Puisi-Puisi Khoirul Anam: Nyanyi Sunyi Petani

NYANYI SUNYI PETANI   Namamu kian dibabat di negeri ini Atas nama kemodernan peradaban kini Lahanmu dibeli dengan harga yang tidak tinggi Engkau melawan, maka kudu siap dikebiri   Di sinilah letak negeri haha-hihi Pagi bilang tempe sorenya beda lagi Sejengkal tanah yang diklaim sepenggal surga ini Cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh manusia tapi ingat, tidak untuk kerakusannya   Apakah mereka lupa? Sebagian Eropa dibangun dari tanah pertiwi Melalui rempah-rempah dan hasil bumi   Kepadamu, Petani Namamu kian abdi Dengan menggenggam pacul memanggul mentari Namamu kain wangi Dengan berontak lawan…

Read More

Tiga Sajak Pencarian

Mlintir Kahanan Aku adalah jilmaan kebodohan yang mencoba melawan, bergantung, dan melepaskan. Atas kuasa besar yang membentukku penuh ke Agungan, hikmah, dan kebijaksanaan. Aku adalah halusinasi sebuah kemegahan yang mencoba keluar dari kebrutalan zaman. Aku adalah cerminan keadaan yang memeristiwa, menyejarah, dan menggila. Syuhada, 07/11/2017   Menafikan Kesadaran Imaji yang terfanakan memaksa untuk hidup dalam kefatamorganaan. Mendholimi diri hanya sekedar eksis dan melanggengkan kekuasaan. Menipu segala kehinaan dengan mutiara-mutiara kebahagiaan. Syuhada, 09/10/2017   Abu yang Ingkari Kayu Aku adalah hamparan abu yang tercipta dari kayu yang gagah menjulang. Yang kuasa…

Read More

HANTU TING-TING

Oleh : Hari Taqwan Santoso* “Hantu Ting-ting?” tanyanya tak percaya. Ia yang seorang pendatang itu lebih banyak mendengarkan ketika orang-orang membicarakan hantu. Kita ini hidup di zaman apa sih? Ini milenium ketiga. Hantu dan hal-hal mistis lainnya adalah pembicaraan yang cocok dibicarakan abad pertengahan atau lebih kuno dari itu, yaitu ketika pengetahuan ilmiah masih sangat terbatas dan menjadi milik segelintir orang saja. Artinya, itu adalah masa ketika jumlah orang yang sok tahu jauh lebih banyak daripada orang yang benar-benar tahu. Sekarang zaman sudah berubah, banyak orang pandai, sarjana berjumlah puluhan…

Read More

Puisi- Puisi Rodiyanto: Sajak Petani

SAJAK PETANI I   Parau subuh di corong surau Petanda petaniku berlari santai memaku jalan setapak Mengeja kerikil dari gelombang pagi yang tak sampai Barangkali lolongan sang jantan berbuah sesuap Mengilhami anak bini kala lelap Kerikil berdzikir Memutar tasbih sajak tani Semenjak Mikail kembali pada tuhannya, Di ufuk jarak Tinggallah ia sepeninggal jejak Menyambung lelaku sawah, padi, dan anyaman kerak Tunai pada irigasi mata air :air matamu Sawah menyisa cerita Sesubur rahimmu seabad lampau Tertimbun tikus semesta   Yogyakarta, 5 September 2017   AKU TAK AKAN MATI   Demi waktu…

Read More

PUISI-PUISI Muhamad Kusuma Gotansyah: Enam Larik Sebelum Semesta Salah Sangka

JADI IKLAN sudah wanti-wanti kubilang, kalau kau keluar rumah jangan sampai jadi iklan. lihat aku disini, gelisah sambil perlahan menjelma kunci duplikat tetangga sebelah. apakah kau masih ingat rasa makan nasi? apakah iklan makan nasi? sudah nyasar kemana sajakah tubuhmu? papan reklame? televisi? majalah? koran? tiang listrik? pamflet? surat? pop-up? kaleng susu? kuburan? sudahkah kau berjumpa dengan karikatur presiden? karikaturku? pernah kucoba cari dirimu di toko baju atau di pasar buah atau di lembaran buku cerpen gagal terbit, tetapi kau hilang jadi serpih, yang pedih dan sedih dan jadi iklan.…

