebagiannya mengajar tak kenal waktu meski muridnya bolos demo; sisanya, populasi paling kecil, punya prestasi gemilang di kancah keilmuan dan politik akademik. Cerita itu nyata, tapi tak seindah yang diketahui khalayak.

“Ada yang menjadi politikus sejak muda,” kata seorang kawan. “Lalu meraup omzet di atas rata-rata dari anggaran seminar. Sekali main ke sini dia bawa rokok dua bungkus,”

Mereka adalah mahasiswa yang menjadi penderma setelah menaiki tampuk kekuasaan. Tapi ongkos politiknya ternyata cukup mahal: konflik horizontal

Premanisme Pemilwa

Ian Wilson, dalam bukunya Politik Jatah Preman, berkata bahwa preman punya peran yang kuat dalam kontestasi politik. Sejak Orde Baru, preman berbaju ormas atau paramiliter dipakai untuk menjaga status-quo Suharto. Reformasi pecah, lantas paramiliter menjadi preman freelance. Paramiliter tak menjauh dari politik, tapi kini ia bisa diperalat siapa saja yang mau jadi pejabat lewat jalur baku hantam.

Itu salah satu dari sekian banyak kebobrokan politik nasional. Hal-hal lain ialah politik uang, parpol tanpa nilai ideologis dan semacamnya. Seakan demokrasi hanya berbicara tentang perebutan kekuasaan. Yang tak memegang kendali pemerintah, dalam hal ini rakyat biasa, tidak perlu bertitah apa-apa. “Seolah-olah demokrasi,” kata Ajid FM, di opini yang terbit sebelumnya.

Sementara itu, saya melihat “demokrasi” skala kampus yang tak jauh berbeda dengan nasional. Keduanya seperti ayah dan anak. Betul memang kata pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya.

Bila Pemilihan Mahasiswa (Pemilwa) memang cerminan Pemilihan Umum (Pemilu), maka budaya premanisme yang tetap dijaga pasca reformasi mungkin lahir dari rahim politik kampus pula.

Ini sekadar dugaan. Meskipun penggunaan preman memang tidak begitu mewujud di kampus, tapi seluruh peserta Pemilwa nyatanya gembira mengintimidasi, melakukan kekerasan fisik, verbal maupun simbolik satu sama lain.

Beberapa hari sebelum pemilihan calon presiden mahasiswa, tepatnya kampanye dialogis, ada ribut-ribut terkait ruang kampanye ber-AC yang dikebul asap rokok. Sebentuk intimidasi simbolik antar satu geng pada geng lain.

Saya bukan pembenci rokok. Kalau pejabat kampus menawari saya rokok dua bungkus, dengan senang hati akan saya terima. Masalahnya, merokok di ruang kampanye melanggar tata tertib. Ditambah lagi sorak-menyorak seperti teriakan takbir sumbang yang saling beradu lewat toa-toa.

Orang-orang itu sedang apa? Pikir saya dan beberapa kawan. Dari tahun ke tahun selalu terulang kejadian yang sama.

Di kampanye dialogis tahun lalu saya melihat segerombolan orang gondrong bercelana pendek datang dari Gedung Rektorat ke Convention Hall, tempat kampanye berlangsung, sambil menyembul asap rokok.

Tahun sebelum-sebelumnya lagi seorang kawan tua bercerita, pemenang Pemilwa melakukan parade kemenangan dengan lagak yang sejenis: Sekumpulan mahasiswa berambut panjang bertelanjang dada keliling kampus, bernyanyi dan meneriakkan yel-yel.  

Lalu di tahun 2005 lebih brutal lagi, sekretariat LPM Arena dihancurkan dan motor salah satu anggota dibakar.

Mungkin kita bisa bernapas lega karena kekerasan dan premanisme kampus kini tidak semengerikan dulu. Mahasiswa-mahasiswa itu hanya melanggar tata tertib kampanye dialogis. Senior-seniornya pun mungkin akan tertawa kecut sambil berkata, “kita dulu lebih ekstrem daripada itu, Bung!”

Namun, konflik horizontal tetap terjaga. Asap rokok itu akan terus dicatat oleh geng lain. Dan geng pengepul asap itu juga akan terus menjaga kekuasaan dengan intimidasi, sehalus apapun caranya.

Ini bukan hanya tentang asap rokok. Semua peserta Pemilwa, baik yang menyulut api, menyiram bensin dan mengipas asap turut melanggengkan konflik yang tidak berarti sama sekali.

Keadaan perpolitikan kampus pun tidak akan berubah sampai seluruh sivitas akademika mati keracunan tempe bongkrek.

Kembali ke soal kelas yang saya sampaikan di awal tulisan. Saya percaya mahasiswa adalah kelas yang punya potensi perubahan radikal di kampus. Tapi, konflik horizontal ini tak berbuah apa-apa. Hanya membuat status-quo aman dan nyaman. Saya tak bilang kalian mesti bersatu. Itu adalah pilihan paling naif.

Dalam kontestasi Pemilwa, ada baiknya setiap pihak mulai berpikir tentang nilai dan falsafah politik. Untuk apa berpolitik? Untuk apa berkuasa?

Kalau itu tidak dipikirkan, saya takut konflik Pemilwa begitu-begitu saja. Semua peserta pemilwa hanya bisa menanam dan menjaga kebencian. Sebab, yang dipikirkan hanya perebutan kekuasaan. Lalu premanisme politik akan dibawa hingga skala nasional nanti. Sementara itu, kita semua tahu, Pemilwa fana belaka. Dendam abadi.

*Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam

Ilustrasi: Firdan HK