Read More

Lali Ta : Sekelebat Banaspati yang Menyala Hebat

Oleh: Eko Nurwahyudin* Sebuah hadiah kemerdekaan untuk kita yang lalai, bahkan abai Kegilaan itu, mulanya hanya sesuatu seukuran tai kambing menjijikkan. Bentuknya yang bulat, padat, keras, dan berwarna hitam legam menempel di atas tempayan yang baru selesai kubuat. Tak peduli aku mulanya. Tapi, semenjak sepuluh kali panen padi, aku amati kegilaan itu hampir menutupi sepertiga bibir tempayan. Membesar dan terus membesar tiap harinya, sama seperti hasratku memusnahkannya! Berbagai alat sudah aku pakai guna melenyapkannya, dari mulai pakai pisau dapur sampai pakai linggis. Pun berbagai cara sudah aku coba, dari mulai membelahnya…

Read More

Puisi Eko Nurwahyudin: Taman Firdaus Di Jantung Labirin Kesunyian Sepasang Matamu

Kutatap sepasang matamu Tidak ada Soekarno yang geram menantang Amerika dan konco-konconya Tidak ada Konsensus Washington dan agenda neoliberal bagi negara berkembang Tidak ada kudeta dengan penerbitan empat UU yang menjadi pintu masuk penjajahan kembali dan genosida enam lima Tidak ada rezim Otoriter Fasis Orde Baru Tidak ada Manikebu yang mengering di Utan Kayu Tidak ada Lekra yang mengerang di Pulau Buru   Kutatap lebih dalam matamu Tidak ada Koperasi yang dipolitisasi Tidak ada BUMN yang diprivatisasi dan dijadikan alat segelintir elit pemerintah dan investor asing guna memperkaya diri Tidak…

Read More

Puisi-puisi Muhamad Kusuma Gotansyah: Alegori Kematian dalam ‘The Firebird Suite’

ALEGORI KEMATIAN DALAM ‘THE FIREBIRD SUITE’   Semua orang gemar menebak makna lagu yang mereka dengar Juga gemar menghubungkannya dengan diri mereka Kadang interpretasi berubah individualistis Dan lagu terbiar tanpa makna   Namun aku juga kerap bercermin pada lagu Mencari-cari tanpa lampu di sebuah ruang gelap Seperti mencari-cari kenangan di masa depan Dan lagu menjadi sepi seperti jantung kakek di desa   Ketika lagu dicipta, kadang tidak ada makna yang dituangkan Mungkin Stravinsky hanya mabuk saat mencipta sesuatu Lalu kita menuding lagu dengan angkuh Dan tinta di atas partitur luntur…

Read More

Tentangmu yang Kulebih-Lebihkan

Oleh: Eko Nurwahyudin* Bisa jadi ketika aku menulis tentangmu, semua kejadian akan kulebih-lebihkan. Bukan lantaran aku mengamini cinta yang punya makna itu cuma cinta pertama yang saban hari ditayangkan televisi. Tentang masa dimana dua manusia memainkan peran kehidupan utopis. Masa dua manusia saling mendongkel makna pada rembulan yang sedang purnama, atau gugusan bintang yang melangit, dan sekehendak hatinya memenggal lembayung senja dari rantai waktu yang pasti mendatangkan gulita dan kesunyian. Dan kesemuanya itu yang berbau keindahan berakhir pada gombalan yang merekahkan senyum kecil. Ya, lakon cinta yang demikian itu cenderung mencabut…

Read More

Puisi-puisi Risen Dhawuh Abdullah: Pengemis di Petigaan

Pengemis di Pertigaan   di persimpangan ini ia bertalu-talu menyanyikan irama sendu dan rindu bertamu pada kekosongan yang terbangun di jiwanya sendiri   menjala lautan, ikan-ikan besi beterbangan ke sana dan ke mari matanya terpaksa ditarungkan dengan asa-asa yang mengapur dan menghambur   bengis bukan alasan untuk merintih ia berpikir berhenti berjalan berarti mati   waktu benar-benar memilikinya sepenuhnya tanpa secuil pun kata tersisa   Kompensasi, 7 Mei 2017     Sajadah   alas ampunan ini tak pernah ternaungi awan tapi sangat bersahabat dengan yang namanya kemungkinan   di atasmu,…

Read More